Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 209


__ADS_3

"Benar seperti ini?"


"Benar, Nyonya. Lekatkan mulutnya hingga menempel semuanya ke area areola, agar tidak menimbulkan lecet."


Dokter Ana, membawa seorang dokter anak dan ahli laktasi, masuk ke ruang inap Aishe. Mereka bertiga berkumpul, memberikan ibu baru itu sedikit pengalaman dan pemahaman tentang cara memberikan ASI yang benar.


Selain itu, ahli laktasi juga memberikan cara pada Aishe untuk memijat dua daddanya dengan benar. Hal ini diperlukan agar produksi ASI lebih banyak, serta mencegah sang ibu mengalami Mastitis.


"Anda cepat belajar, Nyonya."


"Ini tidak terlalu sulit."


Dari arah pintu, Mirey terlihat datang dengan sedikit menggerutu. Sejak masuk, pandangannya hanya fokus pada Diego yang masih terlelap di samping ranjang Aishe.


Anak tunggalnya itu bahkan tidak bangun meski sempat mendengar tangisan sang anak. Suara riuh para dokter dan perawat pun juga tidak berhasil membangunkannya.


"Lihat anakmu! Istrinya sibuk merawat anak, dia malah tidur!"


Namun Aishe buru-buru menekan mulut dengan jari telunjuknya. Berharap agar ibu mertua dan ayahnya tidak berisik.


"Tiga hari dia tidak tidur dengan baik, Bu. Semalam pun dia baru menutup mata jam 3 pagi." Aishe berusaha membela sang suami.


"Itu wajar bagi seorang ayah." Deniz menimpali, menganggap hal itu lumrah terjadi.


"Bangunkan dia! Sudah waktunya memberi nama."


Aishe sempat melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 10 pagi. Waktu yang dirasa cukup lama untuk beristirahat.


Dia pun menoleh ke sisi kanan, menatap wajah sang suami sudah terlihat cerah. Lalu dengan suara lirih nan lembut, ia memanggil nama sang suami."


"Die … Sayang!"


Seperti sebuah bisikan, tetapi jarak mereka tidak sedekat bibir dan telinga.

__ADS_1


Anehnya, kedua mata Diego mulai mengerjap perlahan. Ketika keduanya telah terbuka sempurna, ia mendongak, menatap wajah sang istri yang baru saja membangunkannya.


Seulas senyum terpampang dengan jelas. Senyum manis yang sangat mempesona, sehingga mampu membuat Aishe bahagia telah memilikinya.


"Selamat pagi, Sayang," ucapnya pertama kali.


Namun sayangnya, Aishe tidak menjawab salam hangat dari sang suami. Lantaran Mirey lebih dulu menjawabnya dengan ocehan pedas.


"Pagi? Ini sudah siang!"


Diego yang terkejut lantas melihat arloji yang masih melingkar erat di tangannya. Melihat jam sudah berada di angka sepuluh, ia buru-buru bangkit berdiri.


"Sudah sesiang ini, kenapa tidak membangunkanku?"


Dokter dan beberapa suster yang masih ada di sana, mencoba menahan tawa mereka. Ini pertama kali, mereka melihat seorang Diego Gulbar yang arogan dan berkuasa itu kelimpungan.


"Cepat basuh mukamu! Sudah waktunya memberi nama putramu!" seru Mirey.


Diego tidak menjawab apapun. Ia segera pergi dan membasuh mukanya. Membiarkan air yang sedikit dingin itu menyegarkan wajahnya. Setelah selesai, Diego lantas menghampiri Aishe.


Aishe berusaha mengajari Diego cara untuk menggendong bayi kecil yang sedang tertidur nyenyak itu. Setelah berusaha dengan keras. Akhirnya dia berhasil menggendong putra pertamanya itu.


Diangkatnya bayi itu selaras dengan dada. Lalu ia mendekatkan mulutnya di telinga sang anak.


"Aku memberimu nama, Elder Gulbar."


Dua sudut bibir Diego terangkat, bersamaan dengan manik mata yang menatap sang istri. Aishe pun lantas membalas seulas senyum sang suami.


"Oh, cucuku, Elder!" Mirey seketika mengambil bayi mungil dengan pipi kemerahan yang berada dalam dekapan Diego. Lalu memindahkannya dengan cepat ke pelukannya.


"Dia tidak mirip Diego saat kecil," ucap Denis mencoba mengingat-ingat kelahiran sang putra 30 tahun lalu.


"Tentu saja! Elder kecilku ini lebih tampan. Lihat bibir ini, tipis mirip Ishe. Benarkan?"

__ADS_1


"Dia juga memiliki bulu mata lentik. Ini sama seperti ibunya," sahut Deniz.


Diego tak bisa berkutik. Nyatanya, menjadi kakek dan nenek lebih membuat dua orang paruh baya itu antusias. Ia pun sempat menatap sang istri, berharap dia bisa membuat Mirey mengembalikan Elder-nya. Namun Aishe hanya mengedikkan bahu sambil tersenyum.


Beberapa orang mulai datang silih berganti pada hari itu. Mustafa yang pertama datang dan memberi kedua pasangan itu ucapan selamat. Dia juga berterima kasih kepada anak angkatnya, lantaran sudah berjuang melahirkan penerus Gulbar.


Setelah Mustafa, Guzel datang bersama Ashan. Begitu masuk dan melihat Aishe yang masih berada di atas ranjang, air matanya terurai. Dia berjalan mendatangi Aishe sambil menangis tersedu-sedu.


"Sudah-sudah. Jangan menangis!" Aishe mencoba menenangkan gadis yang beberapa minggu lalu baru saja menikah.


"Aku senang Anda sehat-sehat saja sekarang. Malam itu … aku …." Guzel kembali menangis, mengingat kejadian semalam ketika Aishe mengerang mempertaruhkan nyawa.


Aishe tersenyum, berusaha memahami perasaan Guzel. Lalu dengan lembut, ia meminta maaf. Maaf karena sudah membuatnya ketakutan.


"Tidak! Kata ibu dulu, setiap ibu pasti akan berjuang mempertaruhkan nyawa demi anak mereka."


Ya, Bibi Nie pun mempertaruhkan nyawa demi keluarga Gulbar. Demi mereka yang sudah ia jaga selama hidupnya. Demi Diego, yang sejak kecil berada dalam asuhannya.


Aishe tersenyum, lalu memegang tangan Guzel. Tanpa berkata apapun, ia menatap Guzel. Tatapan yang seolah memberi gadis itu penjelasan, bahwa semuanya telah lewat.


"Dimana Emine?" tanya Aishe yang tiba-tiba teringat dengan teman masa kecil sang suami.


"Eminem pergi ke Paris minggu lalu. Sekarang, dia mungkin sudah sampai di Istanbul. Dia langsung membeli tiket begitu tahu Anda akan melahirkan!"


Aku bisa menebak, mereka berdua belum berbaikan. Ah … andai aku masih hamil, aku punya alasan untuk kakak egois itu membawa Emine.


"Semoga perjalanannya lancar," ujar Aishe.


Guzel mengangguk, kemudian menoleh menatap bayi mungil yang sejak tadi berada di dalam baby box.


"Jadi, siapa nama bayi tampan itu?"


"Elder. Elder Gulbar."

__ADS_1


...☆TBC☆...



__ADS_2