Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 150


__ADS_3

Ashan hampir saja memenangkan lotre, tapi sayangnya, nomor terakhir hanya berbeda angka. Seperti itulah, hal yang baru saja dia alami. Baru saja dilambungkan ke atas awan, tapi belum sampai di atas sudah jatuh lebih dulu.


Kesal, tentu saja, itu tergambar jelas di wajahnya ketika pergi keluar dari kamar inap Guzel. Bahkan, sampai dia menghampiri Diego setelah meminta makanan pada suster, pun ekspresinya masih sama.


Tak heran, jika Diego yang sudah sadar, bahkan sedang sibuk menatap tabletnya, langsung bertanya ketika Ashan masuk dengan wajah yang ditekuk.


"Kau masuk kesini ingin memamerkan bibir panjangmu?" ledek Diego setelah menatap Ashan sekilas.


"Tidak. Sa-saya ingin menggeluh, Tuan!"


Mengeluh? Tentang apa?


Diego meletakkan tablet dalam posisi terbalik ke atas nakas, lalu dengan suara berat bertanya "Hal apa?"


Sorot mata pria itu terlihat sangat tenang, tidak seperti biasanya. Mungkin itu karena dia mengendurkan sikap waspada yang selama selalu terpampang jelas di wajahnya.


Namun saat melihat sorot mata Diego yang tenang, nyali Ashan justru menciut. Raut wajah kesal di wajahnya perlahan memudar begitu saja. Seakan kobaran api itu padam saat melihat sorot mata tenang dari Tuannya


"Kenapa kau diam? Bukankah kau ingin mengeluh!" ucap Diego langsung membuat Ashab tersadar akan dilemanya sesaat.


"Oh itu." Ashan menelan salivanya sesaat, lalu melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


"Tuan, bisakah Anda bilang pada Nyonya untuk tidak menggoda – maksud saya menindas, iya menindas."


Ah, sial!


Aku memang suka gali lubang sendiri!


Ashan mencoba menarik dua sudut bibirnya sesaat. Menatap Diego sudah merubah ekspresi wajah, bahkan sorot mata yang tenang sudah mulai memincing tajam ke arahnya.


"Sa-saya juga ingin berkencan dan berkembang biak, Tu-Tuan. Ta-tapi nyonya … dia terus mengangguku dengan Guzel!"


Diego terlihat menghela nafasnya, lalu meraih benda pipih itu lagi dan kembali fokus. Merasa tidak dihiraukan Diego, Ashan mencoba merengek.


"Tuan … aku juga ingin merasa–"


"Harusnya langsung bawa saja dia ke dinas catatan sipil. Buat surat nikah, dan tunjukan itu pada nyonya. Dia tidak mungkin mengganggu kalian lagi." Diego kembali menoleh, melihat Ashan diam bergeming sambil menghela napas.


Sudah bisa ditebak dari awal, tuan akan membela istrinya, tidak mungkin membelaku!


Merasa semakin disudutkan oleh bos dan istrinya, Ashan pun memutuskan untuk pergi dan mengadu pada Rehan dan Eraz berharap mereka juga membela dirinya. Namun tanggapan mereka semua justru sama dengan Diego.


Bos dan anak buahnya, semua sama! Menyebalkan!

__ADS_1



Setelah setengah jam pergi ke kamar Guzel. Aishe kembali ke ruangan Diego, tepat beberapa menit setelah Ashan keluar dari sana.


"Dimana Ayah?" tanyanya begitu masuk dan melihat kamar sudah kosong, hanya ada Diego seorang.


Diego menoleh, menatap sang istri berjalan ke arahnya terlihat sangat cantik. Namun, bukannya menanyakan tentang dirinya, sang istri justru mencari ayah mertuanya.


"Sayang, aku baru saja sadar!" ucapnya bermaksud menyindir sang istri yang dirasa tidak peka. Namun reaksi Aishe, justru di luar dugaannya.


"Siapa yang kamu tipu! Aku melihat kamu sudah membuka mata saat ayah masuk!" Jawabnya sedikit ketus, seraya mengambil sebuah apel dan pisau, lalu mengupasnya.


"Tau aku sudah sadar, tapi malah pergi!" Diego menatap tajam, melihat Aishe yang sibuk mengupas apel itu masih tidak menghiraukannya.


...☆TBC☆...



Tiba-tiba meriang. Mau rehat sebentar, nanti agak sorean Up lagi.


Bulan depan Othor mulai fokus sama "Dinikahi Om Duda", tapi babang Die masih menemani kalian kok, tapi gak bisa lama-lama ya 🤭

__ADS_1


Sajennya selalu di tunggu 💋


__ADS_2