Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 115


__ADS_3

Setelah melihat Aishe terlelap. Diego melepaskan dekapannya dan turun dari ranjang. Ia terlihat merogoh sakunya mengambil ponsel, lalu berjalan sedikit menjauh sambil menghubungi seseorang.


"Tuan …." suara samar dari Ashan terdengar dari balik telepon


"Katakan."


"Sekretaris Max sempat menghadang kami. Dia bahkan menunggu sampai dokter mendiagnosa Guzel."


"Ya, wanita disamping Max memang selalu gigih melakukan pekerjaannya." Jawab Diego singkat. "Antar Guzel kembali jika dia sudah merasa lebih baik."


Rupa-rupanya, demi mengecoh anak buah Max yang mengawasi gerak geriknya, Diego sengaja membawa Guzel pergi dengannya yang kebetulan pada saat itu sedang demam. Bahkan, ia sempat menyuruh Guzel memakai pakaian yang hampir sama dengan Aishe.


Diego berhasil lolos dari mata-mata Max kali ini, tetapi bagaimana dengan selanjutnya?


Sudah satu jam lebih Aishe terlelap, kini ia membuka matanya perlahan. Pertama yang dia lihat adalah wajah pria, yang dua bulan lalu ternyata sudah menyandang status sebagai suami. Dia memandang wajah Diego lekat-lekat, sangat lekat sampai ia tidak peduli jika sang suami tidak menutup matanya.


"Kenapa? Kenapa menatapku seperti itu?"


Aishe bukannya menjawab, justru menutup bibir Diego dengan jari telunjuknya. "Sstt, menyebalkan! Kenapa berbicara?" protesnya terdengar menyimpan kejengkelan dalam setiap kata-katanya.


Tentu Diego langsung mengerutkan kening, seakan tidak terima diperlakukan seperti itu. Namun pada akhirnya, dia hanya diam, sampai sang istri puas memandangnya.


"Baiklah, ayo bangun!" Diego bangkit berdiri lebih dulu. "Sudah siang, kamu belum makan apapun sejak pagi," lanjutnya membantu sang istri duduk bersandar dengan bantal.


"Tapi aku tidak berselera, Die." Aishe menatap Diego, memamerkan wajah memelas agar pria itu mengerti. Namun Diego hanya menatap wajah itu sekilas, lalu mendorong Overbed Table ke sisi Aishe dan mengeluarkan isi paper bag yang setengah jam lalu di bawakan oleh Rehan.

__ADS_1


Satu persatu Diego mengeluarkan isi dari 3 paper bag. Mulai dari hingga bebek kesukaan sang istri. Semerbak harum gurih nan lezat bercampur menjadi satu di dalam ruangan. Namun tidak sedikitpun menggugah selera istrinya.



"Aku tidak berselera, Die?" Aishe menatap sang suami yang duduk di tepi ranjang.


Diego menulikan telinganya, menatap Aishe untuk sesaat, lalu menghela napas. Ia menyobek roti pide dengan tangannya, menambahkan sepotong daging di atas lalu menyodorkannya.


"Makanlah, untuk anak kita, Sayang. Biarkan dia sehat dan tumbuh dengan baik di dalam perutmu, oke!" bujuk Diego dengan sangat sabar.


Aishe perlahan menaruh kedua tangan di atas perutnya. 'Benar, aku memiliki bayi sekarang.' Sesaat dia merenung, memikirkan janin yang sedang butuh banyak nutrisi untuk berkembang, sebelum akhirnya menatap tangan Diego yang sudah siap dengan makanan.


Ia perlahan-lahan membuka mulut, menerima satu suapan yang langsung berasal dari jemari tangan sang suami.


"Istriku sangat pintar!" Diego mendekatkan bibirnya, memangkas jarak sejengkal itu dengan cepat, dan mendaratkan bibirnya tepat di kening Aishe.


Diego mengambil sendok, lalu mengambil sup Mercimek yang masih hangat dan kembali menyuapi Aishe.


"Kau juga pandai menipu, Sayang."


"Kapan aku menipumu?" Nada Aishe sedikit meninggi, tidak terima ketika Diego menyebutnya sebagai penipu, karena ia merasa tidak pernah menipunya.


"Kamu lupa? Saat makan malam pertama kita, kau berbicara tentang ayah dan ibumu, juga tentang dirimu yang transparan."


Glek! Aishe menelan salivanya. Kejadian itu sudah lewat berbulan-bulan yang lalu, meski pada awalnya dia menebak jika Diego mungkin sudah mencari tahu kebenarannya. Namun dia tidak menyangka, jika pria itu akan membahasnya kali ini.

__ADS_1


"Sejak kapan kau tau?" Aishe menatap serius wajah sang suami.


"Sejak awal."


Sejak awal? Sejak awal dia tahu kalau aku berbohong padanya tentang ayah yang meninggal karena depresi kehilangan ibu. "Lalu kenapa kau tidak menghentikan kebohonganku dulu?" Aishe masih menatap Diego, lihat bagaimana pria itu akan bereaksi.


Namun Diego sama sekali tidak marah. Sikapnya terlihat tenang, bahkan ketika Aishe menatapnya dengan sorot mata tajam. Ia mengangsurkan tangan, meraih helaian rambut di kening Aishe dengan tangan kirinya.


"Karena aku tidak mau membahas luka, yang berusaha kau tutupi dengan sebaik mungkin. Kematian ayah dan ibumu, adalah luka yang tidak ingin kau sentuh meski sudah mengering," jelasnya lembut, sangat lembut hingga membuat Aishe terenyuh.


"Kenapa kau baik padaku, Die?"


"Kenapa?" Diego kembali mengambil sup dan menyuapi Aishe. "Karena kau berhasil menarik perhatianku. Apa jawaban ini cukup memuaskan, Istriku?"



Auroranya bumil beda ya ... lebih sensian tapi cantiq. wkwkwk.


Aurora aurora 🤭🤭


Budayakan Like ya Kakak-Kakak kece 💋💋


Nungguin sajen ke kumpul, baru Up lagi 🤣🤣


Vote juga ding, kan udah senen.

__ADS_1


Biarkan Othor jadi kang palak! Emang kalian doang yang boleh palakin bab 🤭🤭


__ADS_2