Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 108


__ADS_3

Setelah duduk, Aishe mengambil ponsel yang ada di meja kerjanya. Betapa terkejutnya ia, ketika melihat jam yang tertera di layar menunjukkan pukul 4 waktu setempat. Setidaknya, dia sudah melewati 2 jam sejak waktu istirahat selesai.


Aishe pun pelan-pelan menatap sekitar, melihat beberapa staf masih sesekali memandangnya dengan sinis. Pada akhirnya, dia hanya bisa menunduk, menyembunyikan wajah segannya. Dengan batin yang terus merutuki Diego karena tidak membangunkannya.


Pantas saja, suasana disini sedikit mencengkam. Aishe menggaruk-garuk kening, mencoba untuk fokus kembali dengan pekerjaannya. Namun, upayanya gagal, pikirannya masih melayang, mengingat ketika dia mendapatkan tatapan sinis saat berada di Haley.


"Ishe." Panggilan Rehan yang tiba-tiba membuatnya menengadah, menatap ambang pintu kaca, tempat pria itu berdiri.


"Ya, Pak."


"Laporan rapat tadi, kirimkan lewat email padaku!"


Ucapan Rehan jelas membuatnya kebingungan untuk beberapa saat. Tentu saja, dia tadi sedang tertidur dengan nyenyak di ruangan Diego, bagaimana bisa ada rapat? Namun saat Rehan mengedipkan mata, barulah ia mengerti.


"Baik, segera saya kirim, Pak."


Dia selalu melindungiku, dengan segala cara yang tidak bisa aku mengerti. Terima kasih, Die.


Aishe menarik napas panjang dan menghembuskannya dalam satu kali tiupan dengan mulutnya. Lalu mengangkat kedua sudut bibirnya dan kembali bekerja. Dalam hati ia cukup bersyukur, karena berkat kedatangan Rehan, dia kembali fokus dengan pekerjaannya.

__ADS_1



Diego kembali sibuk dengan pekerjaannya, berkas-berkas yang menumpuk terus melambai lambai ingin segera di selesaikan. Sedangkan tenaganya tidak cukup.


Rehan pada saat itu datang membawa Sahlep yang baru saja ia buat, dan membawanya masuk ke dalam ruangan Diego. Baru berjalan beberapa langkah, Diego sudah bertanya tentang misi yang dia berikan beberapa menit yang lalu.


"Bagaimana? Apa karyawan Ashan masih menatapnya dengan sinis?"


"Tidak, Tuan. Mereka kembali bekerja seperti biasanya." Rehan menaruh secangkir Sahlep di atas meja. "Anda menolak makan siang dan terus sibuk dengan pekerjaan, setidaknya minum ini untuk mengisi perut Anda."


"Em, bagus-bagus." Diego menyeruput Sahlep hangat itu sedikit demi sedikit, sembari menatap layar laptop di hadapannya, hingga Sahlep di cangkir habis tidak tersisa.


Ia meraih ponselnya, cepat-cepat menghubungi Ashan untuk segera mengantar Aishe pulang, dan tidak membiarkannya lembur terlalu lama.


"Saya sudah ada di basement, Tuan. Nona Aishe sudah berjalan menuju mobil." Suara Ashan terdengar jelas ditelinga Diego.


"Oke, antarkan sampai rumah!"


Setelah memastikan kekasihnya pulang, dia kembali fokus bekerja. Setidaknya, hanya tersisa dua dokumen yang harus dia periksa bersama Rehan.

__ADS_1


Dua jam telah berlalu, dan dokumen telah selesai di periksa. Kini sudah waktunya dia kembali pulang untuk menemui kekasihnya. Perjalanan yang seharusnya satu jam, dipangkas dengan cepat oleh rehan menjadi 40 menit.


Sepertinya Rehan cukup memahami jika tuannya sudah tidak sabar ingin segera sampai di rumah dan menemui kekasihnya.


Diego buru-buru turun, tidak lagi memperdulikan kursi roda yang di simpan di bagasi. Lagi pula, ini adalah kawasannya, siapa yang mau menerobos masuk atau membocorkan informasi di dalam.


Namun, Diego dibuat terkejut ketika masuk ke dalam. Melihat rumah dengan keadaan gelap gulita dan hanya ruang tengah saja yang lampunya menyala temaram, membuat jantungnya hampir copot. Bahkan, ia mendengar suara isak tangis seorang wanita.


Tanpa melepas sepatu, ia berlari tergopoh-gopoh untuk memeriksa apa yang terjadi. "Ishe … Ishe!" Suaranya terdengar memekik, memanggil manggil nama sang kekasih.


"I-she." Nadanya tercekat di kerongkongan, tatkala melihat sang kekasih duduk bersedekap lutut, dengan kedua mata yang basah.


Menyedihkan ….



Jeng ... Jeng ... Jeng ...


Kopi kopi 🤭

__ADS_1


Jangan lupa kopinya 🤭🤭


__ADS_2