
...Pagi yang indah di antara rintik hujan...
Hari sudah pagi, tetapi awan mendung keabu-abuan justru membumbung menutupi langit di Ibu Kota Istanbul. Bahkan rintik rintik hujan masih jatuh membasahi bumi. Waktu sudah menunjukkan angka 9 pagi. Namun sepertinya, langit masih belum puas menangis semalaman dan ingin memperpanjang waktu.
Diego terlihat menarik selimut, menutupi pundak sang istri agar tidak kedinginan. Sepertinya, beberapa hari ini Aishe memiliki tidur yang baik, dia bahkan terlihat sangat nyenyak. Setelah menarik selimut, Diego menorehkan kecupan manis di kening sang istri.
Bulu-bulu tipis dagunya, seperti alarm lembut untuk sang istri. Rasa geli di keningnya, langsung membuatnya bangun dari tidurnya.
"Selamat pagi, Sayang," ucap Diego saat melihat mata Aishe mengerjap.
Dua sudut bibirnya terangkat sesaat, lalu menjawab sang suami, "Pagi, Sayang." Aishe mengangsurkan kedua tangannya ke pinggang Diego dan memeluknya.
"Masih tidak ingin bangun?" tanya Diego yang langsung membuat Aishe mengangguk.
Diego mencium pipi kening sang istri sekali lagi, kemudian berkata dengan lembut, "Tapi sekarang sudah jam sembilan. Apa perutmu tidak lapar?"
Mata Aishe yang tadinya terpejam, kita terbuka lebar. Dia buru-buru melepaskan pelukan Diego, laku bangkit dari tidurnya dan duduk memandang sang suami.
"Jam sembilan?" tanya Aishe memastikan, dan Diego langsung mengangguk.
"Aasshh!" Aishe buru-buru menyingkap selimutnya. "Kenapa tidak membangunkanku lebih awal?" protesnya sambil turun dari ranjang. "Kamu juga, kenapa tidak segera bangun dan pergi bekerja?"
Diego yang sedang di cerca ocehan sang istri, meski hari masih pagi, hanya bersikap santai dengan mengangkat sedikit kepalanya, lalu menyangganya dengan tangan. Tidak lupa juga, seulas senyum manis, lantaran melihat sang istri mengomel sangat menggemaskan.
"Kenapa masih diam? Pergilah bersiap!" tegas Aishe yang kemudian berlalu pergi menuju dapur. Sedangkan Diego sempat melihat punggung sang istri, sebelum akhirnya bangun dari tidurnya.
Di dapur, Bibi Banu dan dua maid lainnya terlihat sibuk menyiapkan sarapan. Aishe berjalan mendekat, berniat ingin membantu, tetapi semua hidangan sudah matang dan siap disajikan.
__ADS_1
Ada Yumurtali Pide, roti tipis yang di atasnya di isi dengan keju, daging cincang, tomat, lada dan telur. Lalu Sup Kepiting hangat, juga beberapa menu pendamping lainnya.
Benar, sejak Aishe dinyatakan hamil, Diego mengubah seluruh daftar sarapan yang dulunya ringan, menjadi sedikit berat. Semua itu ia lakukan hanya untuk mencukupi kebutuhan gizi sang istri. Selain itu, ia juga berpesan pada Bibi Banu untuk membuat beberapa kudapan kering atau basah setiap tiga jam sekali.
"Kenapa masak banyak sekali hari ini?" tanya Aishe melihat dua orang maid menatap beberapa hidangan di atas meja.
"Apa ada perayaan? Atau tamu?"
"Tidak, Nyonya," jawab Bibi Banu penuh sopan. "Tuan muda menyuruh kami mengganti semua menu untuk sarapan."
Aishe mengangguk, seakan memahami niat dari sang suami. Setelah itu, dia kembali ke kamar yang berada di lantai satu untuk berganti pakaian dan mencuci muka.
Ya, itu sebelumnya adalah kamar Diego. Kemarin, saat mereka semua pergi, Bibi Banu dibantu dua maid langsung membereskan kamar Aishe yang ada di atas. Mereka mengambil barang-barang lalu memindahkannya di walk in closet yang ada di kamar utama.
"Kamu merepotkan mereka pagi-pagi, Die," ucap Aishe pergi ke wastafel untuk mencuci muka. Sedangkan Diego hanya terbengong tidak tahu apa yang dibicarakan sang istri.
"A-apa? Apa yang aku lakukan?"
"Mereka sibuk menyiapkan menu sarapan yang kamu ubah!" jelas Aishe.
Aah rupanya karena itu. Aku pikir ada hal apa. Diego berjalan masuk, menatap sang istri yang sedang mengelap wajahnya yang basah.
"Dokter bilang, ibu hamil butuh banyak nutrisi. Mereka juga cepat lapar, jadi aku mengubah semua menu. Ashan yang memberikan daftarnya!" jawab Diego.
Percayalah, saat Diego menyebutkan nama Ashan, pria yang sudah berada di kantor sejak jam 8 pagi tadi, langsung bersin tanpa sebab.
__ADS_1
Aishe meletakkan handuk, lalu berjalan mendekati sang suami. Dua matanya menatap tajam ke arah Diego dengan wajah tegang, dan berhasil membuat pria itu menelan salivanya kasar lantaran takut diomeli oleh Aishe. Sampai pada akhirnya, dia mendengar sang istri menghela napas.
"Baiklah. Terima kasih, Sayang." CUP! Satu kecupan manis mendarat di bibir Diego dan seketika membuat dua sudut bibir pria itu terangkat.
"Kemari, aku akan menyiapkan baju untukmu!"
Aishe dengan senang menarik tangan Diego, pergi ke walk in closet. Tanpa banyak berpikir atau memilih, Aishe mengambil celana, kemeja, jas, dan juga arloji. Lalu menyuruh Diego untuk memakainya segera.
Kali ini, pilihan Aishe tidak salah. Kemeja putih dengan jas keabu-abuan dan dasi hitam, sangat cocok untuk Diego. Aishe selalu merasa, jika sang suami akan terlihat tampan jika memakai baju putih. Ada sekelebat kharismatik dari sang suami yang terpancar.
"Kenapa kau sangat mempesona?" puji Aishe ketika memasangkan arloji di tangan sang suami.
"Karena aku punya istri yang cantik!" goda Diego yang kemudian mengecup bibir Aishe dengan lembut.
Tersipu, Aishe lantas meninju dada bidang Diego dengan pelan, sambil berkata, "Jangan menggodaku, Die! Kau harus pergi bekerja sekarang!" tegasnya menatap sang suami.
Sedangkan Diego justru tersenyum, lalu kembali mengecup bibir Aishe. Kecup, kecup, dan kecup. Entah sudah berapa kali dia mendaratkan bibirnya, yang pada akhirnya membuat Aishe gemas, lalu menggigit bibir sang suami.
"Ah! Ishe!" pekik diego kaget.
...☆TBC☆...
Awalilah pagimu dengan yang manis-manis. Liatin poto suami orang misalnya 🤣🤣
Fix jangan ditiru!
__ADS_1
Readers be like : Tapi lu selalu kasih potonya babang Die, Othor!! 😑😑😑