
Aishe –
Ini bahkan belum lewat 24 jam, tapi seorang wanita sudah datang dan berkata bahwa kau punya tunangan. Dia bahkan mengaku sebagai adik ipar di depanku.
Aahh … aku ingin menertawakan diri sendiri yang terlihat sangat, sangat bodoh sekarang. Apa bedanya aku dengan selingkuhan?
Bahkan aku tinggal di tempat mereka.
Atau jangan-jangan, ranjang yang selalu menjadi alas kita juga milik tunangannya?
Aishe tertunduk mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia tidak ingin memandang siapapun untuk saat ini, atau bahkan mendengar suara mereka. Dia ingin kabur, kabur sejauh mungkin.
"ERAZ!" Diego berteriak lantang, cukup lantang sampai menggetarkan hati Malva.
Eraz pun muncul entah dari mana. Aishe yang sejak semalam di rumah, bahkan tidak tahu jika Eraz berada dalam Villa.
"Ya, Tuan!"
"Bawa dia ke tempat, dimana aku bisa berbicara dengan nyaman nanti!" titah Diego yang langsung dilaksanakan Eraz.
"Kak, Kakak! Malva salah! Tolong jangan biarkan dia membawaku!" Malva berteriak lantang dan meronta, tetapi Eraz mengungkung kedua tangannya kuat-kuat.
"Malva mohon maafin, Kak. Demi Kak Lyra!" Pekiknya keras sebelum akhirnya Eraz menyeretnya keluar dari pintu.
Diego menghela napas lega, lalu memandangi Aishe yang tertunduk lesu. Wanita itu jelas cukup terkejut dengan pernyataan Malva yang tiba-tiba. Terlebih, Diego baru saja menyatakan perasaannya.
__ADS_1
"Ishe …." panggilnya penuh kelembutan. "Bisakah kamu duduk dan mendengarkanku?" Diego menepuk sofa di sebelahnya yang kosong.
"Apa yang mau Anda bicarakan? Anda mau mengelak?" Aishe menegakkan sedikit kepalanya, menunjukkan wajah kecewa yang terlihat sangat jelas. "Anda mau mengelak?" lanjutnya.
Entah kenapa mendengar Aishe berbicara Formal, membuat hati Diego merasakan hawa dingin yang cukup menyiksa batin.
"Tidak." Diego mempertegas sorot matanya.
"Aku tidak mengelaknya, Lyra memang tunanganku. Rumah inipun, aku membuatnya untuk dia." Penjelasan Diego yang jujur justru membuat hati Aishe bertambah sakit.
"Tapi, dia sudah pergi 6 tahun lalu. Pergi selamanya dan tidak kembali." Diego mengangsurkan satu tangannya. "Bisakah kau kemari dan duduk? Aku akan memberitahumu."
Entah kenapa, hati yang semula sakit dan mengeras, tiba-tiba mengendur setelah mendengar ucapan Diego. Aishe dengan sadar berjalan ke depan, kemudian duduk satu sofa dengan Diego, tapi sedikit lebih jauh.
Diego hanya tersenyum tipis, memaklumi tingkah Aishe yang masih marah, tetapi berusaha untuk mendengarkan.
Diego masih belum menyerah menggoda Aishe, dengan lembut ia menarik tangannya dan memeluknya. "Mau marah, marah saja. Ingin pukul, pukul saja. Jangan seperti ini, kau buat hatiku sakit!"
Aishe mengepalkan tanganya, kemudian memukul dada bidang Diego sekuat kuatnya hingga pukulannya menimbulkan bunyi 'bugh'. "Kau jahat! Idiot! Pembohong!"
"Aku tidak berbohong!" elak Diego menerima semua pukulan Aishe dengan sabar.
"Kamu berbohong! Kamu baru saja menyatakan perasaanmu, tapi seorang gadis muda justru datang dan mengaku sebagai adik ipar!" Aishe masih teruse memukul dada bidang Diego, melampiaskan rasa jengkel, marah, dan kecewanya.
"Iya," jawab Diego singkat.
Mendengar jawaban Diego, Aishe menghentikan pukulannya dan melepaskan diri dari pelukan Diego. "Iya? Iya katamu?"
__ADS_1
"Sorry, I Love You!"
"Berhenti berkata 'Sorry, I Love You'! Kamu tidak akan mendapatkan feedback yang menguntungkan kali ini!" Aishe mendengus kesal.
Diego menghela napas panjang, dia sendiri bingung harus bercerita dari mana. Sampai akhirnya, ia mengumpulkan segala mood dan mulai bercerita. "Namanya Lyra. Aku bertemu 2 tahun setelah menjabat menjadi Presdir BIN." Diego memulai ceritanya.
"Lalu, aku bertungangan dua tahun kemudian. Hanya saja, dia pergi enam tahun lalu." Diego menunduk untuk sesaat dan menelan salivanya.
"Kamu pasti pernah mendengar berita. Enam tahun lalu, Diego Gulbar kecelakaan bersama seorang wanita. Diego selamat dan wanita itu meninggal di tempat."
Aishe terperangga kaget untuk beberapa saat. Enam tahun lalu adalah waktu ketika Aishe baru saja mengenal dunia perkantoran. Dia hanya mendengar desas desus mengenai kecelakaan tunggal pewaris BIN, tetapi tidak membaca detailnya.
"Aku tidak berbohong padamu, Sayang. Aku hidup sendiri selama enam tahun dan menjaga hatiku. Sampai aku menemukanmu di pulau itu." Diego melanjutkan ceritanya.
"Tuhan dan Lyra seakan menyuruhku untuk mengakhiri kesendirian dan memulai hubungan yang baru." Diego menengadah untuk sesaat, kemudian beralih menatap Aishe.
"Aku berkata yang sebenarnya, bisakah kamu percaya padaku, Sayang?" Dua manik mata Diego berbinar menunjukkan kejujurannya, membuat Aishe tiba-tiba mendekap tubuhnya erat-erat.
...☆TBC☆...
Sepertinya othor butuh secangkir kopi untuk lanjut
🤭🤣🤣🤣
Tenang, Malva bakal dpt balasan yang setimpal karena udah bikin Aishe ragu ke babang Die. Jadi dukungannya jangan lupa 💋💋
__ADS_1