Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 110


__ADS_3

"Eemm, aahh … Die, pelan sedikit, itu menyakitkan."


Lelungan dan rintihan Aishe menggema di seluruh sudut kamar dengan cahaya lampu temaram. Ia menggeliat, menggelinjang, kala tangan Diego menyusuri punggung putih mulusnya.


"Aahh … pelan sedikit, Sayang. Aahh … disitu, benar disitu. Ughh … enaknya." Derunya nyaring di telinga Diego yang sedang duduk di sampingnya.


"Aku hanya memijat pinggangmu, kenapa kau berteriak seolah-olah aku menodaimu dengan kasar?" Diego melepaskan tangan yang sejak tadi memberikan Aishe pijatan punggung.


"Ini juga ulahmu! Kenapa kamu menurunkan aku begitu kasar?" Aishe yang sedang tengkurap itu menoleh, menatap sinis wajah Diego yang justru kesal.


Berniat memberi Aishe sedikit hukuman, tetapi justru dirinya yang harus memijat punggung sang kekasih lantaran aksinya menurunkan Aishe ke atas ranjang dengan kasar. Imajinasi indah yang sempat membuatnya bahagia, tiba-tiba harus lenyap hanya dalam beberapa detik.


Ahh Diego, malangnya dirimu. Bukannya mendapatkan kesenangan dengan menghukumnya, justru sial!


"Kenapa berhenti, ayo pijat lagi!" Aishe kembali mendengus.


Sudah seperti ini, memangnya bisa apa lagi? Toh, ini juga akibat ulahnya sendiri yang tidak sabaran menghukum Aishe. Hingga akhirnya imajinasi itu tetap menjadi imajinasi belaka.


Diego kembali memijat Aishe, dengan lembut tanpa bisa protes. Sampai setidaknya satu jam, dan wanita itu terlelap dalam tidur nyenyaknya, barulah ia bernapas lega.


Ia perlahan bangkit dari ranjang, hendak mengganti baju. Namun tiba-tiba, tangannya di cekal hingga ia roboh di ranjang. Dengan satu gerakan, gadis itu telah berada di atas tubuh Diego.

__ADS_1


"Anda mau kemana, Tuan?" ucapnya dengan menunjukan wajah sensual sembari melepas satu persatu kancing kemeja Diego.


"Jadi, yang bermain sekarang siapa? Kucing liar, atau pencuri kecil?" Diego menyeringai, menatap Aishe seperti seekor kelinci yang sedang bermain di perut harimau.


"Sekarang? Hanya ada aku, Sang Penggoda!"


Aishe menyingkap tangannya ke belakang, melonggarkan sabuk dan melepas pengait celana. Lalu, dengan lembut memasukkan tangannya ke dalam. Akhirnya bertemulah ia dengan sesuatu yang lunak tak bertulang, yang mana semakin lama dia pegang justru bertambah besar dan kuat.


"Huufftt, kau yang menggodaku, Ishe." Diego meraih tubuh Aishe dan memindahkannya ke bawah kungkungannya. Lalu dengan cepat meraih bibir merah ranum yang sejak tadi terlihat cukup menggoda hasratnya.


Dua lidah saling bergelut, menikmati cecapan rasa manis yang memikat. Tidak hanya lidah yang bergulat, melainkan dua pasang tangan yabg juga sibuk melepaskan helai dengan helai kain yang membalut tubuh.


Dan entah sejak kapan kecepatan tangan mereka bertambah gesit, hanya dalam hitungan detik saja, semua kain yang melekat sudah berserakan di lantai.


"I'm coming, Baby!" Diego dengan cepat menarik selimut, menutupi setengah tubuh mereka.


Pertarungan sengit pun telah di mulai. Kini, Diego lah yang mengambil alih dari pertama sampai akhir seperti biasanya. Benar, ini terhitung sejak Aishe mengetahui kondisi kaki Diego yang sudah sembuh, sehingga ia tidak lagi berada di atas.


Aishe menautkan kedua tanganya di leher Diego, sesekali meremas rambutnya, tatkala serangan itu bertubi-tubi menghantam bagian ter sensitifnya.


"Die, aahh!"

__ADS_1


"Sstt, Ishe …. seni seviyorum bebeğim!" (Aku menyayangimu, Sayang) Diego meraih kemucuk berwarna kemerahan yang beberapa kali bergesekan dengan dada bidangnya. Mengelusnya dengan lembut, sebelum akhirnya ia menyesapnya.


"Die … aahh … stop, Die! Perutku sakit!" Aishe tiba-tiba mendorong perut Diego, membuat pria itu dengan terpaksa melepaskan miliknya.


"Kenapa? Apa aku terlalu kuat?" tanya Diego membantu kekasihnya duduk.


"Entahlah, sebelumnya tidak masalah. Hanya saja kali ini …." Rasanya tidak biasa. Aishe memegangi perutnya yang tidak lagi merasa sakit.


"Kalau begitu bersihkan dan cepatlah tidur!" Diego beranjak bangkit, tetapi Aishe dengan cepat memegang tangannya. Melihat benda milik kekasihnya itu masih tegak berdiri dengan gagah, ia menjadi tidak enak hati.


"Tidak masalah. Hanya sedikit kram, mungkin karena tidak pemanasan," ucap Aishe mencoba menyakinkan Diegi agar mau mebyelesaikan urursannya.


Mungkin dia benar, aku terlalu bersemangat sampai lupa pemanasan. "Aku akan mencoba lebih lembut!"



Du adu adu .... si kumis lele yang ... hemmm.


Yang mau bawa pulang, tolong bawa tuperwere!!! Otjor kagak mau kalau bukan dari tuperwere 🤣🤣


jangan lupa, barter sama kopi atau kembang ya. Barang langka agak limited nii 🤭

__ADS_1


__ADS_2