
Ashan berjalan mendekat, memberikan kotak cincin berwarna hitam pada Diego. Dengan hati-hati pria berjas putih itu membuka kotak, mengeluarkan satu cincin dengan manik mata berwarna biru. Konon katanya, itu adalah cincin pernikahan dari pendiri BIN Bank, kakek dan nenek Diego, yang di poles ulang dengan model baru.
Cincin Safir Ceylon, konon katanya, cincin ini menjadi saksi perjalanan pertama keluarga Gulbar dalam dunia bisnis. Juga sebagai simbol cinta mendiang kakek dan nenek Diego yang meninggal dalam waktu berdekatan.
Senyum Diego tergambar dengan jelas saat ia memasangkan cincin indah itu di jari manis Aishe. Begitu juga Aishe yang juga memperlihatkan senyum bahagianya ketika memasang pasangan cincin miliknya di jari manis sang suami.
“Aku mencintaimu, Istriku.”
“Aku juga, sangat mencintaimu.”
Dua orang itu saling menatap sambil menempelkan kening mereka satu sama lain. Seolah tak perduli dengan para tamu yang berdiri menyaksikan keduanya. Sampai akhirnya, Eraz yang pada saat itu menjadi pembawa acara, langsung menyela mereka.
“Baiklah, sekarang kita mulai saja acara ‘melempar bunga’ lantaran para tamu di sini sudah tidak sabar,” ucap Eraz yang kemudian membuat kedua orang itu melepaskan tangan mereka, dan berbalik melihat tamu undangan.
“Bagi mereka yang sendiri, silakan berdiri di depan dengan rapi. Tidak boleh saling senggol dan berebut, mengerti!” lanjut Eraz sambil turun dari altar, hendak mengikuti acara lempar bunga, lantaran dia sendiri juga jomblo.
Sedangkan Aishe langsung menatap Ashan, memberinya kode agar ikut turun ke bawah. Namun, hal yang tidak disangka justru terjadi, saat Aishe melihat diantara kerumunan para tamu, ada sosok Mustafa yang juga ikut.
‘A-Ayah kenapa berdiri di sana?” tanya Aishe sambil berjalan ke pinggir Altar dengan tinggi hampir satu meter itu.
“Kenapa memangnya? Ayah ini jomblo, Nak.”
Jawaban enteng Mustafa seketika membuat Aishe menganga kaget. Lalu ia menatap Rehan yang juga berdiri di sana, tetapi pria yang sudah menjadi kakak angkatnya, hanya mengedikan bahu. Merasa tak mendapat dukungan, Aishe pun menoleh ke arah Diego dan memasang wajah memelas.
__ADS_1
Melihat wajah manja sang istri, Diego tak berkutik. Dia langsung menatap Deniz yang duduk tepat di depannya, lalu memberinya kode. Deniz terlihat menghela napasnya, sebelum akhirnya dia berdiri dan menarik tangan Mustafa dari kerumunan para tamu Jomblo yang ingin memperebutkan bunga.
Setelah semua terkendali, Aishe terlihat berbisik sesuatu pada Diego, dan membuat pria itu mengangguk patuh.
“Kalian semua siap. Kita hitung sampai tiga bersama sama, oke,” ucap Eraz yang langsung membuat para tamu kompak menjawab serentak.
Diego dan Aishe berdiri tak jauh dari pinggir Altar, bersama-sama memegang buket bunga. Lalu, mereka semua berhitung dari angka satu hingga tiga, sesuai dengan ayunan buket yang di pegang oleh kedua mempelai. Namun pada hitungan ke tiga, mereka bukan melemparkannya, melainkan memberikan bunga itu pada Ashan.
“AAHH ….” riuh kekecewaan terdengar saat mereka melihat kedua mempelai menyerahkan buket bunga kepada Ashan.
Sedangkan Ashan yang menerima bunga, langsung memecah kerumunan, berlari secepat mungkin menghampiri Guzel yang pada saat itu tidak ikut berkerumun. Setelah mendapati sosok wanita dengan dress putih, ia buru-buru berlutut.
“Guzel ….” panggilnya sedikit lantang dengan napas yang sedikit tersengal sengal. “Menikahlah denganku, oke!”
Kebanyakan lamaran pada umumnya, adalah pertanyaan pada mempelai perempuan. Namun Ashan berbeda, kalimatnya bukan berupa pertanyaan, melainkan perintah.
Seluruh tamu yang datang bersorak dengan kompak, termasuk Eraz dan Emil. Sedangkan Rehan hanya bersedekap tangan, menatap kerumunan sambil menggeleng kepala. Baginya, cara itu sama sekali tidak romantis, lantara ia menyukai segala sesuatu yang bersifat privasi.
Raut wajah Guzel memerah, dengan senyum bahagia yang beberapa kali lolos. menatap wajah serius Asahan, ia pun mengangguk, menerima lamaran Ashan.
“Kamu lihat itu, Die? Ashan sangat romantis,” ucap Aishe melihat Guzel dan Ashan saling memeluk, dari tempatnya berdiri.
__ADS_1
“Romantis? Cih!” decaknya meremehkan. Rupanya, Diego sama seperti Rehan yang lebih suka semuanya dilakukan secara diam-diam, dan memberi Aishe kejutan dengan cara tersendiri.
“Kenapa, menurutmu tidak?”
“Tidak! Kamu lihat, bahkan Rehan tidak tertarik untuk bersorak. Cara Ashan itu kuno!”
Mendengar jawaban Diego, entah mengapa Aishe sedikit kesal. Ia memanyunkan bibir, lalu membelakangi Diego. “Kamu tidur di bawah malam ini!”
“A-apa? Ishe, jangan bercanda, oke!” Diego mencoba protes.
“Sudah lupa apa kata dokter? Kita tidak boleh berhubungan jika aku sedang tidak fit! Dan hari ini, aku sangat amat le-lah!” ucap Aishe dengan penekanan kalimat yang jelas.
“Ta-tapi, itu …."
Belum selesai DIego berbicara, Aishe sudah lebih dulu turun dibantu oleh Rehan.
...☆TBC☆...
Diego said : Ahh salah lagi salah lagi 🤣🤣
Sajennyanya sajen 😘😘😘
__ADS_1