Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 186


__ADS_3

...Beautiful Wedding...


...bagian 2...


Sumahan On The Water. Salah satu hotel unik yang terletak di sebuah tempat penyulingan abad ke-19 dan telah direnovasi, yang lokasinya berada di daerah Üsküdar, İstanbul. Hotel unik ini berdiri di lingkungan tepi sungai Bosphorus yang menghubungkan Laut Hitam dan Selat Marmara, juga sebagai pemisah antara Turki wilayah Eropa dan Asia. Menawarkan kamar-kamar mewah dengan pemandangan Bosphorus juga fasilitas kamarnya yang cukup lengkap dengan gaya bangunan ala kerajaan Ottoman.



Selain tempatnya yang cukup menarik untuk pengunjung, hotel ini pun hanya memiliki 13 kamar. Meski hanya 13 kamar saja, tetapi setiap kamarnya terdiri 2 lantai, selain itu juga memiliki fasilitasnya cukup memadai. Perabotannya bergaya kontemporer, sementara unsur-unsur asli seperti langit-langit balok kayu atau perapian tetap dipertahankan. Bermandikan cahaya matahari yang berlimpah, semua unit memiliki TV satelit layar datar, pemutar DVD, dan internet kabel gratis.


Dari semua keindahan dan juga fasilitas yang mereka tawarkan, tak heran jika Sumahan On The Weather ini menjadi tempat untuk mengadakan resepsi pernikahan dengan konsep outdoor. Ya, inilah alasan Diego dan Aishe memilih tempat ini sebagai acara resepsi mereka yang terbilang sederhana lantaran tamu undangan mereka terbatas.



Aishe terlihat duduk dengan tenang, di hadapannya aja meja yang diisi dengan beberapa kudapan manis, juga secangkir Cay hangat yang disediakan oleh petugas hotel. Beberapa perias, sedang sibuk memoles wajah cantiknya, ada juga Berd dan Asistennya Sasha yang juga ada di sana membantu persiapan mempelai wanita. Tidak hanya mereka yang sibuk, Guzel dan Rubby pun juga terlihat sibuk.


Waktu hanya tinggal dua jam lagi, dan riasan Aishe baru saja selesai, kini hanya tinggal menata rambutnya saja.


“Bagaimana, Nyonya Besar?” tanya seorang penata rias yang baru saja selesai memoles wajah Aishe, kepada Mirey yang duduk menikmati secangkir coffe.


Mata indah kebiruan dengan sorot tajam dan garis mata yang terlihat jelas, mulai menelisik, dari alis, hingga warna lipstiknya.


“Kenapa kau bertanya? Menantuku sudah cantik, kalau terlihat jelek, berarti itu karena riasanmu!” tegas Mirey yang langsung membuat penata rias itu menelan salivanya kasar, lalu tersenyum getir, sedangkan Guzel, Rubby dan yang lainnya terkekeh, tetapi Aishe justru tersipu malu.


Pada saat Guzel, Rubby, Berd, dan beberapa orang lainnya terkekeh lantaran jawaban Nyonya Besar, suara ketukan pintu terdengar dari luar. Guzel dan Rubby saling menoleh satu sama lain, menerka nerka tentang siapa yang datang, lantaran sebelumnya Mirey sudah berpesan untuk tidak mengetuk ruangan tempat mereka bersiap.

__ADS_1


“Guzel, lihat siapa yang datang!” perintah Mirey yang juga mendengar ketukan pintu yang semakin lama justru semakin kencang diketuk.


“Baik, Nyonya Besar.” Guzel yang selesai dirias oleh Sasha pun bangkit dari kursinya, lalu berjalan ke arah pintu.


Pintu tebal dan kokoh itu ia buka perlahan, lantaran takut jika sesuatu yang berbahaya menyusup tiba-tiba. Namun saat ia melihat wajah Diego berdiri hanya dengan kos berlengan pendek, Guzel justru buru-buru menahan pintu dengan kaki dan tubuhnya, takut jika Diego menerobos masuk begitu saja.


“Tu-Tuan Muda ….”seru Guzel sedikit lantang agar Mirey mendengar suaranya. “Tuan Muda kenapa datang ke ruang rias wanita?” tanya Guzel.


