
...Beautiful Wedding...
...bagian 4...
Aishe mengangsurkan tangan, meraih tangan Mustafa dengan senyum merekah yang menghiasi bibirnya. Gaun putihnya menjuntai panjang, dengan tudung putih transparan di kepalanya. Riasan yang terkesan sederhana tanpa banyak warna, bahkan lipstik glossy itu tampak sangat pas mengukir senyum termanisnya. Dia berjalan seperti gadis remaja dewasa pada umumnya, tidak terlihat seperti ibu hamil, lantaran usia kehamilannya yang baru menginjak tiga bulan.
Mustafa menggandeng tangan putri angkatnya itu dengan penuh perasaan. Mereka berjalan beriringan, keluar dari kamar rias menuju tempat acara. Guzel yang pada saat itu memang diminta untuk menjaga Mirey, pun berjalan lebih dulu menuju tempat acara untuk melihat keadaan. Sedangkan Rubby, ia berjalan di belakang Aishe, bergandengan dengan Rehan.
“Apa kamu gugup, Nak?” tanya Mustafa yang merasakan tangan putri angkatnya itu basah dengan keringat.
“Sedikit. Hanya sedikit, Ayah.” Aishe menoleh, menatap Mustafa yang juga memandangnya.
“Tenanglah, Ayah di sini bersamamu.”
Garis di sudut bibir Aishe terlihat melengkung, mana kala ia tersenyum sambil mengangguk. Dia seakan menyerahkan semua kepercayaannya pada Mustafa, dan yakin bahwa pria itu mampu menjaganya dengan baik. Sama seperti saat mereka di kejar beberapa anak buah Max, sesaat setelah insiden bom berdarah beberapa bulan lalu.
Langit begitu cerah sore ini, angin semilir semilir lembut menambah sejuk suasana. Awan beberapa kali terlihat melintas seakan menjadi naungan bagi para tamu yang sudah berkumpul dan duduk di tempat masing-masing. Meja meja dengan tema putih, ditata begitu rapi di se-pinggir selat Bosphorus yang masih menjadi area hotel. Altar yang dihias dengan bunga bunga segar nampak sangat hidup, juga di desain dengan warna putih.
__ADS_1
Musik klasik menjadi pengiring, saat Diego menunggu kedatangan mempelai wanitanya di altar tempat ia berdiri di dampingi oleh Ashan dan Eraz. Garis senyumnya sangat jelas, ia seperti tidak sabar untuk bertemu dengan wanita yang sudah setengah tahun resmi menjadi istrinya. Ada perasaan tak sabar, yang kemudian membuatnya gugup, bahkan ia menarik napas panjang beberapa kali.
Perasaannya bahkan jauh tak terkendali saat Aishe berbelok dan berjalan ke arahnya, bersama dengan Mustafa. Angin yang berhembus semilir terasa tajam menusuk mata, hingga membuat bulir bening yang berasal dari matanya itu menetes.
“Tuan, Anda baik-baik saja?” tanya Ashan ketika melihat tuannya menangis.
Diego mengangguk, kemudian berbalik dan mengusap air mata yang sempat menetes membasahi pipinya. Saat setelah air matanya kering, ia kembali berbalik menatap wajah cantik sang istri.
Itu adalah air mata kebahagiaan dan syukur yang berkumpul menjadi satu. Serta air mata bahagia yang ia teteskan untuk pertama kali setelah 30 tahun lebih dia hidup. Senyum merekah terukir jelas di raut wajah pria yang sosoknya dikenal tegas dan dingin itu saat menatap Aishe yang berjalan semakin dekat dengannya.
Pada saat mereka berempat menaiki Altar, Rehan dan Rubby berpencar, bergabung dengan beberapa tamu yang berdiri menyaksikan pertemuan antara dua mempelai. Dan kini, hanya Mustafa selaku ayahnya, yang mengantar Aishe menemui sang suami.
“Aku merahkan putriku padamu, jagalah dia dengan baik,” ucap Mustafa.
“Aku akan menjaganya, sebaik mungkin.”
Mustafa mengulurkan tangan Diego yang ia pegang, lalu menarik tangan Aishe dan menyatukan kedua tangan mereka. Dua senyum mereka merekah, terutama saat Diego memegang kedua tangan Aishe.
__ADS_1
“Aku, Diego Gulbar, akan selalu mencintaimu dan menjagamu sampai napas terakhirku.”
Jarak sekelumit itu dipangkas dengan cepat oleh Diego. Tanpa aba aba, ia langsung mendaratkan bibirnya, mengecup bibir Aishe. Tindakan romantisnya yang tiba tiba, berhasil membuat seluruh tamu bertepuk tangan, termasuk seorang wanita berambut panjang, yang baru saja datang bersama asisten Mirey.
“Kalau begitu, Aku, Ishe Zevim Ibran, dengan senang hati akan menerima penjagaan darimu.” Aishe kembali menautkan bibirnya, tapi kali ini bukan kecupan sekilas, melainkan sebuah ciuman mendalam yang di saksikan oleh banyak orang termasuk wartawan.
Suasana penuh kebahagiaan tercipta, tetapi beberapa orang justru terlihat menyeka air mata mereka. Salah satunya Mustafa, Guzel yang juga larut dalam suasana, juga Mirey. Selain larut dalam suasana, sebagian dari mereka yang juga terharu dengan perjuangan yang telah mereka lalui selama beberapa minggu terakhir.
Semoga kalian bahagia selalu, Nyonya, Tuan.
Be Happy Brother, Sister.
...☆TBC☆...
Gambar hanya pemanis, Sayang 🥰
__ADS_1
Happy Agust.
Semoga para pembaca Kay selalu sehat, banyak rezekinya 💕 Aamiin