
Mata Guzel lagi-lagi membulat, jantungnya berdegup sangat kuat dan cepat. Padahal, Ashan hanya memberinya sebuah kecupan manis, tanpa mendorong lidah tak bertulang itu masuk ke dalam. Namun yang terjadi, kecupan itu justru seperti morfin yang bekerja memacu jantungnya sedikit cepat, tetapi semakin lama justru membuatnya candu.
Ashan menarik diri lebih dulu, tapi jarak diantara mereka hanya terpaut sejengkal saja. Dua pasang mata saling memandang lekat, menatap keindahan ciptaan Tuhan yang ada di hadapan mereka.
"Jangan merepotkan perawat. Mereka sibuk dengan pasien yang lain," ucap Ashan menjelaskan. "Buka bajumu! Aku akan menutup mata." Dua mata Ashan terpejam dengan sempurna, seolah memberitahu Guzel bahwa dia tidak akan melampaui batas.
Guzel sendiri seakan tidak punya pilihan selain setuju dengan Ashan. Lagi pula, pria itu sudah menutup mata erat-erat.
"Ba-baiklah." Dia menahan baju dengan lengan kiri, lalu mulai melepas kancing bajunya satu persatu. Setelah selesai, Guzel memiringkan tubuhnya, lalu melepas baju dimulai dari tangan kanannya.
Pundak putih mulus itu langsung terlihat dengan jelas. Sayangnya, Ashan justru memegang ucapannya dan terus menutup mata, tanpa melihat pemandangan indah yang mungkin bisa meningkatkan hormon oksitosin miliknya.
Guzel tiba-tiba berhenti saat satu sisi bajunya berhasil terlepas. Rupa-rupanya, gadis cantik dengan rambut hitam itu kesusahan saat hendak melepas satu sisi, karena luka tembaknya persis berada di bahu kirinya. Dia sempat menoleh, menatap Ashan masih menutup mata, sesuai dengan ucapannya tadi.
Dia memegang janjinya.
Lagi-lagi dia tidak punya pilihan selain meminta bantuan Ashan untuk melepas satu sisi bajunya. Dengan suara sedikit berat, dia mencoba berbicara.
"I-itu … apa kau bisa melepas satu sisi lagi?"
"Bagaimana bisa? Mataku tertutup!" elaknya mencari alasan.
"Ka-kamu bisa membukanya! Ta-tapi hanya sedikit saja! Oke!"
Dua sudut Ashan lantas bergerak naik sedikit untuk beberapa detik, sebelum akhirnya ia memberi jawaban pada Guzel.
__ADS_1
"Oh, oke!"
GLEK!
Ashan menelan salivanya lebih dulu, lalu pelan-pelan membuka matanya sedikit. Melihat pundak mulus yang sudah setengah terbuka, tenggorokannya seakan tercekat, tidak lagi bisa menelan salivanya.
Dia mengangsurkan tangan, hendak meraih satu sisi baju yang sudah terbuka. Namun belum sempat dia memegangnya, ada deheman dari seseorang yang langsung membuatnya menoleh.
"Wah wah wah! Perkembangan kalian sudah sampai tahap seperti ini?" Suara wanita yang sangat familiar, langsung membuat Guzel bereaksi.
"Nyonya!"
Aishe berjalan mendekat, melihat baju di atas ranjang, juga setengan baju Guzel yang terbuka, dia langsung bisa menebak, apa yang akan mereka lakukan.
Dua sudut bibirnya langsung terangkat. Melihat ekspresi wajah Ashan yang sedang gugup, timbulah niat Aishe untuk menggoda pria lajang yang sudah lama menemani sang suami.
"Sa-saya?" ucap Ashan heran dengan ucapan sang nyonya, sembari menunjuk diri sendiri.
Aishe menoleh, menatap Ashan dengan sorot mata tajam. "Masih tidak berbalik?" Bentaknya langsung membuat Ashan berbalik, membelakangi mereka.
Belum puas menggoda Ashan, Aishe kembali berdecak dan menyindir pria itu. "Ckckck, anak muda yang agresif. Bahkan tidak peduli pasangan sedang terluka!" ucap Aishe seraya membantu Guzel mengganti baju.
Dua mata Ashan membulat, saat mendengar sindiran sang nyonya. Ingin sekali dia menjawab, atau memberi pengertian akan gelora asmara yang sedang membara. Namun pria itu tak berdaya, saat mengingat semua sumber dananya berasal dari suami wanita itu.
Nyonya, aku cuma seorang jomblo-man yang juga ingin membangun kisah cinta dan berkembang biak.
Ashan menghela napas panjang, lalu berkata, "Saya akan meminta suster mengirim makanan lagi!"
__ADS_1
Tidak ada yang menjawab ucapan Ashan, bahkan sampai ia keluar dan menutup pintu.
"Kau menyukainya, Guzel?" tanya Aishe tiba-tiba saat ia mengancingkan baju Guzel.
"A-apa itu terlihat jelas, Nyonya?" jawab Guzel langsung memegangi pipi yang merah merona bak tomat.
Namun Aishe tidak menjawab, dia justru tersenyum menunjukkan wajah cantiknya dengan lipstik matte sesuai dengan warna bibirnya.
"Ashan pria yang baik dan penuh tanggung jawab. Tidak heran kalau kau menyukainya."
Guzel memandangi wajah Aishe lekat-lekat. Ucapan sang nyonya memang benar. Pria itu bahkan terus menjaga dirinya meski sedang bertarung.
"Pegang kata-kataku ini, karena aku tidak akan mengatakannya dua kali, mengerti?" lanjut Aishe.
"Kenapa, Nyonya?"
"Diego bisa menghukumku kalau tahu aku memuji pria lain. Apa kau tidak merasakan posesifnya tuanmu itu?"
"Ah …."
Guzel sendiri memang tidak memungkiri, jika tuannya itu sangat posesif. Apalagi, pria itu sudah menikah dengan wanita secantik ini, tentu sangat wajar jika dia posesif.
...☆TBC☆...
Aishe emg suka bikin nanggung ya 🤣🤣🤣
__ADS_1
Seperti biasa, sajen jangan lupa 😌