
Dua mata saling beradu pandang untuk sepersekian detik, sampai akhirnya Aishe tidak tahan lagi dan tertawa. Melihat wajah datar tanpa ekspresi milik Diego, saat berusaha menggoda dirinya.
"Hentikan wajah datar mu itu! Kau sedang menggodaku, tidak bisakah mimik wajahmu itu berubah? Jadi β¦ lebih sensual? Hahaha!" Aishe masih belum bisa menghentikannya.
Diejek seperti itu, tentu saja Diego kesal. Dengan satu kali hentakan, ia merobohkan tubuh Aishe ke belakang dan kemudian menggelitik perutnya. Wanita itu jelas meronta, menggeliat, sembari terus tertawa dan meminta ampun.
"Haha β¦ Die, ampun. Aahh!"
"Ampun? Aku tidak akan mengampunimu!" Diego masih terus menggelitik, tidak memperdulikan Aishe yang terus meminta ampun.
Sampai pada akhirnya, Aishe menangkup kepala Diego dan mengecup bibirnya. Seketika, gelitikan di perutnya berhenti. Diego sepertinya lebih tertarik dengan bibir kecil sedikit tebal milik Aishe yang menggoda. Hingga ia melupakan segala kekesalannya.
"Aku harus kembali, beberapa dokumen menumpuk di mejaku, Die." Aishe masih bergelayut manja di leher Diego setelah kedua lidah mereka saling beradu.
"Ini jam istirahat, tidurlah sebentar di sini!"
Dipikir-pikir, ini memang sudah tiba waktu istirahat. Tidak ada salahnya jika dia istirahat dan tidur sebentar. Siapa tahu, kepalanya akan membaik setelah ia tidur.
"Baiklah. Jangan menggangguku kalau begitu!" Aishe mendaratkan bibirnya ke pipi Diego, lalu melepaskan tangan yang sejak tadi bergelayut.
Diego menggeleng pelan, lalu membelai surai panjang berwarna hitam-kemerahan milik Aishe dengan lembut. Dia terus membelainya, hingga gadis itu perlahan menutup mata, dan terlelap di samping Diego yang duduk di sebelahnya.
__ADS_1
Setelah memastikan kekasihnya telah terlelap, ia membuka jas dan menyelimuti tubuhnya. Juga menyalakan pemanas yang ada di sudut ruangan.
Tidurlah dengan nyenyak. Diego mengecup kening Aishe, lalu pergi meninggalkannya.
Dia baru membuka pintu yang menghubungkan ruang kerjanya dengan ruang rahasia. Namun tiba-tiba, ia di kejutkan dengan sorot mata tajam Ashan yang menatap kosong ke arahnya.
Pria bertubuh semampai itu agaknya cukup memahami maksud tuannya, dengan menyuruh Aishe pergi ke ruangannya. Jika buka bercinta, lantas apa lagi yang ada di kepala Ashan?
Sudah ketahuan, Anda pun terus menunjukkan kemampuan kaki Anda, Tuan!
"Kau tidak bisa mengetuk pintu dulu!" bentak Diego menutupi ekspresi kagetnya.
Diego terbengong untuk sesaat, mengingat ruangan rahasia yang didesain kedap suara. Pantas saja, dia tidak bisa mendengar ketukan Ashan.
"Kau bisa menghubungiku!" Diego berjalan menuju kursi kebesarannya.
"Sudah. Setidaknya 10 kali, Tuan."
Glek
__ADS_1
Diego menelan salivanya kasar. Alih-alih mengakui kesalahannya, ia justru menunjukkan kemarahannya. "Untuk apa kamu kesini? Aku tidak memanggilmu!"
Tuan, aku tahu Anda sedang Bucin. Tapi tidak seharusnya mengabaikan urusan perusahaan dan berkencan di kantor!
Ashan menghela napas kasar, kemudian berjalan mendekat menyerahkan beberapa dokumen. Hanya beberapa, setidaknya itu setebal kamus jika disusun dengan rapi.
"Ini beberapa laporan yang harus di selesaikan dalam waktu satu bulan. Max sepertinya membawa banyak beban untuk Anda ketika pergi." Dia meletakan berkas-berkas itu di atas meja.
"Bagian atas yang paling mendesak, menyangkut laporan beberapa kantor cabang."
Diego mengerutkan kening, lalu menyuruh Ashan untuk pergi usai meletakkan setumpuk berkas itu di mejanya. Setelah Ashan pergi meninggalkan ruangan, Diego langsung menoleh, memandangi pintu rahasia yang hampir tidak kelihatan.
Lihat! Pekerjaan sendiri saja menumpuk, tapi masih sempat-sempatnya membuatmu nyaman!
Sajen sajen, jangan lupa setangkai mawar dan kupi.
πππππ
Masih betah kan bacanya? belum bosen kan?
__ADS_1
Masih dong yaa π€
Bab selanjutnya agak sore/malem. Othor mau temu kangen dengan NACL dan kawan-kawannya dulu.