Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 44


__ADS_3

Setelah sampai dirumah, Aishe buru-buru melepas sepatu high heels-nya. Bahkan tasnya dilempar begitu saja entah jatuh kemana. Dengan langkah kaki pendek tetapi cukup cepat, dia berlari masuk ke dapur. Mengeluarkan segala isi yang ada di dalam lemari pendingin, untuk menyiapkan makan malam.


Tangan berjemari lentik itu cukup terampil memotong wortel, mengupas udang segar, dan mencincang bawang putih. Meski ia tidak tahu makanan yang paling di suka Diego, setidaknya dia tahu makanan yang tidak disukainya.



Prawn Avocado Salad. Begitu dia menyebutnya saat mencampur baby lettuce, alpukat, wortel, tomat, juga udang yang sudah direbus dan dicampur garam. Dicampur menjadi satu dan ditata dengan cantik di atas piring.


Setelah itu, dia merebus pasta dan menyiapkan saus. Tidak lupa memotong buah-buahan, roti kering dan menyiapkan keju oles. Semua sudah di tata rapi di atas meja, bahkan lilin pun sudah berada di tempatnya.


Satu jam berkutat di dapur tanpa mau dibantu siapapun, meski beberapa pelayan menawarkan diri. Kini, hanya tinggal setengah jam lagi sampai Diego kembali ke rumah.


Aishe buru-buru naik ke atas untuk membersihkan diri, dan mengganti bajunya, usai menata meja makan.


Entah kenapa, saat dalam perjalanan pulang ke rumah, dia tiba-tiba berniat untuk mengajak Diego dinner sebagai tanda ucapan terima kasih.


Farhan sudah ditangkap, hukumannya juga hanya tinggal menunggu keputusan dari persidangan. Kesepakatan diantara mereka pun akhirnya berakhir. Alasan itu sudah cukup bagi Aishe untuk mengadakan jamuan perpisahan.



Aishe mengeluarkan salah satu dress koleksinya yang cukup sexy. Menorehkan lipstik merah di bibir dan menyemprotkan parfum. Dia tidak membayangkan bagaimana malam ini akan berakhir nantinya, karena dia hanya ingin menikmati makan malam sembari mengobrol dengan santai.

__ADS_1


Di sudut dapur, ada sebuah pintu kecil menuju sebuah gudang tempat menyimpan beberapa botol wine juga whisky kesukaan Diego. Aishe turun setelah selesai bersiap dan mengambil satu botol koleksi wine milik Diego, lalu menaruhnya di atas meja makan.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 7.30 malam. Sejak Diego kembali ke perusahaan, dia selalu kembali pada jam yang sama dan hampir tidak pernah terlambat.


Melihat jam yang sudah melebihi waktu pulang Diego, Aishe segera bangkit berdiri dan bersiap menyapa Diego. Ia bahkan terlihat membetulkan dress dan rambutnya.


Namun sudah sepuluh menit dia berdiri, Aishe tak kunjung melihat daun pintu itu bergerak sedikit pun. Dia mulai sedikit resah, takut jika terjadi apa-apa pada Diego, tetapi pikirannya masih berusaha positif thinking.


Hingga, jam di dinding menunjukkan pukul 10 malam. Tangan dan hatinya gatal, sudah tidak bisa menahan kesabarannya lagi. Dia berjalan mengambil ponsel dan menghubungi Ashan karena Aishe tidak menyimpan nomor Diego, bahkan tidak pernah berkomunikasi dengannya melalui telepon.


"Nona …." jawab Ashan terdengar sopan.


"Ashan … maksudku, Pak."


"Oh ba-baik."


"Ada apa, Nona? Apa Anda memerlukan sesuatu?"


Aishe menggigit bibir bawahnya. Wajahnya sedikit bingung, marena tidak tahu harus mulai berbicara dari mana.


"Itu … tuan. Apa dia bersamamu?" ucapnya sedikit gugup.

__ADS_1


"Tuan Diego? Ya, dia bersamaku. Kami sedang menghadiri pesta sekarang. Apa Anda ingin berbicara dengannya?"


"Ti-tidak. Tidak perlu."


Aishe mengakhiri panggilannya begitu saja. Ada perasaan kesal yang tidak bisa di tutupi dari wajahnya. Terlalu kecewa, sudah pasti.


Setelah mengakhiri panggilan, dia meletakkan ponselnya kembali di atas meja lalu mulai makan. Mencicipi semua masakannya sendiri meski telah dingin, seakan tidak mau semua usahanya sia-sia.


Dan tiba-tiba saja, air matanya menetes jatuh di atas piring. Sudah seperti itu, dia masih tidak peduli dan terus makan, tidak membiarkan perutnya yang sudah lapar menunggu lebih lama.


Aku tidak sedih! Tidak.


Ini adalah air mata kecewa, air mata marah. Benar, aku tidak sedih.



Selesai mencicipi semua masakannya. Dia bangkit berdiri, mengambil sebotol wine dan menyisihkannya terlebih dahulu. Lalu, mengambil keempat ujung taplak meja dan menjadikannya satu bagian. Membungkus semua yang ada di atas meja termasuk piring, gelas dan juga lilin. Dengan derap langkah kesalnya, dia menyeretnya semua itu sendirian dan memasukkannya ke tempat sampah yang ada di luar.


Sudah melampiaskannya begitu, hatinya masih belum lega juga. Dia menuang secangkir wine dan memutar musik, kemudian menari dengan bahagia. Menikmati keberhasilan dan kehidupan barunya yang akan segera datang.


Benar, perjanjiannya telah selesai dan dia bisa hidup bebas tanpa jeratan Diego.

__ADS_1


...**☆TBC☆...


__ADS_2