Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 28


__ADS_3

Langit begitu cerah dengan sedikit awan, juga angin yang berhembus semilir. Namun meski begitu, suhu di luar ruangan mencapai 33 derajat. Membuat beberapa orang merasa enggan untuk keluar.


Aishe masih berdiri memandangi Diego. Setelah membaca beberapa poin yang ada di dalam dokumen, ia bisa menebak sepintas rencana Diego. Memang, rencana itu terdengar licik, tapi tidak cukup untuk membuat Farhan merasakan hidup seperti di dalam neraka.


Dia tidak senang, sedikit kecewa, tetapi malas berdebat dengan Diego, karena hasil akhirnya akan sama saja.


"Kenapa? Kamu tidak senang? Tidak puas?" tanya Diego saat melihat ekspresi wajah muram Aishe.


"Apa yang ingin Anda lakukan? Ini tidak sesuai rencana."


"Bukankah kamu ingin melihatnya jatuh ke dalam lubang neraka?" Diego menggerakan kursi rodanya untuk mendekati Aishe.


"Iya," jawab Aishe singkat.


Diego tersenyum, ia meraih tangan Aishe dan mengajaknya pergi menonton pertunjukan.


"Pertunjukan?" Aishe terheran.


"Iya." Diego melihat jam tangannya. "Sebentar lagi perwakilan dari Haley datang."

__ADS_1


Degh


Aishe menarik tangannya hingga lepas dari genggaman Diego dan mundur satu langkah ke belakang, hingga tubuhnya terhalang meja kerja. Tangan dan kakinya gemetar. Keringat tiba-tiba keluar, membasahi keningnya.


Diego sekali lagi meyakinkan Aishe untuk percaya padanya, bahwa tindakannya tidak akan mengecewakan.


"Percaya padaku. Aku akan membuat dia terjun dari surga ke neraka terdalam!"


Dua pasang mata itu beradu pandang untuk beberapa saat. Entah kenapa, perasaan kecewa Aishe tiba-tiba berubah ketika menatap sorot mata Diego. Seolah ada kepercayaan diri yang besar, ketika pria itu berbicara.


Diego kembali mengulurkan tangan, dan mengajaknya pergi. Aishe sempat menghela napas panjang, sebelum akhirnya menyambut tangan Diego.



"Duduk di sana!" Diego menunjuk sofa panjang yang terlihat cukup empuk.aà


"Te-tempat apa ini?" tanya Aishe melihat sekeliling ruangan.


"Tempat untuk melihat pertunjukan seru," jawab Diego yang entah sejak kapan sudah berpindah duduk di sofa.

__ADS_1


Aishe menoleh, memandangi Diego yang tersenyum licik. Tepat pada saat dia menoleh, seseorang membuka pintu di ruangan seberang.


"Silahkan duduk, Pak Farhan."


Suara seorang pria yang terdengar jelas di ruangan tempat Aishe duduk, seolah menggema. Aishe reflek menoleh, tatkala nama itu disebut. Melihat dari balik kaca besar yang menjadi skat, seorang pria berperawakan tinggi semampai, berjalan masuk ke dalam ruangan.


Jantung Aishe bergemuruh, melihat pria bernama Farhan itu berjalan seakan tanpa beban. Padahal, dia sudah menghilangkan satu nyawa.


Marah. Aishe mengepalkan tangannya kuat-kuat, mengeratkan dua baris giginya, dan menarik napasnya dalam-dalam. Mata gadis itu memerah, dan tiba-tiba saja berkaca-kaca. Menahan semua rasa sakit hatinya yang sudah berakar kuat.


Melihat reaksi Aishe, Diego tiba-tiba memegang tangan Aishe yang mengepal, "Mereka tidak bisa melihat kita, juga mendengar kita. Jadi kamu bisa mengumpatnya sesuka hati."


Aishe memicingkan mata, membayangkan saat Farhan dengan sengaja membiarkannya jatuh dari kapal dan tenggelam. Membayangkan 59 harinya yang begitu mengenaskan di pulau itu.


"Mati!" ucap Aishe tiba-tiba. "Aku ingin mengoyak dagingnya, memotongnya sedikit demi sedikit dan memberikannya pada anjing. Aku ingin dia melihat, saat anjing-anjing rakus itu memakan potongan tubuhnya."


Perkataan kasar dan menyeramkan, tidak membuat Diego takut. Ia justru tersenyum puas, menatap kobaran amarah yang terpancar di mata Aishe.


__ADS_1


__ADS_2