
"Kau marah padaku, Die?" Aishe memandang Diego yang duduk di tepi ranjang, sedang mengangkat satu persatu kakinya untuk naik.
Pria itu masih memasang wajah datar, bahkan bersikap acuh pada Aishe.
"Die …. Kau mendengarku?" Dia berjalan mendekat, lalu duduk di tepi ranjang, tepat di sebelah Diego yang sudah meluruskan kedua kakinya.
Pria itu memandangnya, kemudian menghela napas kasar. "Tidak," jawabnya dengan singkat.
"Lalu kenapa?"
Diego terdiam lagi, tapi tatapan matanya masih fokus memandang wajah cantik Aishe yang tersorot lampu tidur. Entah kenapa, Diego merasa wajah Aishe terlihat cukup cantik di bawah sorot lampu yang temaram. Dia mengangsurkan tanganya, membelai pelipis, lalu turun ke pipi.
"Apa ada hal buruk yang terjadi? Kamu tidak seperti biasanya." Aishe mencekal tangan kanan Diego yang sempat menyentuh pipinya.
"Aku ingin sebuah pelukan, bisakah kau memelukku?" pinta Diego manja.
Tanpa banyak berpikir, Aishe merentangkan tangannya, dan memeluk kekasihnya itu erat-erat. Keduanya saling diam, tidak ada yang berbicara, bahkan Aishe pun tidak bertanya tentang perubahan sikap Diego yang mendadak.
Lima menit berlalu, Diego melepaskan pelukannya lebih dulu. "Sudah malam, ayo tidur!" ajak Diego mengusap ubun-ubun Aishe, dan menorehkan satu kecupan lembut di keningnya.
Sorot mata Aishe terlihat sangat tenang, dengan seulas senyum yang memikat, dia mengangguk perlahan. Lalu, berpindah posisi di samping Diego, dan tidur dengan bersandar lengannya.
__ADS_1
Sinar mentari yang beberapa hari ini terhalang awan tebal, tiba-tiba mulai terlihat di ufuk timur keesok harinya. Kegagahannya seakan memberi kehangatan bagi penduduk Istanbul. Hari ini pun, BMKG mengumumkan suhu udara sudah perlahan naik, meski begitu, mereka tetap menyuruh para warganya tetap di rumah hingga suhu berada di titik 5 sampai 10 derajat.
Kegiatan Aishe masih sama seperti kemarin, belajar bela diri dan menembak. Namun kali ini, Diego tidak berada di belakangnya, ia justru berdiri di samping, mengamati arah bidikan pistol yang di pegang kekasihnya.
Bunyi senjata kembali terdengar begitu memekik telinga, ditambah lapangan basket tertutup, membuatnya menggema. Namun, suara bising tak membuat Aishe terganggu. Pandangannya justru semakin fokus, menatap papan bidik.
Selain membidik, dia pun sudah semakin ahli menganti peluru dengan cepat. Gerakan tangannya cukup lincah, meski sesekali tangan berjemari lentik itu gemetar tak menentu.
"Jangan tegang, fokus saja pada bidikanmu!" Diego memegang kedua tangan Aishe yang sempat bergetar ketika mengganti peluru.
Latihan hari ini terasa cukup berat bagi Aishe. Selain menembak, dia juga belajar beberapa gerakan bela diri yang lain bersama Ashan. Dia belum terlalu mahir, menembak pun masih belum bisa tepat, bela diri pun masih belum mengerahkan kekuatannya. Namun, Ashan memberinya pujian.
Napas Aishe terdengar menderu, berat, cepat, dan pendek. Bulir keringat di kening gadis itu juga tak kalah banyak dari Ashan. Melihat Aishe sudah kelelahan, Diego datang mendekat, lalu memberinya sebotol air dan mengusap keringat di keningnya.
"Hari ini sudah cukup. Pergilah mandi, aku sudah menyuruh Bibi Nie memanggang bebek."
Sorot mata Diego begitu lembut dan terlihat cukup tenang, padahal, dia tidak pernah memberikan ekspresi demikian jika sedang berada di lapangan tembak. Itu mungkin karena Aishe mengalami kemajuan yang cukup banyak.
Wanita dengan baju olahraga ketat itu mengangguk dan segera pergi membersihkan diri agar bisa segera mencicipi bebek panggang.
__ADS_1
Diego masih duduk di kursinya, menatap punggung Aishe yang berjalan meninggalkan lapangan. Disampingnya, ada Ashan yang berdiri sambil menyembunyikan kedua tangannya di belakang.
"Nona sudah banyak kemajuan. Jika berlatih satu bulan lagi, mungkin dia bisa masuk ke Barak." Ashan menoleh menatap tuannya yang masih fokus melihat Aishe.
"Itu tidak akan cukup melawan Max!"
"Setidaknya nona bisa bertahan sampai Anda datang menyelamatkannya. Atau paling tidak, dia mampu menghadapi Nona Malva."
Diego terdiam untuk sesaat, sampai melihat punggung Aishe menghilang di ujung lorong penghubung.
"Bagaimana kabar Max? Minggu depan rapat penyerahan jabatan, aku tidak kaget kalau dia menyiapkan hadiah untukku." Diego masih berdiri di posisinya.
"Siang tadi saya mendapat kabar, Max menghubungi kedutaan untuk berkunjung sapa. Selain itu, saya juga sudah melihat jadwalnya. Dia akan pergi ke Inggris besok pagi, dengan penerbangan pertama."
Diego mengangkat satu sudut bibirnya. "Hohoho, ada yang tidak tahan sampai pergi melapor pada kakaknya. Baik, kita lihat saja. Asal tidak menyentuh gadisku, aku akan bermain bersamanya dengan senang."
Sepet banget mau UP semalam.
Kasur, selimut, bantalku, udah melambai-lambai 😮💨
__ADS_1
Vote, hadiah, Like, jangan sampe lupa.
Biar bisa sat set das des nulisnya 💕💕