Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 164


__ADS_3

Dari Villa Luxury yang ada di daerah Zeytinburnu, menuju ke mansion keluarga Gulbar di Başakşehir, jaraknya hampir 25 kilometer. Guzel dan Ashan perlu sekitar 30 menit perjalanan untuk ke sana jika melewati jalan bebas hambatan.


Kebetulan, sekarang adalah hari minggu, banyak dari mereka yang memutuskan untuk berlibur dan menikmati waktu bersama keluarga. Sehingga, beberapa ruas jalan terlihat macet.


Ashan yang fokus mengemudi, sesekali menoleh, menatap wajah Guzel yang terlihat murung. Entah, apa yang ada dalam pikirannya. Mungkin dia sedang rindu dengan sang ibu. Namun dari pada terus menebak, Ashan berinisiatif untuk bertanya.


"Apa yang kamu pikirkan?"


Jalanan pada saat itu sedang macet, membuat Ashan dengan leluasa menoleh, menatap wajah cantik Guzel. Wajah dengan manik mata berwarna Hazel yang indah dan mempesona.


Guzel terhenyak sesaat, memandangi Ashan dengan raut wajah bingung. Ashan sendiri bukan orang yang tidak bisa melihat mimik wajah lawan bicaranya. Dia tahu, jika Guzel sedang merasa kebingungan, tapi tidak tahu alasannya.


"Katakan saja. Apapun yang membuat hatimu ganjal," ucap Ashan sambil mengangsurkan tangan, membelai ubun-ubun Guzel.


"Itu, tentang nyonya," jawab Guzel lirih.


"Nyonya? Kenapa?" Ashan menyipitkan matanya menebak sejuta alasan yang membuat Guzel memikirkan tentang Aishe.


"A-aku tidak tau, apa ini benar atau salah. Hanya saja, aku merasa nyonya tidak mengerti diriku, tapi seolah bisa mengerti." Guzel tergagap, menjelaskan kegundahan hati yang beberapa saat ini dia tahan tentang sikap Aishe padanya.

__ADS_1


"Tarik napas, Guzel. Ceritakan padaku detailnya!" Ashan sesekali melihat ke depan, mengawasi mobil di depannya sudah mulai jalan dengan perlahan maju ke depan. Dia menurunhan rem tangan, lalu menekan pedal gas sembari menunggu jawaban Guzel.


"Nyonya bilang, aku harus bisa melupakan masa lalu dan bahagia. Nyonya tidak tahu, tidak tahu rasanya kehilangan ibu itu seperti apa." Air mata yang sejak tadi ditahan, pada akhirnya jatuh dengan bebas. Dadanya tiba-tiba terasa sangat sesak, dan jantungnya berdetak dengan keras dan cepat.


Ashan yang duduk di sampingnya tidak bisa melakukan apapun, jalanan sangat macet, bahkan kendaraan berjalan merambat. Ia hanya bisa mengambil tisu dan menyodorkannya pada Guzel. Pikirnya, akan lebih baik membiarkan gadis itu melepaskan semua rasa sesak dalam dada, sebelum ia menjelaskan semuanya.


Dua puluh menit terjebak dalam kemacetan, Ashan alhirnya berhasil membawa mobilnya keluar dari jalur keramaian dan meminggirkannya. Tepat pada saat ia berhenti, Guzel sudah jauh lebih tenang. Kini, sudah tepat untuk menjelaskannya pada Guzel.


"Guzel," panggil Ashan penuh kelembutan.


"Apa Anda ingin membela nyonya? Ya, dia memang benar, sudah sepantasnya kita untuk–"


Belum sempat Guzel meneruskan kalimatnya, Ashan yang sejak tadi sudah melepas seat belt, langsung meraih tengkuk leher Guzel dan mendaratkan bibirnya, persis di bibir Guzel.


"Sudah jauh lebih tenang?" tanya Ashan.


Pandangan Guzel lurus ke depan menatap nanar Ashan yang baru saja mengecup bibirnya. Dengan wajah terkejut, ia mengangguk pelan.


"Aku akan menceritakan sesuatu, agar kau tidak menuduhku membela nyonya. Jadi dengar baik-baik."

__ADS_1


Ashan sempat menghela napas panjang, lalu mulai menceritakan tentang kehidupan masa kecil Aishe. Saat Aishe kehilangan kedua orang tuanya, juga dia yang hidup di jalanan.


"Dia kehilangan mereka dalam kurun waktu satu tahun, Guzel. Nyonya masih begitu kecil saat itu."


Guzel masih tertegun saat Ashan menceritakan kejadian masa lalu Aishe yang berat. Sudut matanya lagi-lagi basah, padahal sebelum Ashan bercerita, air matanya sudah kering. Dia tidak bisa memikirkan hal yang lain, selain rasa ibanya pada Aishe.


"Aku sudah salah paham padanya." Guzel tertunduk, membiarkan bulir bening air terjun dengan bebas. "Aku menggira, kisahku sudah paling memilukan, tapi–"


Tangis Guzel kembali pecah. Membayangkan sang nyonya yang harus tinggal bersama jasad sang ayah yang menggantung. Bagaimana perasaan Aishe pada saat itu, hanya dia sendiri yang paham.


"Apa nyonya akan memaafkan atas kesalahpahaman diriku?" Guzel menoleh, menatap Ashan dengan kedua matanya yang basah.


Ashan kembali menarik tubuh Guzel, tapi kali ini bukan menciumnya, melainkan mendekap tubuh gadis itu.


"Nyonya akan memaafkanmu. Dia begitu baik, sangat baik, percayalah padaku. Ah, tidak! Percayalah pada pilihan tuan."


...☆TBC☆ ...


__ADS_1


Sajen sajen, biar ritualnya lancar jaya!!!! 💋💋


Jangan lupa, masih 2 hari lagi sebelum pengumuman Give Away 🥳🥳


__ADS_2