Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 114


__ADS_3


Sudah 2 jam sejak Diego duduk di samping Aishe. Tangannya terlihat menggenggam jemari sang kekasih. Sesekali menyeka matanya yang sedikit basah sambil menunggu dia bangun.


"Kenapa kau menangis?" suara Aishe terdengar lirih, sampai di telinga Diego.


Kedua mata itu perlahan terbuka, dan langsung memandang seorang pria yang sejak tadi duduk di samping ranjangnya.


"Hanya berpikir, apa yang membuatmu tidur sangat lama dan membiarkan aku terus khawatir." Diego bangkit berdiri, lalu menuangkan segelas air hangat.


"Aku hanya berpikir …." Aishe mengusap perutnya, lalu menoleh melihat jendela yang tirainya tersibak sedikit. "Tentang nasib anak ini."


Air di dalam gelas belum terisi penuh, tapi Diego sudah meletakkan teko berisi air hangat itu kembali. Ucapan Aishe memang sedikit mengusiknya batin dan pikirannya, terlebih-lebih, yang di dalam perut Aishe tidak lain juga darah dagingnya.


Di Turki, anak-anak yang lahir tanpa ikatan pernikahan akan kesulitan mendapatkan pendidikan, ataupun pengakuan dalam hal apapun. Mereka akan masuk dalam kelompok manusia 'Cacat Status' yang pada akhirnya diasingkan.


Namun meski sudah mengalami banyak perubahan, tapi pemikiran seperti itu masih ada di hati masyarakatnya. Tidak sedikit dari mereka yang akan tetap memandang rendah, anak-anak yang lahir diluar pernikahan.


Namun, hal yang tidak Aishe pikirkan adalah persiapan matang dari Diego.


Pria itu sempat menghela napas panjang, sebelum akhirnya membantu Aishe mengangkat sedikit punggungnya. "Kamu memikirkan banyak hal, Sayang." Diego menyodorkan segelas air, yang langsung di terima Aishe.


Namun gadis itu menahan gelas itu di tangan dan tidak kunjung meminumnya, padahal kerongkongannya benar-benar kering pada saat ini. Kabar adanya jadin diperut sepertinya tidak membuat dia senang.


"Minumlah sedikit." Pinta Diego dengan lembut, tetapi Aishe justru melihat pinggiran gelas yang tiba-tiba berubah tajam, ingin menyayat bibirnya.


"Sayang, minumlah, hangatkan perutmu!" Perkataan Diego tiba-tiba membuyarkan imajinasi singkatnya, dan membuat ia menengadah sedikit memandangi wajah Diego. Sebelum akhirnya meminum sedikit air yang ada di gelas.


Setelah melihat Aishe minum, barulah Diego mengambil sebuah map putih dan memberikannya pada Aishe.


"Apa ini?" tanya Aishe menengadah, melihat Diego berdiri dengan wajah serius.

__ADS_1


"Buka saja dan bacalah." Diego mengambil gelas yang dipegang Aishe, agar memudahkan kekasihnya membuka map.


Sebuah map putih sedikit tebal, dibuka perlahan oleh Aishe. Die merogoh dalamnya, lalu mengeluarkan banyak dokumen dari sana. Salah satu yang keluar dari dalam adalah tanda pengenal, yang tertulis sebuah nama.


'Ishe Zevim Ibran'


Bukan hanya tanda pengenal, namun juga ada surat adopsi dan juga surat pernikahan dari kantor catatan sipil.


"A-apa maksudnya ini, Die?" Bukan hanya nada bicaranya yang terdengar sedikit bergetar, tapi tangannya pun ikut bergetar setelah membaca beberapa berkas yang di sodorkan Diego.


"Yang sudah mati tidak bisa dibangkitkan lagi, Ishe. Nama Aishe sudah lama mati, bahkan dunia tidak mengingatnya. Karena itu, aku membuatkanmu satu identitas baru." Diego kembali duduk di kursi dan memandang wajah Aishe.


