Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 133


__ADS_3


Mentari perlahan menyapa sisi bumi di belahan timur. Cahayanya begitu menyilaukan, menyingkap kegelapan malam yang sempat mencengkam pagi sebagian orang. Burung burung mulai berkicau, desir dedaunan yang baru tumbuh dan diterpa angin terdengar sedikit samar.


Guzel terlihat menutup mata dengan selang infus di tangan kirinya, juga sebagian pundaknya yang ditutup perban. Mungkin, efek bius total sisa operasi masih bekerja. Di sampingnya, terlihat Ashan dengan mata terbuka sedang menjaga Guzel.


Disisi lain, Diego yang baru selesai menjalani operasi dengan bius lokal, justru terlihat memberontak. Dia sangat ingin keluar dari rumah sakit dan pergi menemui Max, akan tetapi Eraz dan Emmil menahannya sekuat tenaga.


"Anda baru saja selesai operasi, Tuan!" pekik Eraz mencoba menenangkan Diego. Namun tangannya beberapa kali ditepis begitu saja.


"Tuan, tenanglah. Jika kita menyerang tanpa rencana, yang ada hanya kekalahan telak! Anda tidak akan mungkin bisa bertemu dengan Nona Aishe!" potong Emmil.


Benar, serangan tanpa rencana tidak akan baik untuk mereka. Terlebih, kondisi Diego sendiri kurang stabil, begitu juga anak buah yang sudah bertempur semalaman. Ucapan dari Emmil secara langsung menyadarkan Diego dari emosi sesaatnya, membuat pria dengan tangan yang terbalut kasa itu kembali duduk dengan tenang ke atas brankar.


Eraz dan Emmil sempat saling menatap untuk sesaat, lalu menghela napas bersamaan. Melihat emosi Diego sedikit mereda, tentu saja mereka cukup lega.


"Dimana Rehan? Beritahu dia untuk menghubungi ayahnya!" Diego terlihat memijat kepalanya sesaat. Lalu melihat dua anak buahnya masih diam berdiri di tempat, dia pun protes.


"Kenapa masih tidak bergerak!" serunya lantang.

__ADS_1


Pada saat yang sama, Ashan dengan tenang berjalan masuk ke ruang rawat inap Diego yang terletak di samping kamar Guzel. Mungkin pria ini sempat mendengar teriakan Diego, hingga akhirnya memutuskan untuk turun tangan.


"Tuan, Nona Aishe dibawa Paman Mustafa ke kapal pesiarnya. Tidak ada sinyal disana untuk saat ini, tapi mereka sempat memberi informasi tentang keadaan no … haruskah saya memanggil 'nyonya' sekarang?"


Ashan merogoh sakunya untuk mengambil ponsel. Tangan dengan jemari ramping itu sempat membuka pesan, sebelum akhirnya dia menyerahkan ponse itul pada Diego.


Ada sebuah video yang terputar. Terlihat di dalam video, Aishe sedang melambai dengan senyum termanisnya. Ada juga seorang wanita yang mengobati kaki Aishe dengan sangat hati-hati.


"Hai, Sayang." Suara Aishe terdengar begitu merdu, meski sedikit serak. "Ayah, Aku, dan calon anak kita, sudah berada di tempat yang aman," lanjutnya sambil mengusap perut yang masih datar, seranya menunjukkan bahwa janinnya baik-baik saja.


"Kamu tidak perlu mencemaskan kami, Sayang." Aishe terlihat menyingkap rambutnya di balik telinga.


"Rawat lukamu dengan baik dan patuhlah pada kakak iparmu, mengerti?" Lalu dia menatap tajam ke arah kamera, dan menaikkan satu sudut bibirnya seolah-olah sedang tersenyum, padahal senyumnya justru mengisyaratkan sebuah ancaman.


Dua sudut bibit Diego terangkat, sorot matanya bahkan terlihat cukup tenang setelah melihat keadaan sang istri yang sempat mengancamnya.


"Aku akan tidur sebentar, lalu berkeliling melihat kapal pesiar milik ayah!" Diego masih menatap layar yang menampilkan wajah cantik Aishe dan mendengarkannya dengan seksama.


Aishe tiba-tiba berdecak, lalu memutar bola matanya dan kembali menatap kamera. "Sebenarnya, seberapa kaya ayah angkatku ini? Kau harus memberiku penjelasan, oke!"

__ADS_1


Diego kembali menarik dua sudut bibirnya sedikit lebih lebar dari sebelumnya, dan mengumpat sang istri. "Dasar bodoh!" ucapnya lirih lalu melempar ponsel itu pada Ashan.


"Dimana ponselku?" tanya Diego memandangi ketiga anak buahnya yang berdiri persis di hadapannya.


"Ponsel Anda sudah hancur, Tuan," sela Eraz menyodorkan ponsel milik Diego dan Aishe yang sempat ia pungut saat memantau anak buahnya membereskan sisa kekacauan di rumah.


"Belikan aku yang baru, ganti juga milik nyonya!" Diego merebahkan tubuhnya, dan menarik selimut.


Tindakan Diego berhasil membuat mereka bertiga cukup lega. Setidaknya, Diego tidak akan bergerak gegabah untuk sementara ini.


"Kirim video itu ke ponsel baru ku nanti!" lanjut Diego sambil menutup mata. "Pergilah, aku ingin tidur!"


"Ba-baik, Tuan!" jawab mereka bertiga kompak, kemudian pergi meninggalkan Diego.



Pengen sat set biar cepet kelar 🤣🤣


Ada yang mau bantuin? Dengan kirim kopi misalnya 🤣🤣🤣

__ADS_1


Readers be like : Kopi mulu sih, Thor? gak kembung?


Tak jawab : Justru kembung itu yang bikin Sat Set nulisnya 🤣🤣🤣🤣


__ADS_2