
"Oh … oh, A-Ashan, panggilkan dokter!" Aishe berteriak seperti orang gila, menatap Ashan yang sedang menyiapkan senjata, kemudian menatap Diego yang berdiri dengan bantuan kursi roda.
"Die, jangan bercanda! Cepat duduk seperti semula!" Aishe terdengar panik, mencoba mencari tuas untuk mengembalikan posisi kursi roda yang sudah tegak berdiri.
"Ishe, tenanglah!" Diego mencoba menenangkan kekasihnya, namun wanita itu masih terus mencari. "Aku tidak apa-apa, ini kursi roda khusus yang aku pesan dari dokter."
Mendengar penjelasan Diego, Aishe menghentikan pencariannya. Dia berdiri memandang Diego yang ternyata tingginya melampaui dirinya.
"Apa benar tidak sakit?" tanya Aishe memastikan.
"Iya, kamu mengkhawatirkan aku?" Diego berusaha menggodanya.
Aishe menyeritkan alis kemudian membuang muka sambil mendengus kesal. Rasanya dia sudah rugi karena mengkhawatirkan pria yang jelas-jelas baik-baik saja.
Tepat pada saat dia merajuk, Ashan meletakkan beberapa senjata di meja panjang yang ada di hadapan Diego. Setelah semuanya siap, Diego menarik tangan Aishe lalu membalik tubuhnya agar berdiri di depan dan menghadap ke papan bidikan.
Ashan yang berdiri di samping memberikan satu per satu perlengkapan pengaman kepada Diego. Sedangkan pria berkepala tiga itu memasangkan perlengkapan pengaman ke tubuh Aishe. Seperti kaca mata, Ear Muff, jaket pelindung dan sarung tangan.
Diego mulai menjelaskan beberapa senjata yang ada di hadapan mereka, mulai dari belati, pistol, Assault rifle, hingga Railgun, dan semuanya merupakan senjata rakitan yang terbaik.
__ADS_1
"Kau siap, Sayang?" bisik Diego yang berdiri di belakang Aishe.
Aishe terdiam untuk beberapa saat. Melihat senjata yang berjejer di hadapannya, nyalinya secara tiba-tiba menciut. Tidak seperti ketika dia memegang senjata dan menodongkannya pada Farhan.
"Die, boleh aku bertanya?" tanyanya sembari mengambil Air Muff (pelindung telinga) yang sejak tadi berada di lehernya.
"Katakan, Sayang."
Aishe dengan gugup menelan salivanya, lalu bertanya pertanyaan yang simpel, tapi berhasil membuat Diego tersenyum.
"Kenapa aku harus belajar menembak?"
"Jika aku sedang tidak berada di sampingmu, dan ada yang menyakitimu, atau hendak berbuat jahat padamu, kamu bisa mengeluarkan senjata dan melawan." lanjutnya.
"Bagaimana jika orang itu mati? Aku akan masuk ke dalam penjara?"
"Tidak!" jawab Diego dengan suara lantang. "Tidak ada yang boleh menangkap kekasihku, bahkan menyentuhnya. Jika orang itu mati, aku akan memasang badan untukmu."
Aaa ....
Siapa yang tidak terenyuh mendengar gombalan maut seperti itu?
__ADS_1
Bahkan, Aishe tidak lagi menggunakan nalar ketika menelan semua gombalan pria itu. Dia dengan patuhnya dia mengangguk, lalu memasang Ear Puff di telinganya.
"Jika kau pergi atau berpaling, aku akan membunuhmu, Die!" Seperti itulah ancaman yang di ucapkan Aishe sebelum memasang pelindung telinga.
Diego mengangkat satu sudut bibirnya, kemudian mengambil pistol dan meletakkannya di tangan Aishe. Pria itu menjelaskan dengan santai, bagaimana cara memasang peluru, juga menarik pelatuk dan mengarahkannya ke papan bidikan.
DOR DOR
Suara pistol menggema di penjuru ruang, tetapi berhasil di redam oleh Ear Muff ketika sampai di telinga Aishe. Ketiga orang yang menjaga mereka, termasuk Diego, justru dengan santainya berdiri tanpa memasang pelindung.
Bagi mereka, latihan seperti itu bukanlah apa-apa, bahkan bunyi bising dari pistol di barak lebih menggema dan menusuk telinga berkali-kali lipat.
Jam sudah lewat pukul dua siang, tetapi mereka masih belum berhenti. Diego tidak hanya mengajari Aishe bagaimana cara menembak, tetapi juga cara memegang belati yang benar. Sampai tak terasa, waktu sudah semakin sore, dan latihan mereka di hentikan oleh bunyi perut Aishe.
Update malam minggu gini jangan kira othor jomblo!!! Semua ini demi kalian, pokoknya demi kalian.
🤣🤣🤣🤣
Jempol jangan lupa digoyang. Biar othor bahagia dapet like sama sajen 🤭
__ADS_1