Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 49


__ADS_3

Ruangan itu mempunyai panjang kurang lebih 10 meter yang terbagi menjadi dua dengan sekat kaca tebal, dan lebar kurang lebih 5 meter. Dua lampu panjang terpasang di tengah. Satu sisi tempat mereka berdiri terdapat sofa, sedang tempat yang lain hanya ada satu kursi dari alumunium dengan dudukan kayu.


Seorang pria bertubuh kurus, dengan baju tahanan berwarna biru, senada dengan celana panjangnya, masuk ke dalam ruangan yang berbeda dengan Aishe.


Pria itu terlihat bersih, tidak kotor atau kumal, tetapi sangat kurus. Wajahnya penuh lebam, tangannya pun terlihat beberapa memar, terutama di pergelangan tangannya. Seperti bekas terikat kain yang cukup kuat.


Aishe hampir tidak mengenali pria itu, padahal baru beberapa hari sejak dia ditangkap. Bulu-bulu tipis terlihat memenuhi rahang hingga lehernya, meski tubuhnya tidak kotor.


Apa itu benar-benar Farhan?


Aishe berjalan mendekat, sekitar empat langkah dari posisi semula. Matanya menelisik, melihat setiap inci tubuh mantan tunangannya itu.


"Dia tidak bisa melihatmu!" ucap Diego tiba-tiba, membuat Aishe menoleh.


"Kaca dua arah?"


"Benar!"


Aishe kembali menatap Farhan. Pria itu berjalan sedikit mengangkang, lalu berusaha menyamankan diri duduk di kursi. Farhan terlihat beberapa kali membetulkan posisinya dengan meringgis seperti menahan rasa sakit di pantat.


"Kau ingin bicara dengannya? Sepertinya kisah kalian belum selesai." Diego menatap Farhan penuh rasa jijik.


"Bicara dengan mantan bukan berarti kisah mereka belum usai, Tuan."

__ADS_1


Diego mendengus diam-diam, "Berdirilah di sisi kiri, dia akan melihatmu."


Aishe berjalan ke sisi kiri tanpa ragu tanpa berkata apa pun pada Diego. Lalu, dia berdiri setidaknya dua langkah dari kaca.


Perlu beberapa detik sejak Aishe berdiri di sana, sampai Farhan menyadari akan kehadiran mantan tunangan yang pernah dia bunuh dulu. Dengan ekspresi wajah terkejutnya, dia berdiri dan berlari dengan kaki sedikit mengangkang.


"Aishe … Aishe."


Panggilan itu melengking di telinga Aishe, seakan membawa nada pilu yang tak tertahankan. Nada yang sama seperti saat dia jatuh ke dalam laut dan berteriak memanggil namanya.


Aishe mengepalkan tangannya kuat-kuat berusaha menahan segala rasa sakit dalam hati, yang ternyata belum terobati.


Farhan dengan putus asa memukul-mukul kaca dengan tangannya sambil terus berteriak memanggil nama Aishe. Namun, gadis yang kini berdiri di hadapannya bukan gadis yang sama seperti dulu.


Aishe berdiri tegak dengan gaya angkuh dan sombong. Melihat Farhan sekarang seperti seekor semut di bawah kakinya.


"Aishe, aku minta maaf. Aku minta maaf padamu!" Teriaknya tanpa di pedulikan.


"Aishe, tolong bawa aku pergi dari sini. Aku akan melakukan apapun, tolong selamatkan aku! Panggil pengacara untukku, aku mohon!"


Melihat Farhan seperti itu, dalam hati Aishe timbul rasa puas. Dia dulu juga meronta seperti itu, meronta dengan rasa putus asa ingin diselamatkan dari pulau itu. Namun perbedaannya, dia tidak meronta pada Farhan. Seperti pria itu meronta padanya.


"Kenapa aku? Kenapa harus aku?" Aishe tertunduk, dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah.

__ADS_1


"Apa? Aishe kamu berkata apa? Kamu akan cari pengacara untukku kan?" seru Farhan yang tidak mengetahui bahwa suaranya didengar dari ruang samping, tetapi ruangan Aishe di desain kedap suara.


"Aku hanya anak yatim piatu. Tidak punya orang tua, tidak dianggap oleh keluarga bahkan saudara. Sejak sekolah, aku berusaha sendiri dengan kemampuanku untuk bertahan hidup. Tidur di bawah kolong tangga hanya beralaskan kardus di musim dingin." Aishe terisak, membayangkan betapa susahnya hidupnya dulu.


"Kenapa, kenapa harus aku? Kenapa kau memilihku!" Suara Aishe terdengar lantang penuh pilu dan amarah.


"KENAPA HARUS AKU!" ucapnya sembari mengeluarkan sebuah pistol dari pinggangnya dan diarahkan tepat di kepala Farhan.


Kedua mata Farhan melotot tidak percaya. Aishe dulu adalah gadis lugu yang lembut. Senjata api seperti itu, dari mana dia bisa mendapatkannya?



Tindakan gegabahnya membuat Diego, Rehan, dan Eraz tersentak kaget dan langsung berlari menghentikan tindakan konyol gadis itu. Beruntung, sebelum Aishe menarik pelatuk, dirinya sudah di dorong Diego hingga jatuh ke lantai.


"Tu-Tuan … kaki Anda?" ucap Aishe saat menyadari yang berada di atas tubuhnya adalah Diego.


Mendengar ucapan Aishe, Rehan dan Eraz saling memandang. Tangan mereka menyingkap jaket, hendak mengeluarkan sesuatu, tetapi ditahan karena menunggu aba-aba dari Diego.



Farhan diapain kira-kira, sampe jalannya ngangkang gitu?? Seperti abis kena rudal ... ups🤭


Aishe tau Diego udah bisa ... kira-kira bakal diapain?

__ADS_1


__ADS_2