Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 121


__ADS_3

"Ugh, Ishe." Diego sesekali mengerang, lalu kembali meraih bibir Aishe dan mencumbunya dengan bebas tanpa tahu batas.


Diluar, dingin kembali menyelimuti kota. Angin sesekali berhembus, menerpa udara dingin ke berbagai penjuru. Berusaha memberitahu orang-orang, betapa dinginnya udara di luar siang ini.


Aishe sesekali menengadah, dengan sedikit mengeluh menatap Diego. "Masih belum juga? Aku sudah lelah, Die!" ucapnya sedikit tersipu memegangi benda panjang yang menegang milik Diego.


"Menyesal? Kamu sendiri yang menawarkan diri memijat kakiku!" Diego menarik dagu Aishe dan mengecup bibirnya.


Aishe pun tak mau kalah, ia melepas kedua tangannya yang sejak tadi berkutat, sibuk memijat kaki Diego. Lalu duduk di atas paha sang suami dan mengalungkan tanganya di leher.


"Kenapa kamu selalu mendominasi?" ucap Aishe yang kemudian menggigit cuping telinga Diego.


"Dasar, Pencuri Kecil nakal!" Bisik Diego tepat di telinga Aishe.



Waktu berlalu begitu cepat, sampai tidak terasa, setahun hampir berlalu sejak Aishe sengaja dibunuh oleh mantan tunangannya bulan Mei tahun lalu. Semua seakan berjalan begitu cepat, dia bertahan selama 59 hari, bertemu Diego, membalaskan dendamnya, hingga … dia menikah dan sekarang hamil.


Ya, bagi orang lain mungkin 10 bulan adalah waktu yang singkat. Namun bagi Aishe, tidak sama sekali. Sepuluh bulan adalah waktu dimana ia ditempa habis-habisan oleh nasib. Dipaksa menjadi wanita tangguh dan modis. Dipaksa bisa beladiri dan menembak. Namun dari semua hal yang di paksa, justru ada perasaan yang mengalir tanpa ia sadari.


Itu adalah cinta. Perasaan yang tidak tahu kapan datangnya. Benar, mungkin memang begitu. Tidak ada orang yang menyadarinya, ia selalu datang diam-diam, dan begitu kau tersadar, ia sudah berurat dan berakar.

__ADS_1


Semilir angin musim semi berhembus, membawa semerbak keharuman dari bunga-bunga yang bermekaran, dedaunan hijau yang mulai tumbuh, serta membawa udara dingin pergi ke belahan bumi yang lain.


Aishe sedang duduk di sofa, dengan penghangat ruangan yang menyala, secangkir susu khusus ibu hamil yang dibelikan sang suami, juga kudapan kesukaannya. Sesekali ia menoleh, menatap pintu yang tak kunjung terbuka dari luar.


Hela napasnya terdengar begitu jelas, hingga Guzel yang berjalan di belakangnya menoleh melihat Aishe.


"Anda sedang menunggu Tuan Diego pulang, Nona?" Pertanyaan Guzel membuat Aishe menoleh ke belakang, menatap seorang gadis yang umurnya lebih muda sekitar 5 tahun.


"Apa terlihat jelas?"


Guzel sedikit tertawa melihat tingkah Nona Mudanya yang terlihat cukup lucu. "Ah, maaf. Saya tidak bermaksud menertawakan Anda." Guzel buru-buru menutup mulutnya.


"Tidak masalah. Kamu tidak perlu takut padaku, aku tidak semenyeramkan itu kan?" Aishe tertawa kecil, melihat wajah Guzel sedang ketakutan.


"Namamu Guzel?" Aishe masih berusaha memandangi wajah gadis itu dengan seksama.


"I-iya, Nona. Saya Guzel."


"Bibi Nie pasti bahagia punya anak secantik dirimu." Aishe tersenyum, menatap Guzel yang perlahan menaikkan kepalanya. "Terima kasih, sudah menolong kami saat itu, Guzel."


Perkataan Aishe berhasil membuat pipi gadis berumur 22 tahun itu memerah secara perlahan, dan dua sudutnya terangkat. "Sudah seharusnya, Nona."

__ADS_1


Tepat pada saat Guzel menjawab, pintu yang dilihat Aishe sejak tadi perlahan terbuka. Melihat Ashan berjalan masuk mendorong Diego yang duduk di kursi rodanya, membuat Aishe bangkit dari sofanya. Dia berlari layaknya anak kecil, menghampiri Diego yang baru pulang.


"Kenapa kau lama sekali? Kau membawa sesuatu untukku?" Aishe melirik tangan Ashan yang hanya terlihat tas kerja sang suami.


"Tidak. Kamu ingin sesuatu? Kenapa tidak menghubungiku?" Diego meraih tangan Aishe lalu mengusap dan mengecupnya.


Dirasa tidak peka, Aishe menepis tangan Diego. Dahinya sedikit berkerut, dengan bibir yang manyun ke depan. Entah kenapa hatinya sedikit menggebu, kesal dengan ketidak pekaan Diego. Pada akhirnya, dia pergi memendam rasa kecewanya.


"Tidur di luar malam ini!" ucapnya sambil berjalan pergi meninggalkan Diego.


"Ishe, Ishe. Salahku apa?" Diego bangkit berdiri dari kursi rodanya, hendak menyusul sang istri. Namun Aishe buru-buru melarangnya.


"Berhenti di sana, jangan ikuti aku! Tanyakan pada Ashan apa salahmu!"


Glek! Ashan menelan salivanya kasar usai mendengar Aishe berkata demikian.


Nona, kenapa Anda membawa namaku lagi? Aahh … rasanya aku perlu lembur hari ini!



Moody-an si eneng nih 🤣🤣

__ADS_1


Siapa disini yang sering nunggu tentengan di tangan pak su kalau pulang kerja???


Yang jomblo cukup baca aja yak 🤣


__ADS_2