
"Kamu tidak menyukainya?"
Dua pasang mata mereka saling memandang satu sama lain. Diego memandang Aishe lekat-lekat, berusaha menebak pemikirannya. Dan entah kenapa, pria yang selalu memasang wajah datar itu, sering dibuat bingung dengan ekspresi Aishe.
"Suka. Hanya saja, rumah ini terlihat terlalu besar untuk kita berdua." Samar-samar, dua sudut bibir Aishe terangkat.
Terlalu besar? Kamu bahkan belum masuk ke kediaman Gulbar.
Diego meraih tangan Aishe, dan mengecup punggung tangannya. "Siapa bilang hanya kita yang tinggal di sini?"
Jawaban Diego membuat Aishe binggung untuk beberapa saat. Jika tidak berdua, lalu ada siapa lagi? Para maid? Pikir Aishe.
"Ashan akan tinggal di sini?" Tebak Aishe asal dan langsung membuat Diego jengkel. Jemari tangan yang masih di pegangnya itu, tiba-tiba ia memasukan si Jari Telunjuk ke dalam mulutnya dan menggigitnya lembut.
"Aahh!" Membuat Aishe berteriak dan sontak menarik tangannya. "Kenapa menggigit jariku?"
"Sudah lama bersama, tapi kau masih belum peka juga! Memangnya kamu mau tinggal satu atap dengan dia?" Diego melirik Ashan sesaat kemudian menatap Aishe kembali.
Ya ampun, Tuan. Aku sendiri juga tidak mau mati muda! Oh Nona Aishe, kenapa Anda bawa-bawa namaku? Ah, aku terdzolimi!
__ADS_1
Ashan yang tidak mau disangkut pautkan dengan urusan pribadi mereka, pun langsung melambaikan tangan. Memberi isyarat bahwa dia juga tidak mau tinggal bersama mereka.
"Lalu siapa lagi? Kau mau bawa selir yang lain?" Tebak Aishe makin rancau, hingga membuat Diego semakin jengkel dan gemas.
"Tentu saja anak-anak kita! Kamu mau berlagak bodoh sampai kapan sih?"
Diego yang kesal, pun langsung masuk ke dalam sendiri. Sedangkan Aishe, justru mencoba menahan tawanya agar tidak lepas.
A-anak? Anak-anak kita?
Kedua pipi wanita itu memerah tiba-tiba bak tomat ceri. Perasaannya meletup-letup, seperti ada kembang api yang menyala menabur percikan kebahagiaan. Dia mana mungkin menyangka, jika arah pembicaraan Diego akan sampai pada pembahasan anak-anak.
Aishe memegang kedua pipinya yang menyala terang. Pikirannya melayang, membayangkan bagaimana mereka akan membagi kamar untuk anak-anak mereka. Dua sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum penuh kebahagiaan.
Suara samar dari Ashan tiba-tiba membuyarkan lamunannya. Dia terperangah untuk sesaat dan menatap Ashan yang berdiri di ambang pintu.
"Mari masuk, di luar sangat dingin," lanjutnya.
Ya ampun! Aku pasti terlihat konyol.
__ADS_1
Aishe melihat Ashan masih tersenyum dengan ramah sambil berdiri di ambang pintu. Betapa malunya dia saat itu, ketika senyum kasmaran nya lepas tanpa kendali. Dia pun menutupi wajahnya sambil pura-pura menggaruk kening dan masuk ke dalam.
Diego yang sudah ada di dalam rumah terlihat cukup kesal. Wajahnya di tekuk, bibirnya manyun, dan bibirnya terus mengumpat sepanjang waktu, mengatai kekasihnya yang bodoh dan tidak peka.
Ingin romantis, tapi dia sendirinya telat berpikir! Bodoh! Idiot!
"Die … Sayang." Suara Aishe terdengar jelas di telinga Diego, tapi pria itu enggan menoleh dan menatap kekasihnya.
Aishe pun tak kurang akal, dia berdiri di belakang Diego, dengan lembut menaruh kedua tangannya di pundak kekasihnya. Lalu, kedua tangan itu menggerayang turun, bersamaan dengan tubuhnya yang condong ke depan, memeluknya.
"Sorry, And I Love You." Aishe mengecup pipi Diego.
Wanita itu sudah mengeluarkan jurus andalan yang diajarkan Diego, tapi pria itu masih dingin seribu bahasa. Sampai akhirnya, Diego membicarakan tentang rumah baru yang akan mereka tempati.
"Gimana rumahnya? Kalau tidak suka, kita cari tempat baru!"
Ada yang ngambek, eiu 🤣🤣
__ADS_1
Ajiannya Aishe kurang endol kayaknya.
Babang Die minta di goyang dumang dulu 🤣🤣