"Tapi Turki bukan negara yang mudah, jadi aku perlu membawa nama Paman Mustafa dalam hal ini. Sehingga menjadikan dia sebagai ayah angkat mu agar segalanya menjadi mudah."


Aishe terdiam, ia terlihat serius memandangi beberapa dokumen yang terlampir disana. Ada banyak hal yang ingin dia tanyakan pada Diego, tetapi hanya satu yang berhasil lolos dari mulutnya.


"Kapan kau mengurus semua ini?"


Nyess …


Hati dan pikiran yang semula panas, tiba-tiba mendapat semilir udara dingin. Semua benar-benar di luar pemikiran Aishe.


"Lalu, pernikahan ini?"


"Setelah berkas kependudukan milikmu selesai, aku langsung mendaftarkannya ke dinas catatan sipil."


Dalam hati Aishe ada sebuah letupan-letupan kecil yang tidak terkira banyaknya, yang membuat dua sudut bibirnya sedikit terangkat.


"Jadi yang dimaksud kakek tadi …."


"Namanya paman Mustafa Ibran. Aku meminjam nama dia untuk menjadi ayah angkatmu agar bisa menyerahkan berkas pendaftaran pernikahan kita. Aku hanya menanyakan caranya, dan … yeah, kamu bisa mendengarnya tadi."

__ADS_1


Entah kenapa, mata Aishe tiba-tiba berkaca-kaca mendengar ucapan Diego. Dia buru-buru mengelap matanya, tapi sayang, Diego lebih dulu mengetahui itu.


"Kenapa menangis? Apa perutmu sakit?" Diego buru-buru bangkit berdiri, mengusap sudut mata Aishe dengan lembut.


"Kenapa kamu begitu bodoh!" Aishe mendaratkan tinjunya di lengan Diego beberapa kali. "Tidak peka!" umpatnya sekali lagi, melepaskan perasaan jengkel dalam hatinya.


Diego hanya diam, menerima pukulan dari Aishe yang bahkan tak terasa sedikitpun. Sampai wanita itu lelah, dan memeluk tubuh Diego sambil terisak dan mengumpat. Namun tiba-tiba, Diego mengendorkan dekapannya, dan memangkas jarak sekelumit dengan bibirnya selama beberapa detik.


"Aku mencintaimu, Ishe."


"Aku tidak mau menerima omong kosongmu! Masih banyak pertanyaan yang akan aku tanyakan!" Aishe memanyunkan sedikit bibirnya.


"Baik, tanyakan saja … Istriku!"


Aahh …


Bagaimana amarahnya bisa utuh setelah mendengar panggilan terbarunya itu dari Diego? Seketika, hatinya luluh lantah hanya dalam hitungan detik. Perasaan jengkelnya itu lenyao begitu saja.


"Aku akan memikirkannya sambil tidur!" Aishe membetulkan posisinya, dan kembaki berbaring "Kemarilah, peluk aku!" Ia menepuk-nepuk sisi kanannya yang masih menyisakan sedikit tempat untuk Diego.


Pria bertubuh kekar itu tak menolak atau protes. Ia dengan senang hati berbaring di samping Aishe, kemudian memeluknya.


"Kamu harus mengganti brankar ini jika rusak, Die!" ucap Aishe yang sudah menutup matanya.


"Aku akan bilang pada Ashan untuk menyiapkan uangnya," jawabnya.


"Hemgh! Bagus kalau begitu! Ingat, ada banyak pertanyaan yang akan aku tanyakan setelah bangun! Kau jangan pergi kemana-mana, tetaplah memelukku!"



Mayoritas agama di turki hampir 90% Muslim, tapi disini Othor tidak menyangkutkan dengan satu agama pun untuk para tokoh, agar tidak merusak atau mencoreng hukum yang ada. So .... pernikahan mereka sebatas pendaftaran nikah di catatan sipil. Soal gimana nantinya .... tetep ikutin aja. 💋💋💋

__ADS_1


Secangkir kupi dan setangkai kembang, kayaknya cocok buat merayakan terungkapnya status pernikahan mereka ya. Yuk cherss dulu pake kopi 🤭


__ADS_2