Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 73


__ADS_3

"Nona Malva belum di temukan, apa ada perintah lain, Tuan?" tanya Ashan ketika mengantarkan Diego kembali ke rumah.


"Tunggu Eraz sadar. Sementara ini, biarkan Malva dulu, kerahkan anak buahmu untuk menjaga Aishe," jawab Diego yang fokus menatap ponselnya.


"Oh, perintahkan juga, untuk membersihkan Mansion di Maslak. Juga, persiapkan lapangan tembak besok." lanjut Diego masih memandang ponselnya.


"Untuk apa, Tuan?" tanya Ashan sedikit keheranan, karena tidak mungkin jika Diego yang pergi ke sana. "Anda ingin membawa Nona Aishe kesana?" tebaknya asal.


"Malva cukup nekat, Max juga mengincarnya. Akan lebih baik jika dia belajar sedikit cara menembak."


"Anda tidak takut pistol itu akan berbalik arah?"


Suasana seketika menjadi hening, bahkan suara mesin mobil hampir tidak terdengar sama sekali. Diego menatap langit tanpa bulan dan bintang, hanya ada cahaya lampu yang menerangi di sepanjang jalan. Pikirannya kemudian melayang, menerka jauh beberapa kemungkinan tentang penghianatan.


Orang yang berkhianat pertama kali adalah aku. Tentu saja mentalku harus siap jika Aishe berbalik dan menyerangku di kemudian hari.


Perjalanan pulang kali ini terasa begitu lama, karena beberapa ruas jalan harus kembali ditutup oleh pemerintah. Menurut berita yang beredar, malam ini badai akan turun lagi, bahkan diperkirakan akan cukup lebat dari kemarin.

__ADS_1


"Persiapkan segala kemungkinan. Aku akan melatih bagaimana cara memanah, jika besok cuaca masih cukup dingin untuk berlatih di luar," kata Diego sebelum dia turun dari mobil.


Ashan hanya mampu menghela napas kasar dan menuruti Diego. Bagaimana pun, pria yang sudah lama ia ikuti pasti punya banyak pertimbangan dalam melakukan sesuatu. Kalau pun pistol itu berbalik ke arahnya, Ashan sudah siap menerimanya.


Diego menggerakkan kursinya masuk ke dalam rumah tanpa ditemani Ashan. Ia melirik arloji yang melingkar di tangannya, masih menunjukkan pukul delapan, dia sama sekali tidak kepikiran jika Aishe tertidur lebih awal, sehingga ia memanggil nama kekasihnya itu dengan suara sedikit lantang.


"Ishe … kamu sedang ….?" Diego menghentikan kalimatnya, tatkala netranya mendapati Aishe sedang tertidur dengan pulasnya di sofa.


Dia menarik kedua sudut bibirnya, kemudian menggerakkan kursi roda mendekati kekasihnya. Dari jarak yang cukup dekat, Diego mengamati kekasihnya. Melihat wajah indah yang ia kagumi sedang tertidur dengan nyenyak.


Dia pasti cukup lelah hari ini.


Apa kau tahu Ishe? Setiap kali melihatmu, entah kenapa aku jadi lapar, sangat lapar.


Di bawah lampu yang temaram, Aishe tiba-tiba mengerjapkan matanya perlahan. Menatap wajah Diego yang sedang berjalan, menggendongnya dengan gagah.


"Die …."

__ADS_1


Seketika, jantung Diego berhenti berdegup. Ia terkejut bukan main ketika Aishe membuka mata dan memanggil namanya. Begitu terkejutnya sampai-sampai ia berhenti melangkah.


Dia melihatku berjalan?


Aishe masih terus berkedip, semakin lama intonasinya semakin pelan. Setelah beberapa kali berkedip, dia kembali lelap dalam tidurnya. Diago pun kembali melanjutkan langkahnya pergi ke kamar. Dia meletakkan tubuh Aishe ke ranjang dengan perlahan, memastikan agar dia tidak terbangun.


Salju kembali turun dengan sangat lebat, disertai angin yang berhembus kencang, membawa udara dingin. Diego duduk di tepian ranjang, menatap Aishe yang kembali lelap setelah membuat jantungnya berhenti berdegup beberapa saat.


Pikiran Diego berkecamuk. Memikirkan banyak resiko dan keputusan yang akan dia ambil selanjutnya. Meski ia yakin, Aishe tidak akan membocorkan rahasianya pada siapapun, tetapi dia tetap harus waspada.


Apa yang akan dia lakukan jika Aishe benar-benar melihatnya berdiri dan berjalan?


Akankah ia membunuh kekasihnya seperti rencana awal jika rahasianya terbongkar?



Sat-Set Das-Des Was-Wus.

__ADS_1


Nih udah tambah 1 bab lagi.


Vote dan Hadiah jangan sampai lupa, apa lagi goyangan jempolnya 🤭


__ADS_2