
Usai percakapan panjang mereka, Diego membuka pintu kamar hendak kembali ke mansion. Tepat ketika dia membuka pintu, pria dingin berwajah datar itu melihat Rehan berdiri. Tangannya terulur, sepertinya hendak membuka pintu, tetapi sudah keduluan oleh Diego.
"Tuan!" sapanya setengah gugup.
Diego menghela napasnya kasar, kemudian pergi meninggalkan Rehan yang justru diam mematung. Namun saat Diego hampir berlalu, Rehan memanggil namanya lirih.
"Tuan …."
"Ada apa?" Diego menghentikan kursi rodanya.
"Tentang Anda dan Nona …." Rehan menelan salivanya kasar. "Se- Semoga kalian bahagia, selalu!"
Kalimat itu terdengar sangat sulit keluar dari kerongkongan, tapi ketika keluar, justru membuat kedua pria dewasa itu bernapas lega. Ada bait ketulusan ketika dia mendoakan hubungan Diego.
"Kau juga. Cepatlah temukan seorang wanita, jomblo itu membosankan!" Diego kembali menjalankan kursi rodanya dan pergi tanpa menoleh sedikitpun.
Suhu kota di Istanbul masih sudah sedikit naik, dari minus delapan, menjadi minus 2 derajat. Meski begitu, diluar ruangan masih tetap terasa sangat dingin walau sudah menggunakan mantel tebal.
Langit sudah berubah ketika Diego kembali ke Maslak. Namun, Aishe belum menutup matanya. Wanita muda itu tengah asik duduk di sofa menikmati serial televisi, sembari meminum Ihlamur, semacam teh dengan campuran bunga linden.
__ADS_1
"Sudah pulang, Die?" tanya Aishe ketika melihat Diego mendekat ke arahnya.
Akan tetapi, pria itu tidak memberi Aishe sebuah jawaban atau anggukan. Dia hanya terus mendekat dengan wajah datar tanpa ekspresi. Sampai ketika ia berada di depan Aishe, barulah mencondongkan tubuhnya.
"Beri aku kecupan!" pintanya bernada manja.
Mendengar permintaan Diego, Aishe mengernyitkan alis dan berkedip beberapa kali. Jika tadi siang pria itu tanpa malu-malu memamerkan pipi, sekarang justru meminta secara terang-terangan.
Aishe yang terdiam beberapa saat tak merespon, membuat Diego sedikit kesal. Dia pun menarik kedua tangan Aishe secara tiba-tiba hingga tubuhnya tertarik dan ….
Cup
Satu kecupan paksa berhasil mendarat sempurna di bibir pria itu.
Tingkah Aishe justru terlihat menggemaskan di mata Diego. Hingga akhirnya membuat pria berwajah datar itu menaikan satu alisnya bersamaan dengan dua sudut bibir yang juga mengikuti, memperlihatkan dua baris gigi yang tersusun rapi.
"Ow … ow … ka-kamu tertawa?" seru Aishe kaget melihat Diego bisa tertawa memperlihatkan dua baris gigi putihnya.
"Hentikan, Die! Jangan memaksa tertawa dengan wajah datarmu itu!" Aishe berbicara sambil berusaha menahan tawa. Antara geli dan lucu, ketika melihat kekasihnya yang tidak pernah tertawa, justru sekarang tertawa. Rasanya, aneh.
Diego seketika memanyunkan bibirnya lalu pergi meninggalkan Aishe begitu saja. Aishe beberapa kali memanggilnya, tetapi Diego menulikan telinganya dan terus menjalankan kursi roda itu pergi menuju kamar.
__ADS_1
Pria itu rupanya pergi ke kamar mandi yang ada di kamar. Sebelum turun dari kursi roda, dia mengunci pintu, lalu berdiri menghadap cermin.
Apa aku terlihat aneh?
Sepersekian detik ia memandang cermin dengan wajah datar tanpa ekspresi, tiba-tiba ia menarik dua sudut bibirnya, dan mencoba tertawa dengan memperlihatkan dua baris gigi.
And … wala!
Dia sendiri pun terkejut dengan ekspresi aneh yang terpantul di cermin. Ketika melihatnya, barulah dia tersadar, jika ia benar-benar terlihat aneh ketika memaksa untuk tertawa seperti itu.
Diego pikir, wajahnya akan terlihat tampan jika tertawa, dan akan melelehkan hati Aishe. Namun, wajahnya justru terlihat … fail!
Baru sebentar dia melihat cermin, Aishe sudah mengetuk pintu dari luar.
"Die, Sayang. Kamu di dalam?" panggil Aishe mencoba memerdukan suaranya. "Sayang, kamu mendengarku?" lanjutnya.
Pada awalnya, Diego berencana untuk ngambek hingga beberapa jam ke depan. Namun ketika dia mendengar Aishe merintintih dan mengaduh, barulah keinginannya itu runtuh. Diego dengan panik duduk di kursi soda dan membuka pintu.
Senin, Senin. Jangan lupa jempolnya di goyang.
__ADS_1
sat set das des, semoga othor dapet banyak Vote biar semangat up 🤭🤭