Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 51


__ADS_3


Ruangan itu tidak terlalu kecil, tidak juga terlalu besar. Namun muat satu ranjang berukuran single dan beberapa rak berisi obat-obatan. Sepertinya, ini adalah ruangan emergency yang digunakan para penjaga. Karena tidak mungkin jika tahanan di bawa kemari, mengingat posisi ruangan berada dekat dengan pintu penjaga.


Dua pasang mata itu masih saling memandang untuk beberapa saat. Wajah Aishe terlihat tegang, sedangkan Diego justru santai. 


"Terlalu ingin tahu juga tidak baik, Tuan." Aishe perlahan melepaskan tangan Diego dan berbalik arah. 


Dua sudut bibir Diego terangkat, di ikuti matanya yang menyipit. "Kenapa, mereka mengancammu? Atau menindasmu?" 


"Tidak, Tuan. Saya hanya melihat di film, rasa ingin tahu kadang bisa membunuh diri sendiri!"


Cerdas! Seperti inilah wanita yang selalu bisa membuatku larut dalam batas kekaguman. Dia selalu bisa mengamankan diri sendiri. Setidaknya, itu tidak membuatku khawatir. 


Diego mengangsurkan tangannya, dan membetulkan rambut Aishe. "Caramu memegang senjata masih salah. Besok aku akan mengajari cara yang benar. Setidaknya, bidikan pelurumu tidak akan terbuang sia-sia." 


"Tuan, bolehkah aku bertanya sesuatu?" Aishe menoleh, melihat wajah lawan bicaranya.


"Tanyakan?" 


"Apa yang sudah terjadi pada Farhan?"


Diego menghela napas terlebih dulu sebelum akhirnya menjelaskan pada Aishe, "Setiap hari setidaknya ada 5 pria yang membawa balon pengaman masuk ke selnya." 

__ADS_1


"Tidak perlu aku jelaskan, tapi kau pasti memahaminya apa yang mereka lakukan di sana dengan balon pengaman itu."


"Mereka anak buah Anda?"


"Tidak. Mereka penghuni sel yang ingin melepaskan hasrat ***-xualnya."


Bagi Diego, itu adalah hal yang pantas didapatkan Farhan dari pada penyiksaan fisik seperti yang lain. Karena pada dasarnya, pria itu bukanlah pria kuat yang ahli bertarung, melainkan pria tamak dan manipulatif. Sehingga, Diego memilih hukuman itu untuk merontokkan semua kejantanannya dan ketamakannya.


Aishe yang memang mengenal Farhan, pun tidak keberatan atau memprotes tindakan Diego. Pemikiran gadis itu ternyata sama dengan Diego. Tidak ada yang lebih membuat Farhan takut dan ingin mati selain kedatangan pria-pria haus akan napsu itu ke dalam selnya. Bahkan, meski pada akhirnya Farhan bebas, dia akan tetap akan mengingat setiap sentuhan itu menjijikan yang dia rasakan selama berada disini.



Mereka kembali ke kota setelah berdiskusi tentang berapa lama masa penyiksaan Farhan. Aishe hanya diam sepanjang perjalanan, seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat. Sampai tiba-tiba, dia merasakan nyeri hebat di perutnya. 


Sambil mencengkram rok, dan menekan perutnya, dia mencoba bertahan, tatkala mata indah itu melihat palang yang menunjukkan jarak kota sejauh 5 kilometer. Namun, raut wajahnya tidak bisa berbohong. 


Diego pada awalnya tidak memperhatikan, karena wajahnya menghadap ke kaca. Dia mengira Aishe sedang melamunkan sesuatu. 


Namun semakin lama, Diego menjadi curiga. Pelan-pelan dia membalik pundak Aishe, dan betapa terkejutnya dia ketika menatap wajah gadis itu sudah pucat pasi. 


"Ishe … Ishe!" teriak Diego dengan ekspresi panik, tetapi Aishe hanya memegangi perutnya. 


"Hei ada apa denganmu!"

__ADS_1


"Pe-perut! Dis - men -nore!" Aishe berusaha menjawab, tetapi suaranya terdengar lirih. 


"A-apa? Dis- apa?" Diego berusaha terus berbicara dengan Aishe, tetapi dia menunduk dengan wajah yang berkeringat. 


"Ke rumah sakit terdekat!" 


Melihat Aishe tiba-tiba kesakitan tanpa sebab, membuat Diego menjadi resah. Namun pria dingin itu cukup pengertian. Dengan hati-hati dia menyuruh Aishe merebahkan diri dan meletakkan kepalanya di pangkuannya. Dia bahkan melepas jas dan menutupi kaki Aishe agar tidak kedinginan. 


Tidak sampai setengah jam, mobil yang mereka naiki tiba di rumah sakit terdekat. Rehan dan Ashan terlihat berdebat saat Diego memerintahkan membopong tubuh Aishe. Rehan terlihat masih jengkel dan enggan, dia lebih memilih membantu tuannya dari pada gadis itu. 


Pada akhirnya, Eraz lah yang turun tangan menggotong tubuh Aishe dan membawanya masuk ke IGD. 


"Dismenore. Saya sudah memberinya pereda nyeri. Nona hanya perlu beristirahat saja untuk satu hari ini," jelas dokter setelah memeriksa dan melakukan pertolongan pertama. 


Dismenore, sebenarnya sangat umum terjadi pada wanita yang sedang datang bulan. Beberapa wanita memang merasakan Dismenore ringan, tetapi ada juga yang cukup berat sehingga membutuhkan obat pereda nyeri. 


"Bagaimana, apa masih sakit?" tanya Diego setelah dokter yang memeriksa pergi, dan dua pengawalnya yang mengurus administrasi. 


"Sudah tidak terasa sakit. Terima kasih, Tuan." 


Setelah urusan di rumah sakit beres. Diego memutuskan menunda kepulangan mereka demi kesehatan Aishe. Dia lebih memilih mencari hotel untuk menginap satu malam dan kembali ke Istanbul besok.


__ADS_1


Othor juga mendadak Dismenore 😵


Hari ini 2 bab dulu ya, othor mau semedi lagi. 💋💋


__ADS_2