Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 112


__ADS_3

Dilema dalam hati Diego bergejolak, memikirkan banyak hal yang mungkin terjadi jika ia terlambat mengantar Aishe. Benar, bukan konsekuensi mengenai Max, melainkan kekasihnya.


Dia berlari menuju walk in closet, mengobrak abrik isi rak. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah topi dan jaket hitam. Dengan cepat ia memakainya, lalu membopong tubuh Aishe.


"Die, jangan keras kepala!" Aishe mencengkram jaket yang di pakai Diego.


"Percayalah padaku, oke!"


Diego mempercepat langkah kakinya, pergi ke garasi menuju mobil sedan berwarna hitam. Dengan hati-hati dia menurunkan tubuh Aishe, duduk di samping kemudi, lalu memasangkan sabuk pengaman untuknya.


Mobil sedan dari series BMW keluar dari garasi. Diego dengan cepat menginjak pedal gas, melajukan mobil ke rumah sakit tempat Dokter Hakan bekerja.


Baru beberapa ratus meter usai ia keluar dari rumahnya, sebuah mobil berjenis Van terlihat mengekor di belakang.


Dia benar-benar menaruh mata-mata, cih!


Diego sempat berdecak, sebelum akhirnya mengambil hands free untuk menghubungi seseorang.


"Bawa topi dan jaket yang biasanya …." ucap Diego singkat, lalu kembali berkonsentrasi dengan setirnya. Sesekali pria itu menoleh, melihat wajah Aishe yang semakin pucat, bahkan bibirnya pun tidak berwarna. Hatinya semakin resah, ingin segera sampai di rumah sakit.


"Ishe, pegangan yang erat, tetaplah sadar!" pinta Diego yang langsung mendapat anggukan dari Aishe.

__ADS_1


Dua mobil terlihat menghadang lajunya dari depan, membuat Diego dengan cepat menarik tuas rem tangan bersamaan dengan rem kaki dan memutar kemudi. Bunyi decit yang berasal dari gesekan antara rem, ban mobil, juga aspal terdengar jelas dari dalam mobil.


Beruntung, gerakan berbelok tajam yang dia lakukan tidak membuat Aishe mengalami hal yang berbahaya.


"Bertahan, Ishe. Sebentar lagi kita sampai!"


Berkat belokan mendadak yang dia lakukan sebelum lampu merah, mereka berhasil menghindar dan lepas dari pengawasan mata-mata Max.


Namun ketika mereka berbelok menuju jalan besar, salah satu dari dua mobil tadi kembali mengikuti mereka dari belakang.


Tidak sampai setengah jam, mobil sedan milik Diego terlihat berhenti di lobi rumah sakit. Dengan topi yang menutupi wajahnya, dia turun dari mobil, lalu membopong tubuh seorang wanita, hendak masuk ke ruang gawat darurat.


"Kekasihku terluka." Dia mengangkat kepalanya sedikit, memperlihatkan wajah garangnya. "Bisakah Anda memberi kami jalan?" Menatap wajah wanita yang sudah berani menghalangi jalannya.


"Tu-tuan Ashan?"



Di Sisi yang lain. Diego dan Aishe, yang sempat bertukar mobil dengan Ashan, telah tiba di sebuah rumah di kawasan Küçükköy. Dengan topi yang sama seperti yang dia kenakan sejak keluar rumah, ia membopong tubuh Aishe masuk ke dalam.


Terlihat seorang pria paruh baya berdiri di depan menunggu kedatangan Diego. Begitu mereka masuk, pria itu langsung buru-buru menutup pintunya.

__ADS_1


Tidak banyak pertanyaan ataupun kata yang keluar dari bibir pria tua itu. Dia hanya fokus memeriksa keadaan wanita yang dibawa oleh anak dari teman baiknya dengan cermat.


"Dia pendarahan! Apa dia hamil?"


Degh


Diego terbengong untuk sesaat, lalu menatap Aishe yang juga menatapnya. Keduanya sama-sama kaget, sama-sama terkejut dan tidak menyangka.


"Ba-bagaimana? Bagaimana keadaannya?" Nada Diego sedikit bergetar.


"Aku masih bisa merasakannya sedikit, tapi kita tetap harus membawanya ke rumah sakit, Nak!" jawab pria tua itu. "Apa dia istri yang sering kau bicarakan akhir-akhir ini?"


Aishe menatap wajah pria yang umurnya sudah lebih dari setengah abad, lalu menatap Diego yang berdiri di depannya. Heran, bingung, tentu saja. Siapa yang tidak bingung ketika pria tua itu menyebutkan kata 'Istri'? Jelas-jelas mereka belum menikah.


Apa Diego diam-diam menikahi wanita lain?



Mau ku spil ini ahhhhhh ...


Yuk berspekulasi, siapakah dia??

__ADS_1


__ADS_2