Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 197


__ADS_3

Fajar mulai terlihat, menyapa sebagian penduduk bumi yang akan bersiap untuk pergi bekerja, sekolah, atau beraktifitas lainnya. Namun, ada juga beberapa diantara mereka yang masih larut dalam lelap mereka lantaran baru saja menikmati malam yang panjang.


Emine perlahan bangun dari tidurnya. Dia masih terbaring di ranjang, dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Emine mengerja[, berusaha mengingat beberapa adegan yang semalam dia lakukan dengan keadaan setengah sadar.


Mengingat semua itu, entah mengapa dia justru tidak senang. Dia menoleh ke samping, menatap wajah Rehan yang masih terlelap.


Shiit! Kau gila Emine!


Dia buru-buru bangkit, mengambil pakaiannya yang berserak di lantai, lalu memakainya. Setelah dia selesai memakai underwear, suara berat Rehan tiba-tiba membuatnya terkejut.


“Kamu mau kemana?” tanya pria itu sambil bangun dari tidurnya dan menatap Emine.


“Pulang!” jawab Emine terdengar ketus.


Rehan meraih bathrobes, lalu memakainya, sebelum akhirnya dia bangkit berdiri, sambil berkata, “Masalah tadi malam -”


“Tidak perlu!” potong Emine tiba-tiba. “Anggap saja itu tidak pernah terjadi!” lanjutnya.


“Kenapa? Aku ingin bertanggung jawab!”


Emine lantas menoleh, menatap sinis Rehan yang berdiri di belakangnya. “Untuk apa? Kamu tidak mencintaiku! Tidak perlu repot-repot bertanggung jawab.”


Rehan terdiam sesaat, menyadari sikap Emine yang berubah total hanya dalam 1 malam. Padahal, beberapa bulan lalu, gadis itu masih kekeh mengejarnya. Bahkan meski dia sudah menolaknya beberapa kali.


“Tapi kita–"


“Kita sudah dewasa, Rehan! Hal seperti ini wajar terjadi ketika kita berdua sedang mabuk,” tegas Emine.


“Kita melakukan itu, hanya mengikuti naluri!”


Rehan benar-benar terpaku setelah mendengar kalimat yang baru saja Emine ucapkan. Pria itu tak menyangka, jika wanita yang beberapa bulan lalu mengejarnya, bisa mengatakan hal yang seperti itu.


Emine sudah selesai memakai bajunya. Dia sempat mengambil tasnya di atas nakas, sebelum akhirnya berlalu melewati Rehan yang bergeming. Lalu berjalan hendak keluar dari kamar. Namun sebelum Emine berhasil meraih handle pintu, Rehan buru-buru mencekal tangan gadis itu.


“Kita masih belum selesai, Emine!” tungkas Rehan yang kemudian mendorong tubuh Emine dan memojokkannya ke dinding.


“Apa maumu? Urusan kita sudah selesai, Reyhan!” Dua pasang mata mereka saling menatap satu sama lain, tanpa memasang ekspresing yang bisa ditebak oleh lawan.


“Aku akan kembali ke LA dan tidak akan lagi mengganggumu. Jadi lepaskan aku!” tegas Emine.


Mendengar itu, cengkraman tangan Rehan semakin mengerat. “Aku tidak perlu bertanggung jawab, tapi kau harus, Emine!”


“Apa maksudmu?” Emine menatap Rehan penuh dengan pertanyaan.

__ADS_1


“Kau sudah membuatku, jatuh cinta padamu! Kau, harus bertanggung jawab padaku, mengerti!”


Kedua mata Emine membulat penuh. Ada raut wajah bahagia, yang tertutupi dengan ekspresi terkejutnya. Sebelum Emine sempat menjawab, Rehan sudah lebih dulu mendaratkan bibirnya di bibir Emine selama beberapa detik.


“Kau harus bertanggung jawab Emine! Kau harus menikahiku!” Rehan menatap kedua mata Emine lekat-lekat.


Namun Emine justru membuabg muka, “Ka-Kau mencintaiku?”


“Bodoh! Apa aku perlu membawamu ke dokter telinga?”


Emine sempat memanyunkan bibirnya sambil memukul dada bidang Rehan. Lalu, menyandarkan kepalanya ke ulu hati pria itu. Dia jelas bisa mendengar ucapan Rehan, dan hanya ingin pria itu mengulangi kalimatnya. Namun Rehan justru tidak mengerti maksud Emine.


“Kau brengsek, Rehan! Brengsek!”


“Iya.”


“Ayo kita ulangi lagi!” pinta Emine tiba-tiba. Jelas, kalimat yang ambigu itu membuat Rehan bingung. Hal apa yang harus mereka ulang?


