
Aishe menghela napas kasar, lalu menghentikan mengupas apel dan menatap Diego. Dari ekspresi wajah pria itu, Aishe bisa melihat dengan jelas, jika sang suami sedang kesal dengannya. Namun apa boleh buat, jika dia tidak pergi, mereka tidak akan punya waktu untuk mengobrol berdua. Terlebih, ayah angkatnya sendiri sudah membuka mulut tentang keberadaan Deniz selama ini.
"Kamu tahu, kenapa aku bisa melihatmu bangun, tetapi ayah tidak? Padahal, kau mengintip kami tadi!" ucap Aishe menatap wajah sang suami.
"Dia memang tidak peka!" Diego membuang muka. Kesal lantaran sang istri lebih membela ayahnya.
"Karena dia tidak bisa melihatmu yang setengah terbuka itu!"
Mendengar penjelasan sang istri, Diego langsung menoleh, menatap kedua mata sang istri. "A-apa maksudmu?"
Kalian berdua memang sepasang ayah dan anak! Sudah bertemu masih saja saling gengsi. Bahkan dia juga tidak menceritakan kejadian itu pada anaknya!
"Ayah baru saja cangkok mata, dan dia masih harus membiasakan diri dengan mata barunya. Untuk alasannya, lebih baik langsung bertanya saja pada ayah."
Aishe bangkit berdiri, melihat Diego memandangnya dengan lekat, tapi sebenarnya tatapan itu melayang entah kemana. Aishe mengangsurkan tangannya, mendekap kepala Diego, dan mengusapnya.
"Hidupnya selama ini tidak mudah, Die. Dia bukan kabur begitu saja. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan, terutama jika adiknya mengetahui kondisi ayah."
__ADS_1
Setiap kata yang diucapkan Aishe terdengar begitu lembut, sangat lembut hingga perlahan melembekkan hati Diego yang sempat mengeras.
"Pria tua itu harusnya menceritakan yang sebenarnya! Kenapa dia terus menutupi itu?"
Diego tiba-tiba teringat suatu kejadian beberapa menit yang lalu. Saat Deniz berusaha keluar dari kamar tanpa menggunakan tongkat untuk meraba. Namun yang terjadi, pria itu justru menabrak meja. Demi menutupi keadaan matanya, dia mengelak jika sedang melamun.
Diego sendiri tidak berpikiran macam-macam. Lantaran dia berpikir jika tongkat yang digunakan sang ayah, hanya untuk menjaga keseimbangan kakinya yang sudah menua.
"Aku tidak memintamu memaafkan ayah. Kalau kau punya kesulitan sendiri, ayah pun juga demikian. Lantas, kenapa kalian tidak saling memahami saja?" Bujuk Aishe masih mendekap sang suami.
"Kau sebentar lagi jadi ayah, Die. Kita akan menjadi orang tua." lanjut Aishe.
Jadi, apa salahnya?
"Ya, aku akan mencoba. Jika …." Diego menghentikan ucapannya, membuat Aishe penasaran, lalu melepaskan dekapannya dan menatap Diego.
"Jika? Jika apa?"
__ADS_1
Dua sudut bibir Diego meninggi, menatap sang istri lekat lekat. Lalu, dia meraih pinggang Aishe menggunakan satu tangannya dan berkata dengan suara yang lembut.
"Jika kita … mengadakan resepsi minggu depan!"
Begitu terkejutnya, Aishe sampai mendorong tubuh Diego. Tepat di dada bidangnya yang sempat terluka, hingga pria itu menggaduh.
"Ah! Kau mau membunuh suamimu?" protes Diego menyipitkan matanya.
"Salah siapa merayuku seperti itu!"
Berniat marah pada sang istri, justru Diego sendiri yang kena umpat. Jika bukan mengingat janin di dalam perut sang istri, jika lukanya yang belum kering. Mungkin pria itu sudah langsung menerkam Aishe dengan satu serangan.
"Kenapa? Bukankah kau yang menginginkannya?"
Aishe tersentak, pikirannya melayang, mengingat kata-kata yang pernah dia ucapkan saat Diego berhasil selamat. Namun sebenarnya, itu hanya gurauan semata yang diucapkan Aishe. Dia sendiri sudah sangat bersyukur telah mempunyai surat nikah meski tanpa resepsi.
"A-aku hanya bercanda!"
__ADS_1
...☆TBC☆...