
Diego merebahkan tubuhnya dan mengerang sakit. Eraz dan Rehan terlihat kelabakan membantu tuan mereka untuk duduk kembali di kursi. Secepatnya, Eraz membawa Diego keluar.
Aishe masih duduk di lantai, melihat Diego mengerang, hatinya sedikit tercabik. Tidak ada pemikiran tentang cara Diego menghampiri dirinya dalam benak Aishe, yang ada sekarang hanya perasaan takut akan kondisi Diego.
Farhan di geret keluar oleh beberapa penjaga, tepat di saat Diego mengerang kesakitan. Dia sempat berteriak lagi, sebelum akhirnya dibawa keluar.
Di dalam ruangan, kini hanya ada Aishe dan Rehan. Kesal, jengkel, marah, terlihat cukup jelas di wajah Rehan. Meski ini bukan kali pertama dia melihat tuannya merintih kesakitan, tetapi hati Rehan masih cukup tercekat.
Melihat Aishe duduk di lantai dengan ekspresi linglung seakan tidak terjadi apa-apa, membuat Rehan bertambah jengkel. Pria kurus berbadan tegap itu langsung mendatangi Aishe dan menjambak ubun-ubunnya.
"Harusnya aku membunuhmu sejak dulu!"
Tepat pada saat dia berbicara seperti itu, Ashan datang membuka pintu dan membuat keduanya menoleh. "Tuan memanggilmu, Nona!"
Seketika Rehan melepaskan tangannya begitu saja, meski dengan mulut berdecak kesal. Aishe bangkit berdiri dan lekas pergi, sedangkan Ashan justru menghela napas panjang sambil menatap rekannya.
"Tidak ada yang perlu kau marahi! Dia tahu apa yang perlu dilakukan dan tidak." Ashan memberinya sebatang rokok dan pemantik.
"Heran saja, kenapa dia mempertahankan wanita bodoh seperti itu."
"Hei, kau lupa? Wanita itu mengingatkan dia dengan masa lalunya! Lihat emosinya tadi, lihat bagaimana dia bisa menodongkan senjata dengan begitu fasih." Jelas Ashan sambil menikmati sebatang rokok yang sudah dia nyalakan.
"Cih! Kau mengakui wanita itu dengan mudahnya. Ingat, dulu kau sendiri yang menawarkan pada tuan untuk membunuhnya?"
"Ayolah, itu dulu. Sebelum aku benar-benar mengenalnya." Ashan menaruh lengannya di tengkuk leher Rehan. "Dia jauh berubah sekarang. Bagaimana kalau kau melatihnya di barak!"
"Jangan bercanda. Barak bukan untuk wanita lemah seperti dia!" Rehan menepis tangan Ashan dan pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Di tempat lain. Aishe berjalan sedikit tertatih melewati lorong yang panjang. Hingga sampailah dia di sebuah ruangan dengan banyak penjaga.
"Apa Tuan Diego di sini?" tanyanya dengan napas tersengal-sengal.
Penjaga-penjaga itu tidak memberinya jawaban dan langsung membuka pintu untuknya. Sorot mata itu langsung bisa melihat Diego yang terbaring dengan selimut yang menutupi kakinya.
"Kenapa kau berdiri disana?" tanya Diego yang melihat Aishe berdiri di ambang pintu.
Langkah kaki Aishe terasa sedikit berat ketika dia berusaha mendekat, seperti ada barbel besar yang mengikat pergelangannya.
"Tuan …." sapanya lirih dan sedikit gemetar.
"Rehan memarahimu?" Diego mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Aishe. Gerakannya cukup lembut, tidak ada emosi dalam setiap sentuhannya.
Aishe menggeleng. "Bagaimana kaki Anda? Apa masih sakit?"
Dua pertanyaan langsung dari Aishe, tidak tertuju pada pokok permasalahan yang Diego khawatirkan. Wanita di hadapannya itu dengan sorot mata penuh khawatir, bertanya tentang keadaannya.
