Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 154


__ADS_3

Kini, sudah genap 4 hari setelah penyerangan Max di rumah pribadi Diego. Emmil sudah sadar tepat kemarin malam. Istri dan anaknya pun sudah berada di rumah sakit merawatnya dengan sepenuh hati. Beberapa jam sebelumnya, Ashan juga sudah berhasil menemukan jasad Max, setelah melalui lebih dari 24 jam sejak dia turun tangan bersama anak buahnya.


Sekarang, satu hal yang harus mereka urus adalah pemakaman Bibi Nie. Pengurus rumah tangga keluarga Gulbar yang sudah setia selama hidupnya. Bahkan, putri kebangaannya berhasil menyelamatkan calon penerus keluarga Gulbar.


Guzel terlihat sudah rapi, dengan long dress putih yang disiapkan oleh Ashan atas perintah Diego. Model baju dengan satu bagian pundak dan lengannya yang terbuka, membuat dirinya terlihat lebih nyaman. Ya, ini adalah dress sederhana yang semalam di desain oleh Ashan kepada salah seorang desainer. Dalam hal ini, Ashan rupanya cukup perhatian pada Guzel. Wanita yang berhasil mencuri hatinya beberapa hari terakhir. 


"Guzel, kamu sudah siap?" Suara Ashan terdengar bahkan sebelum ia membuka pintu dengan sempurna. Membuat Guzel yang berdiri mengemasi barang-barang dan memasukkannya ke dalam tas, langsung menoleh. 


"Oh, hampir!" jawabnya.


Ashan melangkah masuk, membantu Guzel berkemas dan memasukkan semua barang-barangnya ke dalam tas, sambil ngomel sedikit.  "Kenapa tidak minta bantuan perawat?" 


"Sudah. Mereka sudah membatu sebagian, ini hanya sisa beberapa saja."


Ashan terlihat begitu cekatan, memasukkan satu persatu barang Guzel, lalu segera menutup tas begitu selesai. 


"Butuh kursi roda?" Ashan menoleh, menatap Guzel yang sejak tadi berdiri di sampingnya.


"Tidak perlu! Lagi pula yang terluka pundakku bukan lututku!" jawab Guzel mengalihkan wajahnya dan langsung berpura-pura sibuk mengambil sling bag, lalu memakainya. 


"A-ayo berangkat!" ajak Guzel membelakangi Ashan.


Entah mengapa, dua sudut pria bertubuh semampai itu terangkat begitu saja. Padahal wanita idamannya sedang menghindari dirinya, bahkan enggan menatapnya.


Tanpa menjawab, Ashan mengikuti langkah Guzel yang berjalan lebih dulu di depannya. Namun saat Guzel hendak berhenti di depan kamar Diego, Ashan menarik tangannya sedikit, hingga membuat gadis dengan rambut bergelombang itu menoleh. 

__ADS_1


"Tidak perlu!" ucapnya begitu gadis bermata indah itu menoleh. "Tuan dan Nyonya akan segera menyusul kita." 


"Oh, baiklah."


Sementara mereka berdua pergi bersama dengan Eraz. Disisi lain Diego terlihat menggerakkan pergelangan tangan kiri yang sudah 3 hari terpasang infus dan baru saja di lepas oleh perawat, sembari menggobrol dengan Dokter Ha.


"Kaki Anda baru saja pulih, Tuan. Beruntung, pelurunya tidak sampai menembus ke bagian yang berbahaya," jelas Dokter Ha.


"Selama satu bulan ini, jangan gunakan kaki Anda terlalu sering untuk mencegah sesuatu yang tidak diinginkan." Doktee Ha masih terus memberi saran pada Diego.


"Luka tembaknya sudah ditutup dengan plester anti air, jadi anda tidak perlu khawatir jika ingin mandi."


Tepat pada saat Dokter Ha menjelaskan bagian terakhir, Aishe yang baru saja selesai mandi terlihat buru-buru keluar dengan handuk yang membelit tubuhnya. Keberadaan Dokter Ha dan dua suster tentu saja mengagetkannya, hingga tubuh setengah basah itu mematung.


Beruntung, Dokter Ha sedang menghadap Diego dan membelakangi dirinya. Sehingga dokter yang sudah menjaga Diego selama 6 tahun itu tidak melihatnya. 


"Aku tidak ingat kalau kau cerewet seperti ini sebelumnya! Sudah sejak kapan?" Percakapan Diego dengan Dokter Ha seperti memberi ruang bagi Aishe untuk mengambil baju dan masuk kembali ke kamar mandi. 


Sedangkan ekspresi wajah Dokter Ha justru bingung setelah mendengar pernyataan Diego. 


Ashan bilang, moodnya sudah jauh lebih baik sejak ia bersama Nona Aishe. Tapi apa? 


Dokter Ha menelan salivanya kasar dan mencoba tersenyum setelahnya, meski pernyataan Diego tidak rasional.


"Kalau begitu, saya permisi dulu, Tuan." 

__ADS_1


Setelah memastikan Dokter Ha keluar, Aishe yang masih memakai handuk mencoba mengintip dengan mengeluarkan setengah badanya. 


"Sudah jangan mengintip lagi. Dokter Ha sudah pergi," ucap Diego berusaha bangkit berdiri dari brankar. 


Melihat sang suami hendak berdiri, Aishe terlihat tergopoh-gopoh menghampirinya, lalu berusaha memapah tubuhnya. 


"Mau kemana?" tanya Aishe dengan suara lembut.


"Pergi mandi, kemana lagi?" jawab Diego sambil menoleh, menatap Aishe yang mencoba memapahnya. 


Melihat raut wajah sang istri, juga handuk yabg melingkar di tubuhnya, entah mengapa, jiwa jailnya bergejolak. Dengan nada sedikit menggoda, dan tatapan yang juga mendominasi, ia melanjutkan kalimatnya.


"Jadi, apa istriku juga berkenan membantuku mandi?" 


Seketika, Aishe melepaskan tangannya dan segera bergeser selangkah. "Mandi saja sendiri!"


...☆TBC☆...



Sebagian udah kenal dong ya sama Ji-Sung Oppa satu nih 🤭 Dia bakal nonggol di novel sebelah yang sedang di godok, jadi nantikan judul baru Othor. tentunya setelah Om Duda selesai 🤣🤣


ohh satu lagi 🤭


Terima Kasih untuk semua doanya. Meski belum sepenuhnya membaik, tapi Othor berusaha untuk tetap menemani kalian setiap hari.

__ADS_1


See You Next Bab 💋💋


__ADS_2