
"Dia memanipulasi dirimu, membuatmu mencelakai Lyra. Padahal, tujuannya adalah Diego. Kau tidak sadar?" Emmil mencoba mengalihkan konsentrasi Malva dan juga beberapa anak buah Max.
"Guzel, dengarkan aku!" Lirih Diego berbicara pada Guzel yang duduk bersama Aishe di belakangnya. "Bawa nyonya pergi dari sini! Bawa dia ke tempat yang aman, mengerti!"
"Baik, Tuan."
"Tidak, Die. Biarkan aku bersamamu!" Aishe mencoba memohon. Dia sendiri tidak ingin melihat Diego dalam bahaya. Bahkan jika bisa, dia ingin bertarung juga bersama sang suami.
"Ishe, Sayang. Dengarkan suamimu baik-baik, kamu, dan bayi kita harus selamat. Aku akan menyusulmu." Diego berusaha meyakinkan Aishe agar mau mengikuti Guzel pergi sejauh mungkin dari sana.
Namun tiba-tiba, amarah Malva mencuat. Ia menembakkan pistolnya ke atas dan berteriak, "DIAM! DIAM! Aku tidak membunuh kakak, Dia lah yang sudah membunuh kakak!"
Malva dengan cepat mengarahkan senjatanya ke arah Diego, tetapi saat ia hendak menarik pelatuk, Aishe dengan sigap meraih bongkahan bata dan melemparnya. Hingga, bongkahan itu mengenai tangan Malva dan membuat senjatanya terjatuh.
Hanya dalam sepersekian detik. Eraz dan Emmil yang memang sudah membawa senjata dari awal langsung menodongkannya, menembak mati dua anak buah Max. Sedangkan Diego meraih gunting yang ada di dekatnya dan melemparnya hingga menancap ke jantung lawan.
Pertarungan sengit dimulai, Guzel menarik Aishe pergi menjauh. Sedangkan Mustafa sempat menyuruh Rehan untuk menjaga Aishe.
"Jaga adikmu! Jaga Aishe!" ucap Mustafa mendorong Rehan agar menyusul Aishe.
"Adik? Apa maksud ayah?"
Namun belum sempat ia mendapat jawaban, Eraz sudah melempar senjatanya ke Mustafa, dan pria tua itu dengan gesit menjatuhkan lawan dalam sekali tembak.
Empat musuh sudah terkapar hanya dalam kurun waktu kurang dari 2 menit sejak Aishe melempar bongkahan bata dan menjatuhkan senjata Malva. Namun wanita itu belum juga gentar meski sekelilingnya terdengar deru letusan pistol
Dia dengan cepat mengambil pistolnya lagi, lalu mengarahkannya ke Aishe yang sedang berlari tertatih-tatih karena kakinya masih terluka.
Diego yang melihat itu sempat berteriak, membuat Guzel menoleh dan dengan cepat menghalang peluru dari Malva.
__ADS_1
"GUZEL!!" Pekik Ashan terkejut melihat peluru itu mengarah pada Guzel.
Satu peluru menembus bahunya, membuat tubuh gadis itu jatuh bersimpuh. Aishe sempat menoleh, melihat Guzel jatuh di belakangnya, entah kenapa kakinya mendadak kelu tak bisa bergerak.
Guzel!
"Lari, Nyonya!" Seru Guzel sedikit lantang.
"Tuan!" Emmil memanggil Diego di waktu yang bersamaan.
Diego menoleh, melihat Emmil melempar senjata padanya, ia buru-buru menangkapnya. Lalu menarik pelatuk, menembak dada Malva dan langsung membuat gadis itu terkapar, menghembuskan napas terakhirnya.
Ini, untuk Lyra.
Namun pada saat yang sama, satu peluru tidak berhasil Diego hindari setelah berhasil menjatuhkan Malva, membuat peluru bersarang di lengannya. Diego menoleh, melihat seorang pria bersiap menarik pelatuknya lagi, tapi gerakan tangan Diego lebih cepat, pelurunya lebih dulu bersarang di kepala musuh.
Sambil memegang lengannya yang tertembak, Diego berteriak dan menoleh melihat Rehan. Pria itu dengan cepat berlari ke arah Aishe, lalu membopong tubuh wanita itu pergi secepat mungkin.
"DIEGO!! DIE …."
Teriakan Aishe terdengar cukup jelas, tapi Diego hanya bisa melihat lambaian tangannya yang perlahan lenyap diantara gelapnya malam.
Bawa dia pergi ke tempat yang aman, Rehan. Aku percaya padamu!
Diego mencoba berdiri, melihat Mustafa dengan gigih bertarung dengan musuh di usia tuanya. Lalu, ia menggerakkan pundaknya yang terluka, dan kembali menodongkan senjata. Darah segar terlihat menetes dari ujung jarinya, tapi ia tidak menggubris.
"Bunuh semuanya! Jangan sisakan satu pun!"
Namun, Max rupanya tidak hanya menyuruh 10 orang saja. Pria paruh baya itu ternyata mengirim lebih banyak orang lagi untuk datang. Melihat beberapa anak buah Max datang, Diego mencoba mendekat ke arah Mustafa.
__ADS_1
"Pergilah, Paman! Aku akan melindungimu!" ucap Diego menempelkan punggungnya di punggung Mustafa. "Jaga dan sembunyikan istriku dengan baik. Setelah pertarungan dengan Max selesai, aku akan menjemputnya!"
"Kamu tidak menunggu Deniz?"
"Sampai kapan? Aku tidak mau kehilangan anak dan istriku!" Diego mundur beberapa langkah, membuat Mustafa mendekat ke arah pintu.
"Pergilah, Paman. Jaga dia, jangan biarkan dia datang padaku!" Pesan Diego pada pria tua yang napasnya sudah amat berat. Mungkin, jika tetap di sana, dia akan mati karena kelelahan.
"Aku akan meminta bantuan, bertahanlah!" Mustafa secepat mungkin berlari, mengejar Rehan dan Aishe yang baru beberapa menit pergi dari sana.
Pertarungan masih berlangsung. Semua orang sibuk saling menembak. Begitu juga Ashan, yang bertarung sambil melindungi Guzel.
"Jangan menutup matamu! Bertahanlah, oke," ucap Ashan menoleh ke belakang.
"Aku ... akan berusaha."
Napaz Guzel mulai berat, dadanya terasa sesak, bahkan tangannya yang terluka sudah tidak bisa ia gerakkan. Hanya ada rasa sakit menusuk yang terasa.
"Tetaplah sadar, Guzel. Kau masih harus menikahiku setelah membuat aku terpesona!" seru Ashan sedikit lantang. "Guzel, kau mendengarku kan? Kau harus menikahiku!"
"Ya ... jika kita masih tetap hidup!"
Uncel Mustafa masih macho meski udah tuwir.
Tambah 1 Bab lagi, sajen jangan sampe ketinggalan, apa lagi Likenya.
Besok lanjut lagi, bang Farez melambai-lambai.🤣
__ADS_1