Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 158


__ADS_3

Mirey masih berada di tempat yang sama. Saat Aishe menengadah dan tersenyum padanya, dengan kepala yang sedikit tertunduk, menunjukkan rasa hormatnya. Mirey pun membalas senyuman itu dengan senang hati.


Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat, bagaimana anak Semata Wayangnya mencintai Aishe. Juga bagaimana wanita itu memperlakukan Diego dengan penuh perhatian.


"Sudah ku bilang, menantuku sangat baik," ucap Deniz yang tidak tahu sejak kapan dia berdiri di samping Mirey.


"Apa kamu yakin dia yang menembak Max?" Mirey menoleh, menatap Mustafa dan Deniz sevara bergantian.


Ragu, sudah pasti. Aishe yang dia lihat hari ini begitu lembut dan feminim. Tidak ada aura membunuh sama sekali. Lantas, bagaimana bisa dia dengan mudah menodongkan pistol?


"Bagaimana jika dia membunuh Diego nanti?"


Mustafa yang mendengar praduga Mirey hanya menghela napas singkat. Mata tuanya menatap Aishe yang sedang mendorong Diego pergi, sambil berbincang dengan Guzel.


"Kau tau, gadis itu dan anakmu memiliki kisah yang sama. Mereka seperti terlahir untuk saling menguatkan satu sama lain," jelas Mustafa tanpa menatap Mirey.


"Jika mereka tidak bersama, mungkin Diego tidak akan bisa berdiri di hadapan kalian, begitu juga gadis itu."


"Konyol!" Mirey bersedekap tangan. "Anakku begitu kuat, mana mungkin dia menyerah begitu saja?"


"Kau tidak tahu hati anakmu Mirey. Bagaimana dia bisa kuat jika ibunya sendiri justru mendorong dirinya ke sisi lawan yang begitu berbahaya. Bagaimana dia bisa tegar saat ayahnya menghilang begitu saja?"


Mirey terhentak dengan jawaban Musafa yang dirasa benar. Tidak terhitung berapa banyak ia mendorong anaknya sendiri pada musuh. Deniz sendiri hanya bisa diam tertunduk dengan rasa bersalahnya.


"Kalau pun dia bisa bertahan. Dia mungkin akan menghadapi kalian dengan sikap dinginnya!" Mustafa memasukkan kedua tangannya ke saku, lalu pergi meninggalkan Deniz dan Mirey.

__ADS_1


Mereka berdua masih diam, dengan sorot mata fokus memandangi Diego dan Aishe yang masuk ke dalam mobil.


"Dia hanya meminta resepsi untuk pernikahannya," ucap Deniz tiba-tiba.


"Aku tau!" jawab Mirey singkat tanpa menoleh memandang sang suami. "Kau harus menyiapkan itu dengan baik! Aku akan bawa perancang busana ke rumah mereka besok!" lanjutnya lalu berpaling pergi.


Baru beberapa langkah Mirey berjalan, dua sudut bibirnya tiba-tiba terangkat, bersamaan dengan raut wajah senang.


"Aku akan punya cucu. Aku punya cucu," gumamnya lirih dengan senyum merekah di wajahnya.


Sepertinya, ekspresi tadi hanyalah tipuan untuk Deniz dan Mustafa, agar mengira dirinya belum bisa menerima Aishe dengan berbagai alasan. Namun kenyataannya, cerita dari Deniz sudah berhasil membuat wanita berumur 55 tahun ini kagum pada Aishe.


Disisi lain, Mustafa yang pergi meninggalkan Mirey dan Deniz, terlihat menghampiri putra tunggalnya yang sedang merokok di depan mobil. Rehan terlihat murung saat sang ayah menepuk pundaknya dan meminta sebatang rokok.


"Rokok bukan untuk orang tua!" ucapnya terdengar sedikit kasar, tapi seperti itulah bentuk perhatiannya pada sang ayah.


"Tidak! Kaulah yang semakin lihai berbohong!"


Dua sudut bibir Mustafa tiba-tiba terangkat, lalu mendekat dan berdiri tepat di sebelah Rehan sambil menyandarkan setengah tubuhnya ke kap mobil yang tadi di kendarai Ashan.


"Masih marah soal adik angkatmu? Kenapa? Dia anak yang baik. Kenapa kau tidak mau?"


Pertanyaan Mustafa langsung membuat Rehan menoleh menatapnya.


"Aku tau. Aku hanya tidak bisa …." Rehan terlihat menyibak rambut kepalanya.

__ADS_1


"Ayah tau, aku juga turut andil dalam kecelakaan Diego!" serunya lantang.


"Selama 5 tahun, aku hampir tidak punya muka menatap wajahnya. Dan sekarang … Ayah malah membuat istrinya menjadi adik angkatku!"


Mustafa memandang Rehan dengan wajah yang tenang, melihat sang putra justru terlihat kesal.


"Sekian lama kau bekerja dengannya, tapi masih belum bisa memahami hati bosmu! Ckckck, tidak peka!" ejek Mustafa sambil merogoh saku, mengambil cerutu miliknya.


"A-apa maksud ayah?"


"Kau tau, tujuan Max membuatmu menukar mobil agar hubungan kalian retak. Ketika Diego mengetahuinya, dia justru berusaha mati-matian menutupi keretakan diantara kalian. Tapi apa yang kau lakukan?" Mustafa menoleh, menatap Rehan dengan tatapan nyalang.


Perkataan Mustafa membuat Rehan terhenyak untuk sesaat. Ia memandang wajah sang ayah lekat-lekat, dengan pikiran yang terus mengingat berapa banyak Diego memaafkan dirinya.


"Menjadikan istrinya sebagai adik angkatmu juga sebagai bentuk perhatiannya," lanjut Mustafa yang kemudian menyalakan cerutunya.


...☆TBC☆...



Nulis RTL gak gampang, alurnya berat, harus survei dan nyari refrensi. Author pun hanya manusia biasa, kadang ada capeknya kalau mikir alur berat, jadi butuh libur di sebelah dengan alur yang ringan 😪😪


Itu, yang cuma baca, gak like, gak kasih kadiah, gak vote. Please gak usah ngeluh kalau libur sehari 😌


Gak lagi mode ngambek. Kalau dipojok kiri tiba2 ada tulisan END tanpa pemberitauan, itulah ngambek

__ADS_1


🤣🤣🤣🤣


__ADS_2