
Aishe –
Seutas tali hanya bisa putus karena dua hal, sengaja dipotong dengan benda atau rapuh karena usia. Tapi bagaimana dengan tali yang menghubungkan dua insan? Apakah bisa putus karena rapuh dengan usia?
Harum semerbak dari daging yang ditabur dengan rosemary dan bawang putih, menyebar ke seluruh ruangan, bahkan sampai ke ruang tamu. Aishe yang baru datang, tiba-tiba terperangah dengan aroma daging yang hampir setahun ini tidak pernah mampir di indra penciumannya.
Siapa yang memasak?
Dia baru masuk, menaruh tasnya di atas sofa. Tiba-tiba saja, Diego keluar dari dapur dengan kursi roda otomatisnya.
"Kamu sudah datang?"
"I-iya, Tuan." Aishe berjalan mendekat sambil mengikat rambut dan menggulung lengan bajunya. "Anda sedang apa?"
"Hanya bermain-main," jawab Diego asal-asalan.
"Bermain? Dengan daging dan … itu?" Aishe menunjuk kompor yang masih menyala, juga beberapa daging di tempat sampah yang terlihat gosong.
"Kenapa? Ada masalah?"
Melihat ekspresi Diego yang seakan marah, Aishe hanya bisa tersenyum getir, seakan memaklumkan segala kelakuan Tuannya itu.
Sudahlah, kenapa harus marah? Rumah-rumah dia juga. Bahan, juga dia yang beli.
"Anda mau membuat apa, Tuan? Biar saya yang masak." Dengan senyum ramahnya.
"Tidak perlu!" Diego mengambil dua potong daging lagi, dan melumurinya dengan lada dan garam. Lalu, dia mulai memasukan daging itu ke dalam teflon.
Aishe menghela napas panjang, tatkala melihat potongan daging di tempat sampah, juga beberapa teflon yang ada di tempat cuci piring. Ingin rasanya dia marah, tapi juga tidak bisa dan tidak berhak. Pada akhirnya, dia mengambil celemek dan sarung tangan, bersiap untuk mencuci kekacauan yang ditimbulkan tuan rumahnya.
Namun belum sempat dia berjalan menuju tempat cuci piring, Diego mencekal tangan dan menghentikannya. "Mau apa?" tanyanya setengah judes.
"Mencuci kekacauan, Tuan."
Diego dengan cepat melepas kedua sarung tangan yang dipakai Aishe dan melemparnya ke sembarang arah. "Tidak perlu!" serunya lantang. "Duduk saja di sana dan tunggu ini matang!"
Diego kembali sibuk dengan dagingnya, sedangkan Aishe melihat di belakang sambil menggigit jari. Khawatir, jika daging terakhir mereka akan gosong seperti kawan-kawannya yang lain. Berbeda dengan Aishe, raut wajah Diego justru santai tidak memikirkan hal seperti yang dipikirkan Aishe.
__ADS_1
Wanita itu masih berdiri di belakang Diego, mengamati pria itu memasak. Tepat sekitar 3 menit setelah daging itu masuk, Diego membaliknya. Warna daging yang terlihat cantik membuat Aishe menghela napas lega, setidaknya kali ini dia optimis bahwa steak-nya tidak akan gosong.
Diego masih memasang wajah serius, dengan sorot mata tajam seperti bersiap akan perang. Sorot mata itu bahkan tidak berubah saat dia mengambil mentega dan meletakkannya secara kasar di atas teflon. Mentega yang meleleh bercampur minyak dari daging, tiba-tiba memercik. Jarak antara teflon dan Diego cukup dekat, sangat memungkinkan minyak panas itu akan memercik ke wajahnya.
Namun Aishe merespon dengan cepat, menutupi mata Diego dengan tangannya dan menghalau percikan minyak.
"Anda melemparnya dengan kasar! Minyak itu akan mengenai wajah Anda!" Aishe segera mematikan kompor dan mendorong kursi roda Diego.
Dia berlutut, memperhatikan wajah tuannya, apakah terluka atau tidak?
Dia mulai memperhatikan, mata amber dengan sorot tegas dan berwibawa. Hidung mancung dengan kulit putih bersih dan rahang yang ditumbuhi bulu-bulu tipis.
Memang sangat menggoda. Sangat!
Tanpa sadar, Aishe melamun. Memperhatikan ciptaan Tuhan yang sangat tampan dan mampu membuatnya terpesona dalam sesaat. Namun, lamunan indahnya dikacaukan oleh tindakan Diego yang menarik pergelangan tangan Aishe.