Aishe mengangguk, seakan mengerti jika kaki Diego tidak sakit lagi. "Maaf, saya tadi terlalu gegabah," ucapnya sambil tertunduk penuh sesal.
"Dari mana kamu mendapatkan pistol itu?"
"Milik salah satu anak buah Anda." Aishe masih tertunduk, seperti anak kecil yang baru saja ketahuan mencuri permen.
Diego tiba-tiba teringat, bahwa anak buahnya adalah orang-orang profesional yang sudah menemaninya di barak dulu. Semua anak buahnya penuh siaga, bagaimana bisa kehilangan senjata?
"Bagaimana kamu mengambilnya?" Diego memegang dagu Aishe dan membuatnya mendongak ke atas, agar dia bisa menatap wajah Aishe.
"Anda ingin saya mempraktekannya?" Aishe dengan lembut menyingkirkan tangan Diego. Secara hati-hati dan penuh kelembutan, memegang pergelangan tangannya dan memindahkannya ke punggung belakangnya.
__ADS_1
Diego sadar jika tangan itu sudah berpindah di pinggang Aishe. Namun, dia tidak sadar telah kehilangan sesuatu.
"Sama seperti ini, Tuan." Aishe mengayunkan jam Rolex berwarna hitam yang baru saja dia ambil dari tangan Diego.
"Saya hidup di jalanan sejak umur 12 tahun. Tepat setahun setelah menjadi yatim piatu, keluarga itu membuangku. Mereka hanya membekaliku dengan uang 100 Lyra." Aishe sedikit mengangkat satu sudut bibirnya.
"Demi bisa hidup di jalanan. Sesekali saya mengambil uang dari pengguna jalan. Saya mengambil sesuai dengan yang dibutuhkan, lalu menaruh dompet atau tas mereka di dekat kantor polisi agar bisa ditemukan."
"Tidak ada yang curiga, karena nominal yang saya ambil hanya 10 sampai 20 Lyra. Setidaknya cukup untuk membeli air dan sepotong roti. Tapi itu tidak berlangsung lama, hanya satu tahun. Sampai akhirnya aku bisa bekerja di restoran, bahkan tinggal di sana sampai lulus sekolah."
Lagi-lagi, Aishe mengangkat dua sudut bibirnya. Ada seulas senyum, tetapi bukan senyum bahagia. Seperti senyuman miris, tatkala dia teringat dengan masa sulitnya dulu.
"Oh … jadi kau pencuri kecil?" Diego menarik tangan yang melingkar di pinggang Aishe, membuat tubuh gadis itu tersentak ke depan, hingga kedua wajah mereka hanya tersisa satu kepalan tangan.
Aku bisa melihat amarah dalam matanya tadi. Jika diurutkan dan dirangkai menjadi satu, akan menjadi sebuah cerita yang cukup menyesakkan dada. Tidak heran, uang asuransi yang kembali itu tidak memuaskan hatinya. Rupa-rupanya, dia sudah mengalami hal pahit seperti ini sejak berusia 12 tahun.
Informanku tidak pernah bisa melacak jejak masa kecilnya, mungkin karena dia hidup di jalanan.
Bekerja sejak usia 13 tahun, menabung agar bisa membeli rumah di kota besar. Setelah lulus dia bekerja dengan giat. Mengumpulkan setiap Lyra demi bisa mempunyai sebuah rumah untuk tempat berteduh saat musim dingin.
Namun, cinta membuatnya buta. Rumah itu dengan mudahnya di jual hanya dengan iming-iming pernikahan dan kehidupan harmonis. Dan bukannya mendapatkan semua itu, dia malah di bunuh.
Pantas saja, pantas saja dia murka. Perjalanannya selama belasan tahun, itu tidak mudah dan mulus.
"Apa kau ingin tahu, bagaimana aku bisa mendorongmu?"
...~~~~~...
__ADS_1
Kira-kira gimana jawaban Diego kalau Aishe bilang 'Iya'? Bakal bilang sejujurnya gak nih??????