
Udara di luar masih cukup dingin, meski salju tak lagi turun memenuhi jalanan juga atap-atap rumah. Beberapa sungai yang sempat membeku juga sudah mencair perlahan. Nampaknya, musim dingin akan segera berakhir.
Aishe menghela napas panjang. Sorot matanya fokus melihat makanan yang ada di hadapannya itu sudah perlahan mendingin. Pembahasan tentang kedua orang tuanya, kembali membawa duka yang sudah lama ia kubur.
Mereka bukan keluarga kaya dengan banyak harta, bisa makan hari itu saja sudah cukup bagi keluarga kecil Aishe. Namun malang menjadi nasib mereka, Ibu Aishe harus menderita sakit parah, dan kehilangan nyawanya pada saat Aishe masih berumur 11 tahun.
Setelah kehilangan sang ibu, Aishe kecil juga harus merasakan kehilangan sang ayah lantaran depresi dan berakhir dengan cara menggantung diri. Pada saat itulah, Aishe menemukan jasad sang ayah menggantung di pintu kamar mandi.
Masyarakat Turki kuno yakin, bunuh diri menjadi hal yang akan membawa dampak buruk bagi keluarga yang lain, karena itulah, Aishe menyembunyikan fakta ini rapat-rapat dan terus mengingat bahwa ayahnya sudah meninggal sejak dia kecil.
"Makanannya sudah dingin. Kamu tidak berselera, Sayang?"
Suara Diego terdengar begitu lembut, masuk ke dalam telinga, menyadarkan lamunan singkatnya. Aishe menengadah, menatap wajah Diego lalu tersenyum.
"Aku memakannya," jawab Aishe yang kemudian mengambil sendok dan mulai memakan semua hidangan yang ada di hadapannya dengan lahap.
"Kamu mau mengunjungi mereka, Sayang?" Ajakan Diego yang tiba-tiba membuat Aishe menghentikan kunyahan di dalam mulutnya dan kembali memandang Diego.
"Entah kapan terakhir kali aku mengunjungi mereka. Aku pun lupa posisi makam mereka di sebelah mana." Aishe kembali tertunduk, melanjutkan makannya seakan tidak peduli.
__ADS_1
Namun dari balik sikap acuhnya, ada hati yang teriris, dan mata yang mencoba bertahan agar air tak menetes di tengah rasa pedih yang menerpa.
Diego menyibak helaian rambut yang menutupi kening Aishe. Gerakannya begitu lembut, seakan tubuh kekasihnya sebuah porselen keramik yang cukup mahal.
"Ayo mengunjungi mereka. Setidaknya, aku perlu menyapa kedua mertuaku."
Aishe yang sejak tadi menunduk dan fokus makan, justru langsung menegakkan kepalanya setelah mendengar ajakan Diego. "Jangan bercanda, Die!" ucap Aishe ragu dengan ucapan sang suami.
"Tidak. Setelah tubuhmu lebih baik, kita akan mengunjungi mereka." Diego membelai pipi Aishe, seakan menyampaikan jika dirinya tidak masalah dengan kematian ayah mertuanya.
"Kamu … tidak malu? Dia bunuh diri, mengakhiri hidupnya dengan paksa."
Air mata yang sejak tadi ia tahan, pada akhirnya tumpah di hadapan Diego. Di bagian mana yang paling menyayat hatinya? Di bagian mana hal yang benar-benar membuatnya kecewa?
Diego menggeser Overbed Table ke samping, laku memeluk Aishe dan mengusap punggungnya dengan lembut. Seakan membantu sang istri melepaskan segala sesak yang mengganggu sejak tadi.
"Dia berpikir aku aman bersama dengan paman dan bibi. Dia pikir aku bahagia dan hidup terjamin. Dia begitu jahat, Die! Jahat …."
Ada deru tangis yang terdengar amat pilu. Bahkan siapapun yang kebetulan lewat dan mendengar tangis Aishe pasti bisa menebak seberapa besar rasa sedihnya.
__ADS_1
"Dia memilih pergi, meninggalkan aku ditengah badai salju. Aku bahkan harus menunggu dua hari sampai bisa keluar rumah meminta bantuan. Kau tau rasanya? Aku hanya 11 tahun, dan harus tinggal bersama dengan jasad ayah yang masih menggantung!"
Benar, dia hanya 11 tahun saat itu. Tepat 2 bulan setelah sang ibu meninggal akibat kanker, dan ayahnya menyusul dengan cara menggantung diri.
Dia hanya seorang anak perempuan, yang lemah dan rapuh. Namun karena badai salju yang menerjang kota pada tahun itu, ia harus tinggal bersama jasad ayahnya yang masih menggantung selama dua hari. Sampai badai berhenti, dan ia bisa memanggil tetangga.
Saat itu adalah akhir tahun tahun 2000. Teknologi belum secanggih seperti sekarang. Hanya ada telepon kabel, yang tidak semua orang memilikinya.
Diego sudah mencari tahu hal sejak mereka berada di Casme, tepat setelah ia membawa Aishe dengan tubuh kurusnya kekuar dari pulau. Karena alasan inilah, dia tidak keberatan ketika gadis itu berbohong akan kematian orang tuanya.
Harusnya aku tidak membahas ini, Ishe. Seharusnya aku tidak mengungkit luka lamamu.
Kebayang jadi Aishe? 2 hari liat ayahnya mengantung di depan kamar mandi karna gak bisa nurunin.
Ahh ... gak tau kenapa, nulis bab ini jadi agak mewek. Mungkin karna baru kehilangan kakak bulan kemaren, masih nyesek.
Tumben ye, othor melow.
__ADS_1
Dahlah, sajen jangan lupa. Seperti biasanya, kopi, kembang, hati, pisau ... aahhh Jempolnya goyang dulu.