
Senja kembali hadir di langit Istanbul, Turki. Menyapa penduduk bumi dengan keindahan warna kemerahan yang memikat untuk sesaat, lalu meninggalkan mereka bersama dengan gemerlap bintang dan bulan, serta langit malam yang cerah.
...Sekilas berita...
...Dini hari ini, beberapa pasukan berhasil meringkus kelompok kriminal yang beberapa tahun ini meresahkan pemerintah. Ada setidaknya tiga markas yang di sergap secara serentak. Hampir semua tersangka tewas akibat baku tembak, termasuk pemimpin mereka. Namun, kita kehilangan satu anggota yang cukup gagah berani menghalau ledakan granat dan menyelamatkan beberapa anggota yang lain. Oleh karenanya, beberapa petinggi mendatangi lokasi dan mengadakan acara tabur bunga sebagai bentuk …....
Belum sempat presenter melanjutkan kalimatnya, seseorang terlihat meraih remot televisi dan mematikannya. Rupa rupanya, itu adalah Aishe, yang kemudian duduk di sofa dan meneguk segelas susu.
Sesekali matanya melirik, melihat sosok pria yang terbaring di sebuah brankar empuk di hadapannya. Benar, itu adalah Diego.
Setelah dia berhasil naik ke atas dari tebing curam, mereka berempat langsung membawa Diego ke rumah sakit terdekat yang ada di Bursa. Namun, Diego lebih memilih kembali ke Istanbul dan menjalani operasi disana.
Mustafa yang memiliki kenalan seorang dokter di Bursa, langsung menghubunginya untuk memberikan pertolongan pertama pada Diego saat berada di pesawat. Hingga mereka tiba di Istanbul dengan aman.
TOK TOK
Suara ketukan pintu dengan intonasi suara sedang, terdengar samar di telinga. Aishe menoleh, menatap ke arah pintu yang perlahan didorong dari luar.
"Ayah …." sapa Aishe dengan suara sendu dan langsung bangkit berdiri menghampiri Deniz.
__ADS_1
"Dia belum bangun?" Deniz mengulurkan tangan, meraih tangan Aishe dan memegangnya sambuk terus berjalan ke sofa.
"Belum, tenang saja, Ayah. Kemungkinan dia akan bangun besok pagi." Pelan-pelan Aishe membantu Deniz duduk di sofa. Lalu menuang segelas teh hangat yang tadi diantar Rehan bersama dengan segelas susu.
Ketika menuang teh, Aishe tiba-tiba teringat sesuatu yang penting. Dia pun buru-buru menaruh kembali teko ke atas meja, kemudian membawa secangkir teh itu pada Deniz.
"Ayah, aku tiba-tiba teringat sesuatu. Tolong jaga Diego sebentar, ya!" ucap Aishe terlihat tergesa-gesa pergi meninggalkan Deniz.
Deniz baru membuka mulut hendak berbicara, tetapi Aishe sudah lebih dulu pergi dengan cepatnya. Pada akhirnya, Deniz hanya bisa menghela napas kasar sembari melihat anaknya terbaring di atas brankar.
Dia sempat menyeruput secangkir teh (Cay) sebelum akhirnya bangkit berdiri dan mendekat melihat Diego. Ditatapnya wajah sang putra Semata Wayang itu lekat-lekat, wajah yang hampir 5 tahun ini tidak berada dalam jarak pandangnya. Seorang anak yang sudah beranjak dewasa, bahkan sebentar lagi akan menjadi ayah, dan dirinya menyandang status sebagai seorang kakek.
"Lihat anak terbaring lemah, kau masih sempat tertawa, Ayah?"
Suara samar terdengar berat dan serak milik sang putra, langsung membuyarkan lamunan singkatnya. Deniz melihat ke bawah, menatap Diego yang terlihat samar dalam pandangan matanya.
"Sudah bangun?" tanya Deniz yang tidak tahu, apakah anaknya masih menutup mata atau sudah sadar. Namun, dia bisa mendengar dengus sang anak yang terdengar kesal.
Suasana menjadi hening secara tiba-tiba. Tidak ada yang berbicara atau membuka mulut lebih dahulu. Deniz jelas memahami posisinya yang memang bersalah, karena menghilang begitu saja. Terlebih, Diego sempat menjadi sasaran Max dengan memanfaatkan Mirey dan masa lalu mereka.
__ADS_1
"A-aku minta maaf." Suara Deniz terdengar sedikit bergetar. Sesal yang menggunung itu pada akhirnya bisa terlukiskan jelas di wajah tuanya.
"Lupakan itu! Aku sudah membereskan masalah Max, sekarang giliran ayah mengurus ibu." Diego menoleh, menatap wajah sang ayah yang semakin tua, tapi masih terlihat begitu gagah.
"Identitasku sebagai Pasukan sudah berakhir. Kini aku hanya hidup sebagai Diego, untuk selanjutnya …." Diego menegakkan sedikit punggungnya dan duduk bersandar.
"Aku ingin menggelar resepsi sebelum perut Ishe membesar, kuharap sampai saat itu tiba, dia tidak membuat ulah seperti sebelumnya."
Deniz menghela napas beratnya sekali lagi, lalu berusaha melihat ekspresi wajah sang anak meski dengan pandangan yang samar.
"Aku akan menjelaskannya," jawab Deniz merasa sangat bersalah.
Meski Deniz berada di rengah lautan selama ini, tapi setidaknya dia bisa mendapatkan beberapa kabar tentang keluarganya. Ya, meski itu sedikit terlambat karena kondisi sinyal yang selalu hilang dan tiba-tiba datang. Kecuali, tentang keberadaan Aishe yang memang disembunyikan dengan baik oleh Diego dan Tangan Kanannya.
Tidak heran, jika Deniz langsung menyetujui Diego tanpa bisa protes sedikit pun.
"Jadi, bagaimana pelayanan di kapal pesiar milik Paman Mustafa? Apa body mereka bagus?" Goda Diego menatap wajah sang ayah sembari melebarkan senyum menyerigai.
...☆TBC☆...
__ADS_1