Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 46


__ADS_3


Arnavutköy, dalam bahasa Turki disebut "desa Albania". Adalah sebuah wilayah di Istanbul, Turki, yang terkenal karena mansion-mansion Utsmaniyah berkayunya dan restoran-restoran makanan laut, serta kampus Kolese Robert dengan bangunan centennial-nya. Wilayah tersebut merupakan bagian dari distrik Beşiktaş, Istanbul, dan terletak di antara Ortaköy dan Bebek di pesisir Eropa dari selat Bosphorus.


Dari deretan mansion kuno yang menyimpan banyak sejarah, terdapat sebuah markas dari salah seorang anak buah Maximo. Musuh sekaligus paman tiri Diego, yang saat ini duduk menjabat sebagai Direktur BIN.


Selain menjadi markas tempat berkumpul dan merakit senjata, tempat itu juga dijadikan sebagai tempat penyimpanan berkas-berkas penting Maximo. Seperti sumber keuangan untuk merombak habis isi dari BIN dan menyuap seluruh jajarannya hingga Diego lengser.


Sudah setahun lamanya, beberapa anak buah Diego mengintai tempat itu hanya untuk memastikan lokasi tempat dokumen penting disimpan. Meski memakan waktu satu tahun, nyatanya Diego memaklumi itu, mengingat seberapa licik paman tirinya.


Setelah membabat habis setengah anak buah Max, Diego beserta anak buahnya mulai menyusuri tempat dimana dokumen penting di sembunyikan.


"Tuan, aku menemukannya!" seru Rehan mengangkat dokumen tebal setelah berhasil membuka brankas di kamar Frans.


"Bagus! Sebar benda itu dan hubungi Emmir. Biarkan mereka tahu tempat ini!" titah Diego melepaskan sarung tangan hitamnya.


Baru setengah Diego berjalan menuruni tangga, salah seorang anak buahnya datang melapor. "Tuan, saya menemukan ruang bawah tanah!"


"Cepat periksa!"


Diego hendak mengikuti Ashan dan Eraz, tetapi langkah kakinya di hentikan oleh Rehan. "Sudah waktunya Anda istirahat, Tuan," ucapnya.


Diego menghela napas panjang sambil berkacak pinggang. Lalu, dia mendongak ke atas, melihat atap putih dengan hiasan lampu gantung yang gemerlap.

__ADS_1


"Kenapa markas pecundang bisa punya hiasan lampu kristal? Menjengkelkan, pecahkan itu!"


Alih-alih jengkel dengan kondisi sendiri, Diego justru menyalahkan lampu kristal sebagai bentuk pelampiasan. Rehan pun dengan mudahnya patuh, dan menembak jatuh lampu kristal yang mengganggu mood tuannya. Padahal dia juga memahami bahwa lampu kristal itu hanya pelampiasan saja.


Lima menit setelah Diego duduk di kursi roda yang diambilkan anak buahnya. Eraz dengan langkah kaki lincahnya berlari mendatangi Diego.


"Tuan, di bawah sana ada tawanan dan mayat beberapa wanita. Mereka semua dikurung dalam jeruji besi."


Diego dengan santainya menyalakan pemantik dan menghisap cerutunya. "Wah wah wah!" Diego mendongak ke atas, melihat jasad Frans yang tergeletak sambil menggelengkan kepala.


"Harusnya aku tidak gegabah dan membunuhnya dengan mudah. Paling tidak, aku berbaik hati membiarkan dia bertemu dengan adik tercintanya itu. Aahh … sayang sekali."


"Tuan, Emmir hampir dekat. Sudah waktunya kita pergi," sela Rehan.



Jam menunjukkan pukul 2 malam, ketika Diego kembali ke Villa Luxury dalam keadaan bersih tanpa setetes darah pun di bajunya. Ashan baru saja mendorong kursi roda, tiba-tiba melihat pecahan kaca tercecer di dekat tempat sampah.


Ashan sempat menyingkirkannya pecahan itu dengan kakinya ke semak-semak. Ketika hendak mendorong kursi roda Diego, dia melihat bungkusan besar putih di tempat sampah.


Penasaran dengan isinya, Ashan membuka bungkusan itu dengan hati-hati. Dia sedikit terkejut, ketika melihat beberapa piring keramik koleksi Diego ada di tempat sampah.


Dengan gemetar, dia menoleh untuk memanggil tuannya. "Tu-tuan …."

__ADS_1


"Kenapa suaramu gemetar? Kau bertemu tikus?"


Aahh … pria ini selalu menyentuh kelemahanku.


Ashan yang sedikit jengkel karena di ungkit kesalahannya, pun langsung mengangkat satu piring keramik dan menunjukkannya pada Diego.


"Sepertinya kucing kecil Anda sudah menyiapkan makan malam, Tuan. Dia mendengar Anda berpesta dengan para gadis-gadis, dan pada akhirnya, piring koleksi Anda menjadi sasaran empuk."


Melihat piring koleksi dari Lenox, yang harganya mencapai 200 sampai 300 US Dollar, dipungut Ahsan keluar dari tempat sampah, amarah Diego mencuat naik. Dia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju kamar Aishe.


Marah, dia ingin menyeret Aishe turun dari tempat tidur lalu mengguyur tubuhnya dengan air dingin, begitu yang dia pikirkan ketika masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu. Namun ketika dia melihat wajah Aishe yang terlihat lelah, dia mengurungkan niatnya.


Kau selalu bisa meredakan amarahku, Kucing Liar!


Diego duduk di tepi ranjang, dengan lembut mengusap pelipis Aishe. Lalu, diam-diam mengecup keningnya.


"Sudah lelah masak, tapi kamu malah asik pergi ke pesta!"


Aishe mengigau dalam tidurnya. Suaranya terdengar samar, tetapi cukup jelas ketika masuk di telinga Diego.


"Brengsek! Bajingan!" Aishe membalik tubuhnya lalu merangkul guling.


Meski Aishe tidak menyebutkan nama, tetapi Diego cukup sadar diri, bahwa dia adalah orang yang sedang diumpatnya.

__ADS_1



__ADS_2