Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 126


__ADS_3

Api di beberapa tempat masih berkobar, asap sisa ledakan pun sudah menipis, hanya tersisa asap dari api yang membakar kain. Aishe perlahan melepas dekapannya dari Diego, lalu sekonyong-konyong mencoba untuk bangkit berdiri.


"Biarkan aku memeluk Guzel, dia sudah menyelamatkanku, Die," ucapnya lirih.


"Tapi keadaan Bibi Nie – " Belum sempat Diego melanjutkan ucapannya, Aishe lebih dulu mengangguk dan menyela ucapannya.


"Tidak apa, tidak masalah."


Aishe menoleh, melihat kondisi Bibi Nie yang begitu mengenaskan, perutnya seperti terdorong sesuatu. Mual, sudah pasti. Namun Aishe buru-buru menutup mulutnya dan mencoba mengambil napas dalam-dalam.


Setelah merasa lebih baik, ia berjalan dengan pincang karena luka di kakinya. Melihat Guzel yang masih memeluk sang ibu, ia kembali teringat akan masa lalunya.


"Guzel …." Sapanya lirih, namun berhasil membuat Guzel mendongak menatap Aishe.


"Nyonya …."


Aishe bisa melihat dengan jelas kesedihan di mata Guzel. Kesedihan yang hampir sama saat belasan tahun lalu ia ditinggal pergi oleh ibu dan ayahnya. Aishe duduk bersimpuh, lalu mendekap Guzel.


"Guzel!"


Aishe sendiri tidak mampu berkata apa-apa, tidak bisa memberi gadis itu sebuah semangat, karena dia sendiri pernah berada di posisi Guzel. Aishe hanya mendekap, menyuruh gadis itu untuk menangis sampai puas.

__ADS_1


"Kami akan mengurus pemakaman Bibi Nie. Jangan khawatir, kamu masih memiliki kami, Guzel."


Suara Diego perlahan membuat Guzel melepaskan diri dari dekapan Aishe. Ia mendongak, menatap sosok Diego yang berdiri di hadapannya.


"Terima kasih, Tuan. Terima kasih banyak!"


Suasana duka masih menyelimuti mereka. Air mata pun bahkan belum mengering. Namun tiba-tiba terdengar suara tembakan, disusul oleh tawa seorang wanita.


"Lama tidak berjumpa, Kakak Ipar!"


Malva berjalan masuk ke dalam, bersama dengan sepuluh pria dengan pakaian hitam dan senjata di tangan mereka.


Malva! Gadis ini bersekutu dengan Max?


Eraz dan Rehan sempat saling memandang, saat mereka melihat pria berambut pirang yang selama ini menjadi tangan kanan Max, berdiri di samping Malva.


"Wah wah, Kakak Ipar sekarang sudah bisa berjalan. Sepertinya kita perlu merayakannya!" Malva tersenyum dengan licik, kemudian mengambil sebuah pistol dari tas jinjingnya.


"Jadi, siapa yang harus aku jadikan Pinata?" Malva menatap tajam ke arah Aishe yang bersimpuh bersama dengan Guzel. "Bagaimana jika tante?" lanjutnya menodongkan senjata.


"Apa yang kamu lakukan, Malva?" tanya Diego mencoba mengulur waktu, sembari melihat sekitar, mencari benda untuk dijadikan senjata karena ia tidak membawa senjata apa pun saat ini.

__ADS_1


"Apa? Kakak Ipar bertanya padaku, apa?" Malva berbalik menatap Diego, namun ia masih menodongkan senjatanya ke arah Aishe.


"Kamu membuatku kehilangan segalanya! Apa kau tidak tahu? Kakak Ipar mencoba bersikap lugu?" Malva berjalan mendekat.


"Berhenti bersikap konyol! Kau sendiri yang terobsesi dengan Diego. Bahkan sampai membunuh Lyra." Seru Rehan kesal.


Mendengar itu Malva justru tertawa dengan sangat nyaring. "Jangan bodoh! Kalian tidak tahu? Kakakku hanya umpan, begitu juga kalian! Kita semua adalah umpan bagi keluarga Gulbar!"


"Diam! Kau tidak tahu apa-apa tentang keluarga Gulbar!" Sungut Emmil. "Kau tidak tahu apa-apa, jadi diam dan pulanglah bermain boneka!"


Sorot mata Emmil menatap tajam, memandang Malva seperti seekor kelinci empuk yang mengantarkan dirinya.


"Kau yang selama ini dijadikan umpan! Max menjadikanmu umpan untuk menjatuhkan lawannya, apa kau tidak sadar?!" Urat-urat nadi Emmil meregang, dia benar-benar emosi dengan tindakan bodoh Malva.


Sedangkan yang lain, mencoba saling berkomunikasi dengan mata dan menyusun rencana.



Bab selanjutnya melunjur ... sajen harap di siapkan.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2