
Aishe –
Tidak saling cinta, tapi seranjang, dan nyaman layaknya pasangan.
Tidak saling cinta … haruskah aku merubahnya menjadi cinta sepihak? Karena aku yang lebih dulu jatuh tanpa sadar, dan sekarang justru tidak bisa berdiri.
Setelah semalaman Istanbul diterpa badai salju sedang, kini langit seakan tidak ingin memberi sinar mentari ruang untuk menghangatkan penduduknya. Suhu pun masih begitu dingin meski jam sudah berada di angka sepuluh.
Beberapa kantor tutup, termasuk kantor BIN pusat dan cabangnya. Karena selain suhu yang berada di minus 3 derajat, juga faktor salju yang menumpuk di jalanan dan belum dibersihkan. Bukan pemerintah tidak tanggap, tetapi salju lebat masih turun hingga pukul 8 pagi.
Aishe dan Diego menjadi dua dari sejuta penduduk Istanbul yang masih bersembunyi di bawah selimut. Hanya saja beberapa dari sejuta itu jomblo, dan sisanya berpasangan dan saling memeluk untuk menghangatkan badan, termasuk juga merek berdua.
Namun kali ini sedikit berbeda, jika biasanya Diego yang memeluk Aishe dari belakang. Kini, Aishe lah yang memeluk Diego cukup erat.
Aaah hangatnya … aku tidak ingin bangun, tidak ingin bekerja. Hanya ingin menikmati kehangatan ini.
Aishe sebenarnya sudah bangun beberapa menit yang lalu, tetapi matanya terlalu berat untuk terbuka, dan tubuhnya juga sudah terlanjur nyaman dalam pelukan Diego. Sampai tiba-tiba, dia menyadari jika yang dipeluknya adalah manusia hidup dan bernapas, bukan guling.
Tanpa mengerjap dia membuka matanya. Menatap Diego yang sudah lebih dulu bangun dan sedang memandangnya. Kedua pipinya perlahan memerah seperti buah peach karena malu. Demi menyembunyikannya, dia menunduk, menenggelamkan kepalanya dalam dekapan pria itu.
"Tolong biarkan saya bersembunyi sebentar," ucapnya menahan malu.
__ADS_1
"Bersembunyi dari apa?" Diego sendiri tidak keberatan, dan justru mempererat dekapannya. Bahkan, ia mengusap ubun-ubun kepala Aishe.
"Dari Anda, Tuan!"
"Apa kau pikir aku menyeramkan?"
"Tidak. Sa-saya hanya malu!" Aishe sedikit memberontak, ingin kabur, tetapi dekapan Diego mengunci gerakan tangannya. "Biarkan saya mencuci muka, Tuan!" ucapnya masih berusaha kabur.
"Kau terus berbicara formal padaku saat di rumah dan di ranjang. Lidahmu tidak kelu?"
Kelu? Jangan konyol. Kamu memang tuannya sejak awal.
"Panggil namaku!" katanya sedikit lantang.
Sial! Aku terdengar konyol.
Aishe menelan salivanya kasar, dan mencoba memanggil nama Diego. "Di-Diego," panggilnya setengah gugup dan gemetar, takut jika pria yang mendekapnya itu menerkamnya.
"Panggil sekali lagi!"
Tangan nakalnya diam-diam menggerayang masuk dari bawah dress tidur, lalu melepaskan pengait underwear Aishe. "Ayo, panggil namaku!"
"Di-e-go," panggil Aishe setengah menggeliat geli karena tangan nakal Diego terus menggerayangi pinggang sensitifnya.
__ADS_1
"Panggil lagi, Sayang. Aku menyukainya," bisiknya di telinga Aishe dengan tangan kanan yang masih menggerayangi tubuh gadis itu.
Menyusuri lekuk tubuhnya, turun ke bawah merasakan butt gental, hingga akhirnya masuk ke dalam sarang. "Panggil namaku, dengan suara merdumu yang sedikit mendesah itu."
Diego menggigit daun telinga Aishe yang itu memerah, bersamaan dengan jari tengahnya masuk ke dalam gua hangat yang sedikit basah.
"Ah … Di-ego …." Aishe menggeliat, meremas baju Diego, lalu menggigit bibir bawahnya.
"Aku menyukainya, Sayang. Sangat menyukainya." Diego menggerakkan jarinya keluar masuk, intonasinya lambat, tetapi sepersekian detik berubah cepat. Membuat Aishe mendongakkan kepalanya, merasakan hormon oksitosinnya naik sampai ubun-ubun.
Aku juga menyukainya. Menyukai setiap sentuhan lembutmu dan ucapan manismu. Tetapi aku tidak suka, karena aku jatuh cinta padamu!
Leher jenjangnya di perlihatkan, membuat srigala yang memeluknya semakin lapar. Ekspresi 'nikmat' yang terpampang jelas di wajah gadis itu, terutama saat dia mendecah sambil menggigit bibir bawah, cukup menggugah selera makan Diego.
Pria itu segera menerjangnya, menikmati setiap inci leher jenjang Aishe. Setelah puas, dia membuka tali yang tersimpul di pundaknya, hingga melorot ke bawah dan memperlihatkan dua buah ranum yang kenyal dan padat. Tanpa permisi, dia mulai mencicipi, menjilat, lalu menyesap dengan lembut.
Jemari yang terus memacu, bibir yang tak hentinya menyesap, membuat Aishe terus mengeluarkan lelungan bebas.
Aku benci jatuh cinta padamu, Die. Aku benci dengan perasaanku yang lepas kendali seperti ini. Bahkan, meski telah berhasil balas dendam, aku tidak ada daya untuk pergi dari sisimu.
Kau seperti psikotropika. Setiap sentuhan dan ucapan manismu, membuatku candu, membuatku tidak bisa jauh meski sedetikmu. Jika terus seperti ini, aku akan mati mengenaskan, Die. Lalu jatuh ke dalam neraka, neraka kebahagiaan yang berujung kehancuran.
__ADS_1
Aku harus bagaimana, Die?