
Kembali ke Villa Luxury, adalah salah satu keinginan yang sudah Aishe pendam beberapa bulan terakhir. Entah kenapa, wanita yang sedang mengandung anak pertamanya itu tiba-tiba ingin datang mengunjungi Villa Luxury, ketika ia mengetahui jika Diego sudah bisa berjalan.
"Anda begitu familiar dengan tempat ini, Nyonya," tanya Guzel penasaran saat Aishe mengajaknya masuk ke kamar lamanya.
"Em, sangat familiar." Karena hanya tempat ini yang bisa aku tinggali, saat seluruh dunia tidak menganggapku.
Aishe menoleh ke sisi kiri, melihat walk in closet yang ukurannya tidak terlalu besar. Dia pun segera menghampiri walk in closet dan membuka pintu yang terbuat dari kaca tembus pandang. Baju-bajunya lamanya masih tergantung rapi, high heels, dan tas yang masih berada di tempat semula.
Ah, kalian yang aku beli dengan uang terakhirku.
Aishe tiba-tiba teringat, saat menantang Diego untuk membuatnya tertarik. Dia mendatangi seorang stylish demi bisa merubah penampilannya, berbelanja dengan uang terakhirnya untuk membuat Diego tertarik.
Mengingat itu, dua sudut bibir Aishe terangkat. Antara bahagia dan malu, hanya terpisah satu garis tipis di antara senyum manisnya.
Lamunan indahnya itu terhenyak, ketika ia mengingat jika Guzel masih berdiri di belakangnya. Buru-buru dia mengambil satu baju santai dari walk in closet, lalu menaruhnya di atas ranjang.
"Apa kamu mau tinggal disini, Guzel? Atau … kembali ke rumah lama?" tanya Aishe menatap Guzel masih berdiri di tempatnya semula.
Guzel terbengong sesaat, mulutnya menganga, seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi kalimatnya tertahan di kerongkongan.
__ADS_1
"Tidak masalah, katakan saja apa yang kamu inginkan." Perkataan Aishe terdengar begitu lembut, membuat dua sudut bibir Guzel terangkat penuh haru.
"Itu … apa saya boleh merawat dan menjaga rumah lama?" tanya Guzel terdengar sedikit lirih, seperti takut untuk mengutarakan pendapatnya.
"Banyak kenangan bersama ibu disana, saya … belum siap." Guzel tertunduk dengan sudut mata yang tampak basah.
Mendengar alasan Guzel, Aishe mengingat saat kehilangan ibu dan ayahnya dulu. Dia sempat tertunduk, lalu mengangkat sudut bibirnya sambil berdiri dan berjalan menghampiri Guzel. Tangan dengan jemari lentik itu mengambil selembar tisu, dan memberikannya pada Guzel.
"Guzel, tidak salah jika kamu mengingat kenangan kenangan itu. Hanya saja, yang telah pergi tidak bisa kembali dan kamu juga harus mencari kebahagiaanmu. Jangan terlalu larut dalam kenangan."
Penjelasan Aishe membuat Guzel menatapnya dengan perasaan kecewa. Guzel pikir, Aishe tidak tahu rasanya kehilangan ibu seperti dirinya, sehingga Aishe dengan mudahnya berbicara. Namun, menjelaskan hal ini pun tidak berguna, lantaran Aishe adalah istri majikannya.
Mereka berdua turun setelah Aishe selesai berganti pakaian. Rupanya, Eraz sudah dan sedang sibuk membahas sesuatu bersama Diego dan Ashan.
"Die …." panggil Aishe dengan suara merdunya, membuat Diego dan dua orang pria itu menoleh.
"Sudah selesai? Duduklah!" Diego menepuk samping sofanya yang kosong, juga mempersilakan Guzel untuk duduk di antara mereka.
Aishe baru saja duduk, ketika segelas jus disodorkan padanya. "Jus yang kamu inginkan," ucap Diego diakhiri senyum manisnya, membuat beberapa orang disana tertunduk malu.
"Terima kasih, Sayang." Aishe mengambil segelas jus lalu mengecup kening Diego.
__ADS_1
Aah, romansa dua orang ini memang tidak bisa melihat situasi. Ashan mengalihkan matanya, melihat Guzel yang duduk di sisi kirinya.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Aishe usai meneguk jus strawberry dengan rasa manis sedikit asam, pas sesuai dengan keinginannya.
"Sedang membahas rumah. Aku ingin menjadikan rumah itu sebagai Yayasan Amal atas nama Bibi Nie, bagaimana menurutmu?"
Ucapan Diego langsung membuat dua mata Guzel terbelalak kaget. Sedangkan Aishe justru bersikap sebaliknya. Mungkin karena dia sudah bisa menebak, jika Diego akan melakukan hal lain tentang Bibi Nie.
"Itu bagus sekali. Tapi, Die … Guzel ingin tinggal disana. Ada banyak kenangan tentang Bibi Nie di rumah itu," ucap Aishe menatap Guzel sesaat, lalu menatap Diego kembali.
"Tidak masalah. Aku memang ingin menyerahkan yayasan itu pada Guzel. Biarkan dia mengelolanya dan mencari anak anak yang kehilangan ibu atau ayah, untuk mendapatkan bantuan," jelas Diego.
Aishe melihat sekilas wajah Diego, lalu melihat Guzel yang sedang duduk terperangah kaget. "Bagaimana menurutmu, Guzel?"
...☆TBC☆...
Vote Vote! Gift Gift!
Othor menjelma jadi kang palak 🤣🤣
__ADS_1