Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 182


__ADS_3

...Bisakah kita menjadi adik dan kakak?...


"Guzel, letakkan saja sup itu di atas meja. Lalu pergilah membantu Bibi Banu di belakang."


Guzel menatap Aishe untuk sekilas, laku melirik Rehan. Sepertinya, dia Guzel juga cukup peka saat melihat garis senyum di bibir Aishe. Dia lantas tersenyum, lalu pamit undur diri bersama dengan Bibi Banu.


Kini hanya ada Rehan yang masih berdiri di posisinya semula dan Aishe yang duduk bersandar di atas ranjang.


"Tidak mau duduk?" tanya Aishe menatap Rehan yang terlihat gugup.


Tidak ada komentar dari pria bertubuh tinggi semampai dengan berat badan proporsional itu. Namun meski begitu, ia tidak bermaksud mengabaikan Aishe. Nyatanya, pria itu langsung berjalan menuju kursi yang ada di dekat jendela dan duduk di sana.


Aishe menatap nanar pria yang dulu pernah menjambak rambutnya bahkan memakinya dengan umpatan kasar. Pria yang kini justru menjadi saudara ipar dan juga kakak angkatnya.


Aahh … ironis. Namun ada rasa syukur yang tergambar di wajah Aishe.


"Aku tidak tau harus memanggilmu apa? Kau saudara suamiku, tapi juga kakak angkatku," ucap Aishe yang kini pandangan matanya tertuju pada jendela.


"Ya, meski kau tidak mengakuiku. Tapi … ada yang perlu kita luruskan," lanjut Aishe.


"Apa?"


"Apa aku terlalu cerewet sekarang?" tanya Aishe menunjukkan wajah datarnya. Padahal Rehan sudah berusaha untuk serius.


"Hah?"


"Aku bercanda. Ayolah, kau bahkan tidak tertawa sedikitpun, Kakak?" Aishe mencoba menggoda Rehan, berharap wajah kaku pria itu berubah.


Namun reaksi rehan justru di luar dugaannya. Dua mata pria itu terbelalak, seperti kaget dengan panggilan baru dari Aishe. Sebelum dia bereaksi lebih dulu, Aishe melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


"Aku tidak bertanya alasanmu membenciku, juga tidak berharap apapun tentang mu jika kau sendiri tidak mau." Aishe mengalihkan pandangan matanya, menatap dua tangan yang saling terpaut di atas perutnya.


"Ayah Mustafa menyetujui surat adopsi, tapi jika kamu tidak mau mengakui, aku juga tidak bisa berharap banyak. Anggap saja, kita tidak pernah terikat oleh keputusan Ayah Mustafa, agar kamu tidak perlu canggung saat berhadapan denganku."


Suasana di kamar menjadi hening dalam sekejap. Aishe masih menatap tangannya, sedangkan Rehan mengalihkan pandangannya menatap rintik-rintik hujan. Hingga beberapa menut berlalu, Rehan berbicara.


"Kau punya saudara?"


Aishe menggeleng, "Tidak! Kamu jelas tahu ini tanpa harus aku jawab … Kak."


Rehan mengalihkan pandangannya, menatap Aishe sedang duduk dengan ekspresi wajah yang tidak bisa ia tebak. Hela napas Rehan terdengar berat, sebelum akhirnya dia bangkit berdiri, lalu berjalan menghampiri Aishe.


"Aku juga – tidak punya. Sepertinya, tidak ada salahnya, jika kita menjadi saudara." Rehan mengepalkan tangan, lalu merentangkannya.


Kaget? Tentu saja, Aishe bahkan langsung mengangkat kepalanya menatap Rehan yang mengajaknya tos.


"Kau tidak punya saudara dan aku juga, jadi … tidak ada salahnya mencoba menjadi kakak dan adik, bukan?"


Dua sudut bibir Aishe sedikit terangkat saat mendengar alasan konyol dari Rehan. Padahal, sejak awal ia terlihat tidak menerima keputusan Mustafa mengangkat Aishe menjadi anaknya.


"Jadi, aku bisa memanggilmu … Kakak?" Aishe pun turut mengepalkan tangannya, menerima fist bump dari Rehan.


"Yah … tidak buruk juga."


Aishe tertawa ringan, sedangkan Rehan hanya tersenyum melihat wanita yang baru saja ia akui sebagai adik angkatnya itu. Pengakuan Rehan bukan karena hal sepele seperti ucapannya barusan. Namun karena beberapa pertimbangannya beberapa hari ini. Tentang penjelasan Mustafa, juga hubungan antara dirinya dan Diego.


Ya, pada akhirnya, mereka berdua telah sepakat dalam hubungan persaudaraan dan melupakan masa lalu. Memulai lembar baru, seperti yang di jelaskan Mustafa pada Rehan.


TOK! TOK!

__ADS_1


Suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar dari luar, dan langsung di izinkan masuk oleh Aishe. Rupanya, itu adalah Guzel, yang datang bersama Dokter Ha dan seorang wanita paruh baya.


"Nyonya, bagaimana keadaan Anda," tabya Dokter Ha.


"Sepertinya tidak begitu baik. Aku baru saja mengosongkan isi perutku!" keluh Aishe.


Dokter Ha menaikkan sudut bibirnya sesaat, lalu memperkenalkan seorang wanita paruh baya yang masuk bersamanya.


"Dia adalah Dokter Hanun, juniorku dulu saat di universitas. Kebetulan, dia dokter kandungan," ucap Dokter Ha sopan.


"Perkenalkan, Nyonya. Saya Hanun, yang selanjutnya akan memeriksa Nyonya sampai Anda melahirkan." Wanita paruh baya berumur 40 tahun itu memperkenalkan diri dan langsung mendapat sambutan ramah dari Aishe.


Setelah me.perkenalan diri, Dokter Hanun mulai memeriksa Aishe. Lalu mencercanya dengan berbagai keluhan, agar dia bisa memberi Aishe obat. Tidak lupa, dia juga menjelaskan tentang keadaan awal kehamilan yang mungkin bisa Aishe rasakan mulai dari sekarang.


"Beberapa obat dan vitamin harus ditebus di apotik terdekat. Untuk menghilangkan mual, kebetulan saya membawa beberapa butir," kata Dokter Hanun menjelaskan.


"Bagaimana bayinya di dalam perutnya?" sela Rehan terdengar antusias di telinga mereka semua, tapi bagai Rehan itu hanyalah pertanyaan formalitas saja.


"Sangat baik, Tuan. Anda tidak perlu cemas," jawabnya menoleh pada Rehan yang berdiri di belakang Dokter Ha.


Mendengar Rehan begitu antusias, Aishe merasa sedikit senang. Rupa-rupa nya, dia begitu perhatian, bahkan sangat antusias. Tidak hanya Aishe, bahkan Guzel pun juga tersenyum melihat tingkah Rehan.


"Oh, oke," balas Rehan singkat yang kemudian memalingkan wajahnya sambil bersedekap tangan.


...☆TBC☆...



Ngajarin bang Reha biar gak galak-galak lagi 🤭🤣

__ADS_1


__ADS_2