Namun sebelum Diego menjawab pertanyaan dan mengutarakan keinginannya, Guzel kembali mem brondongnya dengan berbagai pertanyaan.


“Apa Anda tersesat, Tuan? Apa Tuan MUstafa dan Rehan tidak menunjukkan kamar rias pria kepada Anda?”


Diego sudah membuka mulut, ingin mengutarakan keinginannya. Namun lagi-lagi Guzel menyelanya. “Di lihat dari ekspresi Anda, sepertinya tidak ada yang memberi tahu. Baiklah, Anda bisa langsung menghubungi mereka atau Rehan.” Guzel kemudian menutup pintu setelah mengatakan kalimat terakhirnya.


Diego tentu belum puas, ia kembali mengetuk pintu, berharap sang istri membuka pintu untuknya. “Ishe … Sayang! Buka pintunya, Please!” Dia berteriak hal yang sama sebanyak 3 kali dengan nada memohon sambil terus mengetuk pintu.


“Ibu ….”


“Kenapa? Kau belum bersiap?” Mirey melirik tajam menatap putranya berdiri di depan kamar ganti wanita.


“Aku akan bersiap setelah melihat istriku!” kekeh Diego hendak menerobos masuk, tetapi Mirey dengan cepat menghalangi.


“Kau tak tahu aturannya? Pengantin pria dilarang melihat pengantin wanitanya, sampai mereka di pertemukan nanti!” jelas Mirey singkat.


“Aturan dari mana itu? Tidak ada tradisi seperti itu di Turki!”

__ADS_1


“Aturan keluarga Gulbar! Mau menantangnya?”


Dua pasang mata mereka saling beradu sengit selama beberapa detik. Sampai akhirnya, Mustafa dan Deniz datang menghampiri mereka.


“Ada apa ini?” tanya Deniz melihat istri dan anaknya yang susah akur itu saling melempar tatapan tajam.


“Dia bersikeras masuk ke dalam!” Mirey memalingkan wajahnya, seakan enggan menatap wajah Deniz. Sedangkan Deniz yang semula fokus menatap Mirey, kini berpindah menatap sang putra.


Deniz menghela napas panjang saat melihat tatapan tajam putranya. “Sudahlah, Sayang! Biarkan dia melihat Ishe sebentar,” pinta Deniz pada Mirey, membantu putranya membujuk sang ibu.


“Tidak! Aku sudah berbesar hati memperbolehkan mereka tinggal bersama tiga hari ini, tidak seperti pernikahan keluarga Gulbar lainnya yang harus menunggu 5 hari sampai mereka dipertemukan nanti.”


Deniz kembali menatap Diego, lalu menunduk sesaat. Ini memang aturan dari keluarga Gulbar yang tidak bisa ia tolak, bagaimanapun, Mirey sudah mempermudah mereka agar bisa tetap bersama mengingat Aishe sedang hamil. Pada akhirnya, Deniz pun kalah telak dengan tradisi dari keluarganya sendiri yang sudah turun temurun.


“Ayo pergi, Nak!” ajak Deniz menepuk pundak Diego. “Hanya 2 jam lagi sampai kalian bertemu satu sama lain, sabarlah.”


Diego enggan beranjak dari sana pada awalnya, sampai ia mendengar suara lembut sang istri yang berbicara dari balik pintu. “Pergilah, Die! Segeralah bersiap! Aku ingin melihat wajah tampanmu itu!”


“Baiklah, aku pergi. Jangan lupa isi perutmu, oke!” ucap Diego membalas perintah Aishe, sebelum ia pergi ke ruang ganti pria untuk bersiap.


...☆TBC☆...



Sabar dulu ye bang, ayo dandan dulu yang ganteng. Rapiin kumis sama jambank yang aduhai mempesona itu, biar neng Ishe klepek klepek. Readers juga sih yak 🤣

__ADS_1


Tunjukan pesonamu bang, ayo kita minta angpao ke reader buat biaya honey moon ke Capadocia "It is My Dream!" 🤣🤣😅


Vote yang belum, kopi, kembang, sajen sajen. Ayo wayah e kondangan gaes! Mbecek kita mbecek 🤭🤭🤭🤭


__ADS_2