
Selesai menikmati sarapan, Diego mengajak Aishe pergi ke suatu tempat. Tanpa bertanya apa pun, dia dengan patuh duduk di mobil. Bahkan sampai di bandara dan duduk di kursi pesawat, dia masih tidak menanyakan sesuatu. Sampai akhirnya, Diego sendiri yang bertanya.
"Kamu tidak ingin tahu?"
Aishe dengan raut wajah tenang menoleh dan menatap pria yang duduk di seberangnya. "Tidak, karena ini hari minggu."
Karena ini hari minggu, dia sedang bersantai dan tidak bekerja, jadi tidak masalah jika Diego membawa dia kemana pun. Kurang lebih seperti itu yang ingin Aishe sampaikan.
Singkat, padat, dan jelas, membuat Diego yang pada dasarnya tidak terlalu banyak bicara, sedikit menaruh rasa suka dengan respon Aishe.
Gulfstream G650ER telah lepas landas dari bandara ISTA, Istanbul. Jet prubadi yang mampu menempuh jarak total 7.500 mil dan mampu membawa bahan bakar sebanyak 21.863 kilogram. Tak heran, jika salah satu kendaraan koleksi Diego ini bisa terbang sangat jauh.
Selain dapat terbang sangat jauh, jet ini juga sanggup membawa 19 penumpang, belum termasuk awak pesawat. Memiliki panjang kabin 47 kaki atau 14,3 meter, yang cukup luas dan lega. Penumpang pun tidak akan bosan berkat fasilitas built-in internet nirkabel.
Mengutip dari Paramount Business Jets, kecepatan jelajahnya mencapai 904 kilometer per jam dan terbang di ketinggian 51.000 kaki atau 15,5 kilometer dari permukaan laut.
Perlu waktu setidaknya satu jam sejak superjet itu lepas landas, dan landing di bandara AYT, Antalya. Kota di sisi barat Turki yang terletak di tebing yang curam dan dikelilingi oleh pegunungan, hutan, serta Laut Tengah.
__ADS_1
Antalya, dahulu dikenal dengan nama Atalia atau Adalia. Selain memiliki pemandangan alam yang indah, kota ini juga memiliki sisa bangunan Yunani kuno, yang berhasil menarik turis dari mancanegara.
Namun, kunjungan Diego dan Aishe ke Antalya bukan untuk berlibur menikmati pemandangan indah atau pergi melihat sisa peninggalan Yunani. Mereka kemari karena Diego ingin mempertemukan Aishe dengan seseorang.
Selesai melakukan perjalanan udara, mereka masih harus melanjutkan perjalanan darat sekitar dua jam. Melewati jalanan raya yang mulus, hingga jalanan terjal dan berbatu.
Meski sudah melewati perjalanan yang begitu panjang, Aishe masih belum penasaran dan bertanya. Dia justru terlihat menikmati perjalanannya, melihat deretan pohon pinus gunung yang masih menghijau.
Hingga, mereka sampai ke sebuah bangunan dua lantai yang terbagi menjadi 4 bangunan. Aishe mulai bertanya, tatkala penglihatannya dihalangi oleh sebuah tembok dan pagar besi besar nan kokoh.
Tempat apa ini?
Kemana dia membawaku?
Apa dia akan melemparkan aku begitu saja?
Pikiran Aishe meracau, membayangkan beberapa pikiran negatif tentang apa yang akan dilakukan Diego padanya. Diam-diam dia melirik, melihat Diego yang fokus dengan Mac-book miliknya.
__ADS_1
"Kau mau bertanya sekarang?" Diego menoleh. Dua pasang mata itu saling bertemu untuk beberapa saat, sampai Aishe menggeleng kepala dan kembali fokus ke depan.
"Tuan, kita sudah sampai," ucap Rehan yang duduk di baris depan.
Diego turun lebih dulu di bantu Rehan dan Eraz. Sedangkan Aishe, dia masih butuh beberapa saat untuk menetralkan isi kepalanya. Meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja.
Setelah beberapa menit, dia keluar dari mobil, lalu mengikuti mereka masuk ke dalam.
Dua orang pria berjaga di depan, seperti terkejut melihat kedatangan Diego. Mereka kompak berdiri, tetapi setelah melihat sorot mata tajam Eraz, mereka berdua langsung menunduk.
Aishe sempat melihat dua orang yang berjaga di depan, seolah sedang menyembunyikan sesuatu. Gelagat mereka aneh, tapi Aishe langsung menepis instingnya saat mengingat siapa Diego.
Tibalah mereka di sebuah ruangan dengan skat kaca yang cukup besar, bahkan hampir sepadan dengan tembok. Kaya itu terlihat kuat dan kokoh, seperti tidak akan bisa di pecahkan dengan apapun.
"Mereka sudah memanggilnya," ucap Eraz pada Diego.
"Dia akan datang sebentar lagi. Apa kau mau melihat wajahnya lagi?" Diego memegang tangab Aishe.
"Siapa yang Anda maksud, Tuan?" Aishe menoleh, memandang Diego dengan sorot mata penuh pertanyaan.
__ADS_1
"Farhan!"