"Kau bodoh!" umpat diego memperhatikan tangan Aishe yang tadi menghalau wajah Diego dari kemercik minyak. "Sudah tau minyak panas, tapi masih di halau. Bodoh!"
Terus diumpat seperti itu, Aishe sedikit jengkel. Dia berdiri dan menarik tangannya, "Tuan tunggu di meja makan saja. Biar saya yang memasak!"
Diego tidak mampu untuk protes setelah mendengar ucapan Aishe. Namun ketika Aishe hendak pergi, dia menarik tangannya hingga tubuh Aishe hampir jatuh menimpanya. Beruntung, Aishe dengan cepat menahan tubuhnya dengan memegang sandaran kursi roda.
Dua pasang mata saling bertemu, yang satu mencari jawaban dan satu lagi penasaran.
Kenapa?
Aku sendiri juga tidak tahu.
"Saya hanya takut Anda terluka," Aishe membuang muka.
"Takut? Karena aku tuanmu? Atau karena nama Gulbar?"
Aishe menegakkan kembali tubuhnya, tetapi ditarik lagi oleh Diego. Kali ini, tarikan itu cukup kuat hingga membuat tubuhnya terjatuh di pangkuan Diego.
"Ishe, kamu belum memberiku jawaban. Kenapa kau takut?"
Aishe ingin sekali memberi pria itu sebuah jawaban, tapi dia sendiri juga bingung, jawaban seperti apa yang akan dia sampaikan. Karena hal yang jelas dia rasakan adalah rasa takut yang lain, yang mungkin akan terdengar konyol di telinga Diego.
"Tuan, Steaknya akan gagal jika di diamkan terlalu lama." Aishe hendak berdiri, tetapi Diego mencekalnya lagi.
Kali ini bukan dengan tangan, melainkan dengan bibirnya. Dua pasang mata wanita itu terbelalak, antara terkejut dan bingung harus bereaksi seperti apa. Namun saat lidah Diego berhasil masuk, pikirannya seketika kosong. Aishe hanya bisa mengikuti alur, mengikuti suasana yang berubah menjadi romantis dan sedikit hangat.
__ADS_1
Dua lidah beradu di dalam, pertarungan yang tidak terlalu sengit, tapi cukup menguras napas mereka.
"Beri aku sebuah jawaban!" ucap Diego dengan napas yang sedikit berat usai mencari jawaban di dalam mulut Aishe
"A-apa?" Wajah Aishe memerah, seperti bunga mawar yang baru saja mekar.
"Kenapa kau peduli? Apa yang kau takutkan?"
Aishe masih duduk di pangkuan Diego. Dua wajah mereka begitu dekat, sangat dekat sampai-sampai Diego bisa menerkamnya kapan saja. Napasnya masih memburu, wajahnya masih memerah, dengan nada malu-malu dia menjawab.
"Ha-hanya takut."
"Takut seperti apa?" Tanya Diego dengan rasa penasaran.
Aishe buru-buru berdiri dan menjawab, "Takut yang seperti itu," jawabnya berusaha menghindar. Lagi-lagi Diego mencekal tangan Aishe dan terus menanyakan hal yang sama.
Kesal karena terus di kerjar pertanyaan yang sama, juga karena perutnya sudah terlalu lapar. Aishe mulai bereaksi, dengan gerakan cepat, dia mengecup pipi Diego.
"Takut yang seperti ini!" ucapnya.
"Sekarang, bisakah saya memasak makan malamnya, Tuan?"
Diego dengan wajah terkejutnya mengangguk, kemudian menggerakkan kursi rodanya dan pergi dari dapur. Hela napas Aishe terdengar saat pria itu berbalik dan pergi meninggalkannya di dapur.
Akhirnya, aku bisa masak dengan tenang.
Ah ... perutku lapar!
Ada yang nunggu Aishe dan Diego?
Author paling suka di tungguin lho. wkwk 🤭
Dua hari ini sibuk banget urus acara 40an kakak. Naskah udah ready, tp gak tau kenapa aplikasinya eror gak bisa masuk 🥲🥲🥲
Othor gak menerima protes 'Dikit'!!!
Dari pada protes, kirimin Vote atau Hadiah, biar makin semangat nulis.
Dahlah, mau semedi lagi 🧛♀️🧛♀️
__ADS_1