Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 97


__ADS_3

Napas Aishe semakin tidak karuan, jantungnya bahkan berdetak lebih cepat dari biasanya. Ada perasaan aneh, yang tiba-tiba memicu hasratnya. Merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya, ia menoleh, melihat Malva yang bahkan lebih parah darinya.


Gadis itu bahkan melilit kedua kakinya yang sudah tak terikat, dengan keringat yang mengucur. Bahkan, gadis itu sesekali menggigit bibir bawahnya dan mendesah.


Setelah dokter melapor, Maximo berdiri dari kursinya. Berjalan menghampiri dua gadis yang baru di periksa dokter di kamar kosong tak berpenghuni, dan di bawa kembali naik ke atas rooftop.


Max memicingkan mata, menatap dua gadis dengan napas yang terengah-engah.


"Pada awalnya aku ingin memberi keponakanku itu sebuah kejutan dengan kekasihnya, tapi diantara kalian tidak ada yang mengaku. So …." Max menghentikan kalimatnya dan menghela napas kasar. Ia melangkah, kemudian membelai pipi Aishe.


"Aku melakukan pemeriksaan, dan …." Tangan pria itu masih membelai pipi Aishe, tetapi pandangan matanya langsung berpindah menatap Malva.


"Kalian, berikan hadiah itu padanya. Biar dia bisa menunjukkan itu pada keponakanku tersayang."


Dua orang pria yang sejak tadi memantau mereka, menyeret Malva dengan paksa. Namun pemandangan itu tidak membuat Aishe gemetar takut. Dia justru bertanya-tanya, kenapa dia membawa Malva, bukan dirinya?


"Kau salah! Aku bukan kekasihnya! Wanita itu adalah kekasihnya! Kau salah!" Malva masih bersikeras dan mengelak segala tuduhan Max.

__ADS_1


Max sendiri bukan orang bodoh yang mengambil segala keputusan. Dia sudah diam-diam menaruh seorang mata-mata dalam tim medis yang menangani kaki Diego, dan jelas sekali informasi yang dia dapat, jika keponakannya itu belum sembuh.


Mendengar ocehan konyol Malva, ia pun menghela napas kasar dan menoleh. "32 tahun aku hidup bersamanya, kau pikir aku tidak tahu wanita seperti apa yang dia suka? Dia hanya menyukai perawan!"


"Tidak bukan! Aku bukan kekasihnya! Dia tidak menginginkanku!"


Teriakan Malva begitu melengking, ketika dua orang pria itu membawa Malva pergi ke sisi kanan, tempat dimana ada sebuah gazebo di sana. Dengan paksa mereka mencabik-cabik pakaian Malva hingga gadis itu tak terlindungi sehelai kain pun.


Aishe yang melihat semua itu merasa sedikit bersalah. Jika dia tidak memelintir perkataannya, mungkin yang telanjang di sana adalah dirinya.


"Jadi, aku harus apakan dirimu?" Max kembali fokus pada Aishe. "Dengan siapa kau tidur selama ini?" tanyanya.


"Wow, kau punya kekasih rupanya. Lalu, kenapa dia tidak kemari?" Max menaikkan sudut bibirnya untuk beberapa saat.


"Dia akan kemari."


"Benarkah? Kalau begitu, mari kita tunggu. Kau punya waktu 10 … ah tidak tidak." Nada bicara Max sedikit mengejek. "Kau punya waktu sampai obat itu membuat dirimu tidak tahan!"

__ADS_1


Max mencengkram kedua pipi Aishe, lalu membuatnya menoleh menatap Malva. Desah yang keluar dari bibir gadis itu, serta pemandangan kenikmatan yang tiba-tiba membuat bagian sensitifnya berdenyut. Degup jantungnya berdetak lebih cepat, tetapi dia berusaha menahannya.


Terlalu lemah, aku terlalu lemah. Bahkan untuk berdiri saja, sendiku terasa lesu. Die, jika kau tidak datang, aku benar-benar akan mati.


Aishe sudah hampir mencapai batas, saat samar-samar ia mendengar suara seorang pria yang dia kenal.


"Aku ingin tahu, apa yang membuat Anda menahan kekasihku, Paman Max?"



Siapa nih yang dateng???????


Jeng jeng jeng hemmmmm


Nantikan kejutannya ... nanti malam, eh besok deh ya 🤭🤣🤣🤣


Goyang dulu jempolnya.

__ADS_1


Sajen juga jangan lupa 💋💋


__ADS_2