
...Beautiful Wedding...
...bagian 1...
Diego mengerjap matanya perlahan, sembari menggerayangi sisi kanan, mencari sosok sang istri. Namun, sisi itu telah kosong, ia tidak mendapati tubuh Aishe yang sejak semalam di dekapnya. Hingga akhirnya, dua mata indah dengan manik kecoklatan itu terbelalak. Dia mengedarkan penglihatannya, menatap ruangan yang sunyi senyap. Dengan cepat ia menyingkap selimut, berlari ke kamar mandi mencari sang istri, tetapi nihil. Bahkan di walk in closet pun, ia tidak mendapati bayangan Aishe.
Kaki panjang itu kembali melangkah, tujuannya kini lebih luas lagi, yaitu beberapa tempat yang selalu membuat istrinya menghabiskan hampir setengah harinya. Namun saat ia membuka pintu, Bibi Banu dengan pakaian rapi berhenti dan menyapanya.
“Selamat pagi, Tuan?” Bibi Banu melihat Diego seperti resah, mencari sesuatu. Hingga akhirnya, ia berinisiatif bertanya, agar bisa membantu Diego.
“Apa yang Anda cari, Tuan?”
“Ishe … di mana dia?” Diego kembali mengedarkan matanya, mencari keberadaan sang istri yang entah ada di mana?
“Nyonya? Apa Anda melupakan sesuatu, Tuan?” jawab Bibi Banu yang semakin membuat Diego kebingungan.
“Lupa? Lupa apa?”
“Pernikahan! Hari ini acara pernikahan Anda. Apa Anda lupa, Tuan?”
Diego menyibak rambut tengahnya. Dia sendiri mengingat dengan jelas jika hari ini adalah resepsi pernikahannya. Namun, yang ada di pikirannya adalah, hubungan dengan keberadaan sang istri.
“Ingat, ingat. Aku ingat dengan baik. Justru karena ini hari pernikahan. Dimana dia sekarang?”
__ADS_1
“Oh, Anda tidak perlu cemas, Tuan. Nyonya Besar sudah mengajak nyonya ke hotel untuk merias diri.”
Diego membulatkan kedua matanya, antara kaget dan heran. Jam di dinding bahkan masih berada di angka 9 lebih sedikit, sedangkan acara pernikahan mereka dimulai sore hari.
“Jadi, mereka semua sudah pergi ke hotel? Termasuk Guzel dan … siapa nama wanita itu?” Diego mencoba mengingat seorang maid yang selama ini menjaga sang istri.
“Rubby, Tuan. Benar, mereka sudah pergi ke hotel, Tuan,” jawab Bibi Banu sambil membetulkan tasnya, seakan ingin memberitahu tuannya, jika dia juga akan segera pergi menyusul mereka.
“Jangan bilang jika Bibi Banu juga akan menyusul mereka?” tanya Diego.
Namun Bibi Banu tidak berkomentar, hanya tersenyum sambil menyingkap rambutnya ke belakang telinga. Tindahan Bibi Banu seketika membuat Diego mengert, dan pada akhirnya hanya bisa menghela napas kasar, kemudian mempersilahkan Bibi Banu untuk menyusul mereka. Bahkan, Diego secara khusus meminta Alv mengantarnya.
Setelah melihat Bibi Banu pergi, Diego kembali ke kamarnya, mengambil ponsel lalu menghubungi seseorang. Tertera dengan jelas di layar ponsel, nama Eraz di sana.
“Tuan.” Suara berat Eraz terdengar samar, menyapa Diego dengan sopan.
“Aman, Tuan. Aku dan Emil sudah berjaga sejak semalam, semua sudut sudah di periksa. Bahkan buket bunga, perlengkapan dekorasi, juga kereta yang akan melintas di selat Bosphorus sudah kami atur sesuai dengan instruksi dari Tuan Besar.
“Bagus. Jangan lupa periksa juga para tamu, tidak peduli meski mereka pengusaha sukses, pejabat, ataupun pemburu berita. Periksa semuanya! Pernikahan ini harus berjalan lancar!” titah Diego dengan tegas.
Kejadian ledakan saat acara ulang tahun Aishe seakan menjadi trauma yang mendalam dan membuatnya waspada terhadap siapapun meski musuh utamanya sudah mati.
“Baik, Tuan, saya mengerti. Tapi ….” Perkataan Eraz tertahan untuk sesaat, sampai akhirnya Diego menyuruhnya untuk melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
“Itu … Nona Emine, dia kembali hari ini,” lanjut Eraz.
Wajah teduh yang tadi sempat terlihat, kini berubah. Kedua matanya memincing tajam, bahkan napasnya sempat terdengar berat. Dengan penasaran, ia bertanya, “Emine? Kapan?”
“Pesawat yang ia naiki kemungkinan akan mendarat pukul 6 sore ini, Tuan.”
“Ibuku tau akan hal ini?”
Eraz terdiam sesaat. Sangat tidak mungkin bagi Mirey untuk tidak mengetahui kabar ini, terlebih, gadis muda yang baru berusia 25 tahun itu merupakan anak dari teman dekatnya.
“Sudahlah. Fokus saja untuk memeriksa siapapun yang datang nanti. Tidak peduli bahkan jika mereka teman baik Mirey atau Denis.”
“Baik, Tuan!”
...☆TBC☆...
...Dendam Cinta Tuan Alvin...
...by Nurma Azalia Miftahpoenya...
Karena dendam pada seorang pria yang di yakini merebut wanita pujaannya sejak kecil, Alvino Maladeva akhirnya berencana membalas dendam pada pria itu melalui keluarga tersayang pria tersebut.
__ADS_1
Syifana Mahendra, gadis lugu berusia delapan belas tahun yang memutuskan menerima pinangan kekasih yang baru saja ditemui olehnya. Awalnya syifa mengira laki-laki itu tulus mencintainya hingga setelah menikah dirinya justru mengetahui bahwa ia hanya di jadikan alat balas dendam pada kakak satu-satunya.
Lalu apakah Syifana akan terus bertahan dengan rumah tangga yang berlandaskan balas dendam tersebut? Ataukah justru pergi melarikan diri dari kekejaman suaminya sendiri?