
Semilir angin musim semi berhembus dari arah timur menuju barat, membawa sisa musim dingin pergi bersamanya. Maka tidak heran jika suhu musim semi masih berada di angka 10 hingga 24 derajat celcius. Setidaknya, ia tidak pernah jatuh di angka 4 derajat dan naik hingga 28 derajat.
Tidak terasa, waktu bergulir cukup cepat hari ini. Mentari pun sudah perlahan memasuki belahan bumi bagian barat. Hamburan Rayleigh terlihat sangat cantik, seakan menyatu dengan lautan yang tenang dengan sedikit ombak. Warna kemerahan di langit, dan birunya laut, seakan memberitahu pada dunia, bahwa ciptaan Sang Kuasa begitu sangat menakjubkan.
Aishe perlahan membuka mata dan berkedip pelan, agar retinanya terbiasa dengan sinar mentari kemerahan yang menembus kaca di kamar. Setelah dirasa sudah mulai terbiasa, ia menatap menelisik sekitar, hendak mencari air untuk melegakan tenggorokan yang kering dan tercekat.
Kamar Aishe terlihat begitu mewah dengan dekorasi serba putih yang berpadu dengan kuning keemasan. Ranjang empuk besar dengan selimut putih, sofa dan meja yang juga berwarna putih dengan aksen keemasan. Juga, lemari pendingin dengan berbagai jenis minuman.
Aishe bangkit dan turun dari ranjang, dengan satu kaki yang terluka, dia berjalan terpincang pincang ke arah showcase untuk mengambil sebotol air mineral.
Pada saat yang bersamaan ketika tangan dengan jari jari ramping itu memutar tutup botol, pintu kamar Aishe dibuka dari luar.
"Oh, kamu sudah bangun, Nak?" ucapan Mustafa berhasil membuat Aishe yang sedang meneguk air mineral langsung menoleh ke arah sumber suara dan mengangguk.
"Bagaimana tidurmu, apakah nyenyak?" Mustafa berjalan ke arah sofa, lalu duduk di sana.
__ADS_1
"Sedikit. Aku sempat bermimpi buruk tadi!" Aishe meletakkan botol di atas nakas yang berada tepat di samping showcase, lalu melangkah dengan terpincang pincang dan duduk di hadapan Mustafa.
"Apa yang kamu mimpikan?" tanya Mustafa dengan nada penasaran.
"Aku sedang tertidur, lalu samar-samar melihat Diego berdiri di sisi ranjang. Hanya saja …." Aishe menarik napas panjang, seperti sedang kecewa. "Dia … terlihat tua!"
Mustafa beberapa kali menarik kedua sudut bibirnya, seakan menahannya agar tidak terlepas. Namun, upayanya gagal. Mustafa tertawa terbahak-bahak dengan puasnya, karena ia tahu, bahwa itu bukan mimpi.
"Ayah! Kenapa malah tertawa?" Aishe menatap Mustafa masih tertawa dengan lepas. Sampai, pria tua itu tersedak oleh salivanya sendiri, barulah ia berhenti.
"Aah, aku kena karma!" Mustafa masih sesekali terbatuk-batuk, sedangkan Aishe hanya menatapnya saja, tanpa mau mengambilkan air. Dia bahkan bersedekap tangan dan memincingkan mata.
"Iya iya, ayah juga tua." Mustafa kehabisan kata saat Aishe menyebut kata 'tua' yang memang suatu kebenaran.
"Tapi dia masih terlihat tampan meski tua. Wajahnya cukup berkarisma."
Raut wajah Mustafa langsung berubah datar. Senyum di wajahnya menghilang, manakala Aishe memuji ayah mertuanya itu dengan antusias. Ya, Mustafa menebak, jika yang di lihat Aishe tadi bukanlah mimpi belaka, melainkan kenyataan saat Deniz mengunjunginya.
__ADS_1
Mustafa jelas tahu, lantaran ia diam-diam mengintip saat Deniz masuk ke kamar Aishe, dan melihat Aishe sempat membuka matanya sedikit, meski akhirnya ia terlelap lagi.
"Tapi, Ayah …." Aishe tiba-tiba berbicara lagi, meski ia melihat raut wajah Mustafa terlihat datar tak tertebak. "Kenapa wajah dia berbeda dengan wajah pamannya?"
Pada akhirnya, Aishe sampai pada pertanyaan yang sedikit berat ini. Mustafa pun sempat menghela napas panjang dan sedikit bimbang, bagaimana dia akan menjelaskan cerita rumit ini.
Mustafa menatap Aishe sejenak, lalu mengangkat dua sudut bibirnya dan menatap langit yang sudah sepenuhnya gelap.
"Aku tahu kemana arah pembicaraanmu, Nak!" Mustafa masih menatap gemerlapnya bintang yang bersinar di langit, tidak Aishe yang sedang menunjukkan ekspresi penasarannya.
"Kalau begitu, ayah pasti bisa memberikan jawabannya, kan?" Aishe lantas tertunduk, ada perasaan jengkel, yang tiba-tiba singgah dan membuat hatinya resah tak nyaman.
Aishe menengadah kembali, menatap Mustafa yang juga memandang ke arahnya, lalu melanjutkan kalimatnya. "Ayah ... sebenarnya juga sudah tahu, bukan? Ini bukan pertama kalinya bagi Diego di serang diam-diam oleh pamannya."
"Apa ada, seorang paman yang dengan tega menyerang keponakannya berkali kali? Kecuali jika mereka …." Aishe menelan salivanya, engan meneruskan kalimatnya.
__ADS_1
Kira kira bakal dikasih tau sama Kang Mus gak yaa???? 😏😏
Sajen segera di tabur 💋💋