
Diego menghela napasnya kasar, lalu mengikuti Aishe pergi ke kamar meski sudah mendapat ultimatum. Sedangkan Ashan, ia justru berjalan mendekati Guzel.
"Bukankah kamu sudah lama mengikuti Tuan Diego?"
Ashan melihat tuannya yang begitu arogan dan berkuasa, beberapa kali memanggil nama Aishe, tetapi tak di hiraukan. Entah kenapa, dia mendadak penasaran dengan tuannya.
"Sekitar umur 8 atau 9 tahun, ibu membawaku masuk ke kediam Gulbar. Namun aku baru mengikuti tuan 10 tahun lalu." Guzel menoleh, menatap Ashan yang berdiri di sampingnya."
"Yah, itu hanya selisih beberapa tahun saja." Ashan mengangguk. "Bagaimana kondisimu? Apa sudah lebih baik?"
"Sudah dua minggu, Tuan Ashan. Tentu sudah jauh lebih baik." Guzel menghela napas panjang. "Terima kasih, sudah membawaku waktu itu."
"Kau juga sudah menyelamatkan kami, terima kasih!" Ashan perlahan menoleh, bersamaan dengan Guzel yang menatapnya.
Hanya tatapan sekilas, tapi berhasil membuat wajah gadis muda itu merona merah. Guzel buru-buru membuang mukanya, lalu dengan sedikit gugup pergi meninggalkan Ashan.
"Tu-tuan sudah datang, ayo kita persiapkan apa yang tuan minta," ucap Guzel sambil berjalan pergi.
Sedangkan Ashan yang merasa sedikit aneh melihat sikap Guzel, hanya bersedekap tangan sembari menatap punggung gadis itu.
Lihat, masalah begini aku lebih peka dari pada dua orang itu! Tapi … sejak kapan Guzel menyimpan rasa?
__ADS_1
...Guzel...
Meninggalkan Ashan dan Guzel yang kompak mempersiapkan sesuatu untuk Aishe. Disisi lain, Diego masih berdiri di depan pintu berusaha membujuk Aishe.
"Ishe, Istriku sayang." Diego beberapa kali mengetuk pintu, berharap Aishe mau membukanya.
Namun sudah lebih dari 15 menit sejak ia berdiri di sana, pintu tebal dan besar itu belum terbuka sedikitpun.
"Ishe, sampai kapan kamu mau menghukumku? Kakiku sudah kram!"
Mungkin, itulah titik kelemahan Aishe. Setelah mendengar suaminya mengeluh tentang kakinya, wanita yang sedang menikmati sebuah apel itu perlahan menarik pintunya dari dalam.
"Masuk dan duduk sana!" Aishe menunjuk sofa panjang yang langsung dituju Diego. Sedangkan dia kembali duduk di single sofa yang menghadap ke jendela.
"Jangan tersenyum! Kamu tidak bisa membujukku kali ini!" Aishe masih terlihat acuh, dan lebih memilih menikmati sebutir apel di tangannya.
Nampaknya, siasat Diego dengan mengandalkan tampang manisnya kali ini tidak berhasil. Aishe masih merajuk, dan justru tidak menghiraukannya.
Hela napasnya terdengar berat, sangat berat sampai sorot lampu mobil dari bawah, terlihat menembus kaca dan memantul di langit-langit. Diego perlahan menaikkan kedua sudutnya, lalu dengan santai berdiri dari kursinya.
"Siapa yang menyuruhmu berdiri?" Sungut Aishe kesal.
Namun bukannya menjawab, Diego justru dengan cepat membopong tubuh kekasihnya itu keluar dari kamar.
__ADS_1
"Die, kamu mau apa? Cepat turunkan aku!" Seru Aishe, tapi masih diacuhkan Diego.
Hingga, tibalah mereka di gedung basket yang semula di desain untuk latihan menembak. Diego perlahan menurunkan tubuh Aishe, membuatnya menoleh melihat dekorasi dan kejutan yang sudah ia susun dengan rapi.
"SELAMAT ULANG TAHUN!!!" seru mereka kompak.
Aishe terkejut hingga bengong. Melihat Ashan, Eraz, Emmil, Rehan, Ayah angkat, Bibi Nie, serta Guzel, memakai topi pesta di kepala mereka. Bahkan Ashan dan Guzel secara kompak membuka Popper Confetti, menambah kemeriahan pesta.
Gedung yang pada awalnya di desain sebagai lapangan basket, dan diubah menjadi arena tembak, hingga sekarang menjadi tempat pesta yang penuh dengan bunga, serta hadiah.
"Selamat ulang tahun, Nona," ucap Eraz dan Emmil kompak.
"Selamat ulang tahun, Nona Aishe."
"Selamat ulang tahun, Nak. Semoga tuhan memberimu kebahagiaan dan berkah-Nya."
"Doğum günün kutlu olsun, Meleğim." (Selamat ulang tahun, Malaikatku.
B'Day Ishe 💋💋
__ADS_1
Jangan lupa minta sajen sama readers 🤭🤭