“A-apa?”


“Itu …. Aku semalam dalam keadaan setengah sadar. Jadi, ayo kita lakukan dalam keadaan sadar!”


Emine menaikkan satu sudut bibirnya, sorot matanya lurus menatap Rehan. Lalu, perlahan-lahan tangannya bergerak, melepas tali bathrobes milik Rehan. Pria itu hanya melihat bathrobes miliknya sudah terbuka, dengan senyum menyerigai tanpa mengelak.


Lalu tanpa aba-aba, Rehan membopong tubuh Emine, membawanya dan menjatuhkannya ke atas kasur.



Villa Luxury


Aishe bangun lebih dulu dari Diego. Entah mengapa, hari ini dia sedikit bersemangat daripada hari-hari biasanya. Begitu bangun, dia langsung keluar dari kamar. Berjalan menuju nakas yang ada di depan kamar, untuk mengambil buket bunga yang diberikan sang suami semalam.


Dua sudut bibir Aishe terangkat, menatap bunga-bunga di tangannya itu begitu cantik. Senyum Aishe pun lantas membuat Rubby mendekatinya.


“Wajah Anda sangat pagi ini, Nyonya,” puji gadis itu.


“Kau pandai membual seperti Guzel!” Aishe menatap Rubby untuk sekilas sambil tersenyum, lalu kembali memandangi bunganya. “Ambilkan aku sebuah vas bunga bening. Aku akan menatanya bunga-bunga cantik ini.”


“Baik, Nyonya.”


Setelah mendapatkan vas bening yang diinginkan, Aishe buru-buru menaruh bunga-bunga cantik itu di vas. Lalu meletakkannya di nakas yang ada di samping sofa ruang keluarga, tempat dia biasa menikmati drama.


Diego yang baru saja bangun, terlihat sedang berdiri di ambang pintu kamarnya, menatap wajah Aishe dengan senyum termanisnya. Melihat senyum itu, membuat Diego penasaran dan berjalan mengendap-endap, lalu memeluk tubuh sang istri dari belakang.

__ADS_1


“Bunga ini membuatmu bahagia?” tanyanya.


“Eem. Bunganya sangat cantik.”


Berbicara tentang bunga, entah mengapa ada sebuah ide yang tiba-tiba terlintas di pikiran Aishe untuk balas dendam pada Ashan lantaran sudah menipu dirinya.


“Die, kau tau bunga Kadupul?” tanya Aishe tiba-tiba.


“Aku baru mendengarnya.”


“Katanya, bunga itu memiliki bau yang sangat menggoda. Aku ingin mencium aromanya.” Aishe mengusap tangan Diego yang sejak tadi berada di perutnya yang membesar.


“Ingin menciumnya? Kamu mau kita pergi mencari bunga itu?”


“Tidak! Aku mau Ashan membawakannya untukku sebelum malam hari!”


Diego terdiam sejenak sambil berpikir tentang sikap sang istri yang tiba-tiba meminta Ashan untuk membawakan bunga itu. Jelas, itu bukan sikap Aishe, juga bukan sikapnya saat mengidam.


“Ashan mengganggumu, Sayang?”


“Dia menipuku! Dia bilang kau akan memecatnya, lalu menyuruh seorang istri yang sedang hamil besar ini, pergi ke kantor dan membujuk suaminya. Belum lagi, dia menyuruhku menaiki tangga!” jelasnya sedikit jengkel saat mengingat kejadian itu.


Aishe sendiri bukannya tidak tahu, jika sang suami jelas ikut andil dalam hal ini. Padahal hanya kejutan biasa, Diego seharusnya bisa merayakan hal itu di rumah saja, begitu pikir Aishe yang mulai malas bergerak lantaran perutnya semakin membesar.


Diego mengangguk sesaat, lalu menjawab, “Tenang saja, aku akan menyuruhnya mencari bunga itu sekarang juga!”


“Kamu juga harus membantunya, Die!”


Due mata Diego membulat penuh. “Aku juga?”


“Iya! Kamu juga!” Aishe melepaskan tangan Diego, lalu berjalan maju beberapa langkah dan berbalik.


“Ashan tidak akan melakukan itu jika kau tidak memerintahkannya. Jadi, cepatlah pergi, Sayang!”


Diego hanya mampu menelan salivanya kasar saat mendengar perintah sang istri, sebelum akhirnya ia mengiyakan perintah Aishe untuk mencari bunga yang dia inginkan.


...☆TBC☆...



Kayak gak mau pisah sama bang, Die 🥲


Tapi gimana 😔😔

__ADS_1


Vote dan hadiah jangan lupa ya guys.


Apa lagi likenya 🥲


__ADS_2