Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 98


__ADS_3

"Oh, dia kekasihmu?" Max melepas cengkramannya, lalu mendorong tubuh Aishe ke depan. Beruntung, gadis itu tidak sampai jatuh.


Aishe mendongak ke atas, menatap sosok Rehan yang berdiri dengan dua orang di belakangnya.


Aku selamat?


Melihat seseorang datang, benteng pertahanan Aishe pun runtuh. Kaki yang sudah lemas, tetapi dipaksa untuk berdiri, pada akhirnya tumbang. Namun sebelum tubuh gadis itu menyentuh lantai Rehan lebih dulu menangkap kepalanya.


"Bawa aku!" kata-kata Aishe terdengar bergetar di telinga Rehan.


Pria kecil bertubuh tegap itu pun melihat Max dengan raut wajah marah. "Apa yang Paman Max beri pada kekasihku?" serunya dengan lantang.


Max dengan cepat mengedikkan bahu, berpura-pura tidak tahu dengan sedikit memanyunkan bibirnya. Sungguh, ekspresi yang membuat semua orang kesal jika melihatnya.


Aishe dengan tangan yang sudah lemas berusaha menarik kerah baju Rehan, hingga membuat pria itu mendekatkan dirinya. Dia kembali berbisik pada Rehan untuk segera di bawa kembali.


Namun hal yang mengejutkan terjadi.

__ADS_1


Setelah Aishe mengatakan demikian, dia dengan santainya mengecup bibir Rehan. Benar, mengecup, kecupan yang ditahan oleh ibu jarinya agar tidak bersentuhan. Dan kecupan yang mampu membuat Max percaya hubungan di antara mereka.


Rehan tentu sempat terkejut, tetapi pria itu dengan cepat menutupi ekspresi wajahnya. Ia buru-buru mengangkat tubuh Aishe dan bersiap untuk pergi. Namun sebelum dia berbalik, ia sempat melihat ke sisi gazebo. Tempat dua orang itu menikmati tubuh Malva.


Maximo hanya bersedekap tangan, melihat Rehan membawa Aishe pergi. Seorang pria sempat menghampiri Max dan bertanya tentang langkah selanjutnya yang akan mereka lakukan.


"Bunuh!"


Namun ketika Max melihat Ashan datang dan menatapnya dengan tatapan sinis. Max mengurungkan niatnya, lalu berbalik mendatangi Malva.


Tubuh gadis itu di kungkung, sedangkan kedua kakinya di buka lebar-lebar. "Wah wah wah. Lihat si anak perawan yang kehilangan kesuciannya. Kamu hampir mirip kakakmu, hanya saja, anak buahku tidak sempat merasakannya!"



Aishe yang berada dalam dekapan Rehan, terlihat mencengkram kedua lengannya. Membiarkan kuku-kuku tajam itu menancap dan menembus kulitnya. Dia harus tetap sadar sampai di rumah, alasan itu cukup untuk membuatnya tetap berada dalam kewarasan.


Ashan yang melihat reaksi Aishe, bahkan bisa menebak, apa yang sudah Max lakukan padanya. "Max memberinya obat perangsang? Sial!"

__ADS_1


Namun dari balik ekspresi kesal Ashan, Rehan yang membopong tubuh Aishe nampak kagum. Melihat wanita di dalam dekapannya itu rela menyiksa diri sendiri dan mencoba bertahan melawan keinginan hasrat yang sudah mencuat. Keinginan yang hampir tidak bisa dilawan atau pun ditolak.


"Jangan menggigit bibir Anda, Nona. Kita akan segera sampai, Tuan Diego sedang menunggu Anda."


Untuk pertama kalinya, Rehan berkata dengan sopan pada Aishe. Kata-kata itu bahkan sempat membuat Ashan tercengang untuk beberapa saat.


Setelah lift sampai di lantai dasar, mereka dengan cepat membawa Aishe masuk ke dalam mobil. Dengan hati-hati Rehan menaruh tubuh Aishe di seat belakang, lalu dia duduk di samping kursi pengemudi.


Ashan melajukan mobil dengan logo Rubicon itu dengan cepat. Berkelok kelok menghindari pengguna jalan yang lain. Sampai tibalah mereka di jalanan lurus nan panjang dan sepi.


Mereka berhenti tepat di depan sebuah mobil sedan hitam yang terparkir di pinggir jalan.



Kenapa bukan Die yang dateng? Kok jadi Rehan?


Mari kita berspekulasi lagi 🤣🤣

__ADS_1


Jempol jangan sampe lupa di goyang.


Nih othor bangun jam 3 pagi demi kalean, jangan sampe lupa kopi sama kembangnya 🤭


__ADS_2