
Kelihatannya, tahun ini musim dingin akan datang lebih cepat dari tahun-tahun sebelumnya. Suhu menurun dengan drastis ketika malam, setidaknya dibawah 20 derajat meski belum mencapai titik 10 derajat. Kota menjadi cukup dingin berselimut kabut tipis.
Sinar dari lampu tidur yang masih menyala, membuat keadaan kamar Aishe terlihat hangat meski tanpa pemanas. Membuat tidur wanita itu sangat nyenyak hingga mengigau dan merutuki Diego.
Diego sendiri masih di posisi semula, mendengar setiap umpatan yang diucapkan Aishe dengan tenang. Meski sesekali ada perasaan ingin memakan wanita yang bersembunyi di dalam selimut secara utuh.
Sampai kapan kau berhenti merutuki ku?
Sinar mentari sudah menyapa kemucuk bumi bagian timur. Perlahan merangkak naik menunjukkan kegagahannya. Suhu udara di luar masih tidak berubah sedikitpun sejak salam, meski mentari hampir berada di atas kepala.
Jemari lentik keluar dari balik selimut, menggerayang kasur mencari ponsel. Manik matanya setengah terbuka, melihat jam ponsel yang menunjukkan pukul 9.30. Seketika, dia terperanjat bangkit dari tidurnya dan bergegas bersiap.
Gerakannya cukup gesit, berlari kesana kemari mengambil beberapa barang yang dia butuhkan untuk bekerja. Setelah semua siap, dia turun ke bawah dengan langkah terburu-buru, hingga tidak sengaja, jari kelingkingnya terpelantuk kaki meja.
"Agh! ****! Sialan semua! Brengsek! Arghhh! umpatnya mengaduh meluapkan segala kemarahannya termasuk sisa amarah semalam.
"Mengumpat siapa?"
Suara berat Diego yang tiba-tiba terdengar di telinga berhasil mengejutkan Aishe hingga terjingkat.
"Tu-tuan! Anda kapan … pulangnya?
__ADS_1
Diego enggan menjawab, dia menggerakan kursi rodanya mendekat ke arah Aishe. Lalu,engeret tangannya untuk duduk di sofa.
"Ini rumahku, pulang jam berapa, juga terserah aku!" ucapnya ketus sembari mengangkat kaki Aishe dan menumpangkannya di pahanya.
"Tidak berdarah, harusnya tidak sakit. Kenapa kau berteriak dan mengumpat seperti itu. Kau ingin merutuki siapa? Kakimu?" Diego menatap Aishe.
Aku ingin merutuki mu, Tuan. Ingin sekali bisa merutuki secara langsung!
Aishe dengan cepat menurunkan kakinya dan tersenyum, "A-aku sudah lebih baik, Tuan. Tadi itu hanya … hanya terkejut."
"Hanya?" Diego memiringkan kepalanya dan menatap Aishe heran. Memandang gadis yang sudah berpakaian rapi sambil bertanya-tanya.
Mau kemana hari minggu begini? Apa Ashan menyuruhnya lembur?
"Mau kemana?"
"Pergi bekerja!" Aishe buru-buru membuka pintu dan bersiap untuk pergi. Namun sebelum kakinya melangkah, Diego mengingatkan sesuatu.
"Bekerja di hari minggu?"
Namun, Aishe sudah berlari keluar dan menutup pintu. Langkah gadis itu terhenti begitu melewati pintu. Dia terdiam, lalu merogoh tasnya dan mengambil ponsel.
Kata 'Sunday' tertera cukup besar dan jelas hampir memenuhi setengah layar ponselnya.
__ADS_1
Ahh … bodohnya aku!
Aishe menoleh, menatap pintu yang sudah tertutup. Tiba-tiba dia memukul keningnya dan kembali merutuki diri sendiri.
Idiot! Bodoh!
Pada saat yang sama, Diego membuka pintu memandangi Aishe dengan tindakan bodohnya. Dua sudut bibirnya terangkat, ingin tertawa lebar, tapi ditahan dengan tangannya. Terutama melihat wajah merah merona gadis itu yang berusaha ia tutupi.
"Masuklah, di luar cukup dingin!" Diego memutar kursi rodanya dan masuk ke dalam, diikuti Aishe yang masih menyimpan wajah malunya.
"Sarapan dulu, setelah itu aku akan membawamu ke suatu tempat." Diego berjalan lurus melewati sofa ruang tamu dan tangga, hingga akhirnya sampai di meja makan.
Beberapa hidangan tersaji di atas meja, terlihat cukup menggoda. Ada Yumurtali Pide, Muhlama, salad, bahkan olahan daging dengan paprika. Bahan yang tidak pernah ada di meja karena Diego tidak menyukainya.
Melihat ada olahan daging, Aishe secepat mungkin memindahkannya. Namun belum sempat ia menyentuh ujung piring, Diego mencegahnya.
"Aku menyuruh mereka memasak untukmu," jelasnya tanpa menatap wajah Aishe.
"Kenapa harus merepotkan Anda, Tuan?" Aishe menarik kursi dan duduk di depan Diego.
"Tidak. Mereka sedang memasak sarapan untukku, karena wanita yang biasa masak masih tidur. Jadi sekalian saja." Diego terlihat cuek menikmati sarapannya.
"Anda sedang mengejek saya dengan cara yang paling elegan, Tuan."
__ADS_1