
Rehan terlihat mendorong kursi roda yang diduduki Diego, keluar dari ruang perawatan menuju lobi bawah. Sedangkan Aishe terlihat menggandeng Mustafa dan berjalan di belakang mereka.
"Ayah, apa Ayah mengenal Bibi Nie sangat lama?" Entah mengapa, Aishe tiba-tiba penasaran akan kedekatan mereka dengan salah seorang pengurus rumah tangga.
"Aku dan Deniz, ayah mertuamu itu. Bisa dibilang sangat dekat dengannya. Yah, itu karena kami bermain bersama sejak kecil," jelas Mustafa seraya menepuk-nepuk tangan Aishe yang memegangi lengannya.
"Nie anak yang baik saat itu. Meski dia bisa bermain dengan kami, dia tetap sopan. Dia juga tidak pernah melupakan posisinya sebagai calon pengurus keluarga Gulbar."
Mustafa menengadah sebentar, lalu menoleh menatap Aishe yang sesekali memperhatikannya. "Sama seperti anaknya, meski dia dekat denganmu. Dia masih begitu sopan, benarkan?"
Dua sudut bibir Aishe tiba-tiba terangkat. Memang benar apa yang dikatakan ayah angkatnya itu. Meski mereka akrab, Guzel masih sangat sopan dan segan terhadapnya.
"Keluarga Gulbar sepertinya punya karma baik. Pengurus rumah tangga mereka sangat setia. Bahkan keluarga Bibi Nie juga sudah mengabdi sejak generasi kedua."
"Ya, karena keluarga Gulbar juga baik pada mereka dan menganggap mereka layaknya keluarga."
Pembicaraan singkat itu, nyatanya berhasil menjadi topik yang menyenangkan, sampai mereka tidak sadar sudah keluar dari lobi. Bahkan Diego sudah dibantu untuk naik ke atas mobil.
Mobil sedan dengan logo Audi, terlihat terparkir di depan lobi. Rehan yang sudah membantu Diego naik, langsung membuka kursi penumpang bagian depan untuk sang ayah, sebelum akhirnya ia duduk di kursi pengemudi.
Diego terlihat mengulurkan tangannya keluar, bermaksud membantu Aishe untuk naik ke atas mobil, dan duduk di sebelahnya. Dengan dua sudut yang terangkat sedikit lebih tinggi, serta sorot mata penuh cinta.
"Thank you," ucap Aishe saat ia meraih tangan sang suami dan masuk ke dalam, duduk tepat di sebelahnya.
"Apa yang kamu bicarakan dengan paman?" tanya Diego tiba-tiba saat Aishe sudah duduk di kursinya.
__ADS_1
"Kenapa kamu ingin tau sekali? Itu tidak baik, Suamiku!" goda Aishe sambil melirik ke arah Diego, lalu melihat ayah angkatnya yang tersenyum duduk di depan kursi.
Diego sudah benar-benar gemas pada saat itu. Jika bukan acara pemakaman Bibi Nie, dia pasti sudah mengajari sang istri 'etika berbicara' yang baik, dan sudah pasti, ia akan mengajarinya di atas ranjang. Namun lantaran hari ini tidak bisa, maka ia bersumpah dalam hati, kelas belajar akan diadakan nanti malam.
Dari rumah sakit menuju tempat pemakaman, setidaknya membutuhkan waktu 60 menit hingga 95 menit. Namun jika dari rumah, mereka hanya butuh 45 menit.
Haydarpasa Cemetery. Pemakaman Haydarpaşa, juga dikenal sebagai Pemakaman Haidar Pasha, Istanbul, yang terletak di lingkungan Haydarpaşa di distrik Üsküdar di bagian Asia Istanbul, Turki, adalah tanah kuburan yang awalnya didirikan untuk personel militer Inggris yang ikut serta dalam Perang Krimea.
Benar, pemakaman dengan luas hampir 5 Hektar, dengan sisi lain menjadi tempat pemakaman bagi tentara Perang Dunia ke-1 ini adalah pilihan Diego. Lantaran keluarga Gulbar memiliki 1 hektar tanah yang mereka beli 50 tahun lalu.
Dua mobil terlihat terparkir di halaman tanah pemakaman yang mereka beli. Salah satunya jelas milik Ashan yang sudah berada di sana setengah jam yang lalu.
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Ada yang harus aku bicarakan dengan Rehan. Hanya sebentar." Diego mengangsurkan tangannya, lalu membelai ubun-ubun sang istri.
"Baiklah."
Setelah Aishe dan Mustafa pergi lebih dulu, Rehan terlihat membantu Diego duduk di kursi roda sambil bertanya sesuatu.
"Apa ada instruksi lain?"
__ADS_1
"Max sudah mati. Apa kamu masih bersikap kaku padaku? Bagaimanapun, kita ini saudara."
Rehan terdiam, matanya terlihat fokus pada kursi roda yang diduduki Diego. Dia sendiri bukannya enggan menjawab, tapi entah kenapa, lidahnya menjadi kelu.
"Kamu masih terbayang-bayang masa lalu? Tentang kejadian ibumu yang menyelamatkan ayahku? Atau tentang dirimu yang menukar mobil 6 tahun lalu?"
Rehan tersentak kaget, hingga menegakkan kepalanya menatap wajah Diego.
"Seperti Bibi Leyla yang tidak sengaja menyelamatkan ayah. Aku percaya kalau kamu juga tidak sengaja menukar mobil."
"Die, aku benar-benar tidak tahu jika mobilnya sudah di otak atik. Aku berani bersumpah!" ucap Rehan sedikit emosional dengan sorot mata tajam.
"Aku tahu," jawab Diego dengan santai. Seolah tidak memperdulikan jika Rehan juga terlibat dalam insiden kecelakaannya dulu.
"Ka-kau percaya begitu saja? Dengan mudahnya? Aku membuatmu celaka!" Nada Rehan sedikit meninggi.
"Karena Max menciptakan itu untuk membuatku benci padamu." Diego mendongak ke atas, menatap wajah Rehan yang saat itu terlihat kaget.
"Ayo pergi, mereka sudah menunggu kita!" lanjut Diego memutar kursi rodanya.
...☆TBC☆...
Rindu gak Rindu gak??? 🤭🤭
__ADS_1
Seperti biasa, sajen dulu baru Up 🤣🤣
Like, Vote, Hadiah, jangan sampe lupa tentunya 😌😌