Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 130


__ADS_3

Derap langkah kaki Rehan hampir tak terdengar, lantaran deru tembakan yang menggema di seluruh penjuru bangunan setengah hancur itu. Deru tembakan ini bukannya tak terdengar oleh para tetangga, jelas mereka mendengarnya. Hanya saja, mereka terlalu takut untuk ikut campur, apa lagi memanggil polisi. Bagaimana jika mereka sendiri yang menjadi sasaran nanti?


Namun dari balik ketidak ikut sertaan para tetangga, justru menjadi hal yang menguntungkan dari pihak Diego. Setidaknya, dia bisa menunjukkan sedikit taringnya tanpa takut berurusan dengan pihak berwajib.


Sepuluh orang yang datang bersama Malva sudah menjemput ajal. Kini hanya tersisa beberapa orang yang baru datang dengan amunisi lengkap, sedangkan dari pihak Diego sudah hampir kehabisan amunisi. Beruntung, Rehan datang di waktu yang tepat.


Jari telunjuk pria itu beberapa kali menarik pelatuk, matanya tajam, fokus mengunci target. Sesekali ia melirik sekitar dan berjalan merapat ke beberapa rekannya yang lain.


"Dimana dia? Aku menyuruhmu menjaganya!" Diego meninggikan suaranya saat mendekati Rehan. Wajah Diego terlihat cukup pucat dengan jemari tangan yang masih mengalirkan darah segar.


"Ayah membawanya pergi ke tempat yang aman. Percayalah padanya, Tuan!" Rehan mencoba tetap fokus dan melempar senjata yang ia bawa pada Eraz, kebetulan pria itu paling dekat dengannya.


"Dimana bantuannya? Mereka terus datang, amunisi kita menipis!" Eraz mengerutkan keningnya. Bulir-bulir keringat menetes membasahi bajunya, terlihat jelas, dia sudah mulai lelah.


Tidak ada yang bisa memberi Eraz jawaban pasti. Mereka semua hanya berharap, akan ada bantuan yang memberi mereka amunisi untuk terus bertarung.


Langit malam hari ini cukup cerah, meski sebagian ruangan hancur, tetapi beberapa lampu portabel masih menyala walau dengan cahaya yang temaram.


Peluh sudah membasahi tubuh mereka, bahkan napas Emmil terlihat cukup berat. Wajah Diego juga semakin pucat, entah, berapa banyak darah yang menetes keluar dari tubuhnya. Mereka mencoba tetap bertahan, meski orang-orang dari pihak Max terus berdatangan.



Sampai akhirnya, gemuruh baling-baling sebuah helikopter terdengar. Saat itu Diego hanya bisa berharap, bahwa yang datang kali ini adalah pihaknya.


Segerombolan pria dengan rompi anti peluru menyerbu. Dentum tembakan semakin memekik telinga, bercampur dengan derap langkah kaki mereka yang langsung membabat habis semua pasukan dari pihak Max.

__ADS_1


"Bantuan datang! Bantuan sudah datang!" Eraz berteriak cukup keras. Ekspresi lega terukir jelas di wajahnya, saking bahagianya, dia bahkan menjatuhkan senjatanya dan langsung duduk bersandar tembok yang masih utuh.


Tidak hanya Eraz, Diego pun membuang senjatanya begitu saja di lantai. Pandangannya begitu nanar, melihat segerombolan pasukan itu datang dan membunuh semua anak buah Max tanpa ampun.


Ashan juga tak kalah lega, ia meletakkan senjatanya, mengusap peluh yang membasahi kening, lalu menoleh melihat Guzel.


Wanita itu rupanya bersembunyi di balik reruntuhan sejak tadi. Matanya sudah sangat sayu, bahkan rona lipstik di bibirnya sudah memudar. Namun gadis kuat itu masih bisa menarik sedikit sudut bibirnya dan memandang Ashan.


Setelah semuanya musuh tumbang, seorang pria yang kemungkinan adalah kepala pasukan, memerintahkan mereka untuk berpencar dan berjaga-jaga. Lalu, pria itu datang mendekat untuk meminta maaf pada Diego.


"Jaga anak buahmu! Jangan sampai berita kesembuhan kakiku menyebar!" Titah Diego yang langsung diterima olehnya.


Semua orang disana sudah mati, tidak akan ada saksi yang akan memberikan kabar ini pada Max. Sekarang, hanya tersisa bala bantuan yang dikirim oleh Mustafa saja yang mengetahui hal ini.


"Kau membawa paramedis? Calon istri Ashan terluka disana!" lanjut Diego menunjuk ke arah Ashan yang sedang membopong tubuh Guzel.


Rehan menghampiri Diego dan memapah tubuhnya pergi ke luar menemui para medis. Diluar rupanya sudah ada tiga mobil medis yang siap memberi mereka pertolongan pertama. Mungkin, Mustafa juga meminta orang-orang ini melakukannya.


Guzel langsung dibawa ke dalam mobil untuk mendapatkan pertolongan pertama, salah satunya adalah transfusi darah. Diego pun rupanya sama, dia juga harus segera mendapatkan transfusi. Beruntung, darah mereka tidak tergolong langka, dan para petugas memang sudah mempersiapkan sebelumnya.


"Hubungi Paman Mustafa, tanyakan bagaimana keadaan mereka!" pinta Diego yang sedang berbaring menerima transfusi darah.


"Sudah selamat, Tuan. Salah satu pelayan ayah memberi kabar, Nona Aishe juga sudah mendapatkan perawatan," jawab Rehan yang masih memegang ponselnya, menandakan ia baru saja memakainya.


Diego pada akhirnya bisa menghela napas lega setelah mendengarnya. Semua orang kepercayaannya masih utuh, meski ia harus kehilangan Bibi Nie yang sudah bersamanya sejak kecil. Setidaknya malam ini dia masih mendapatkan kemenangan.

__ADS_1


Setelah mendapatkan kabar tentang istrinya. Diego tiba-tiba mengingat sesuatu, dia sangat yakin jika hadiah itu disiapkan sendiri olehnya. Yah, meski ia harus meminta Ashan untuk mengaturnya agar tidak terlalu menarik perhatian Aishe.


Lantas, dari mana asalnya bom itu?


"Siapa yang menyiapkan kado? Seingatku, Ashan yang bertanggung jawab!"


Ashan yang kebetulan berdiri di depan mobil paramedis, langsung menyahut setelah Diego menyebut namanya. "Benar, Tuan. Aku ingat betul semuanya berjumlah 26 kotak."


Diego mengerutkan kening dan berpikir sejenak. Sangat tidak mungkin bagi Ashan untuk berkhianat padanya. Lantas, siapa?


"Sebenarnya, sebelum datang kemari Ayah menyiapkan satu kado. Namun saat berada di depan area perumahan, ia melihat ibu Anda," sela Rehan.


"Ibu Anda tiba-tiba menitipkan sebuah kado. Ayah kira, Anda memberitahu tentang acara ini, jadi Ayah membawanya tanpa ragu."


Mata Diego langsung berkilat oleh kemarahan. Bibirnya menipis ketika ia mendengarkan ucapan Rehan.


"Apa itu kotak yang dimasukkan ke dalam paper bag berwarna merah?" Guzel sekonyong-konyong mengangkat sedikit kepalanya, melihat semua orang berdiri dengan raut wajah suram.


"Bagaimana kamu tahu?" tanya Rehan sedikit ketus.


"Karena saya yang membukanya!"



Mau gas lagi, mata sepet banget.

__ADS_1


Lanjut besok ya, jangan luoa sajen seperti biasa 😘


Bobok nyenyak malam ini 🤭


__ADS_2