
"Apa Anda ingin memakan sesuatu, Nyonya?" tanya Guzel berjalan menghampiri Aishe yang berdiri di ambang pintu, melihat mobil Diego keluar dari pekarangan.
Mendengar suara Guzel, Aishe lantas menoleh. Menatap raut wajah gadis itu sedikit lebih segar dari kemarin. Mungkin karena Guzel telah ikhlas melepas kepergian Bibi Nie dengan lapang dada.
Sambil menatap Guzel, Aishe terlihat berpikir untuk beberapa saat. Memikirkan hidangan untuk ia makan pagi ini, tapi sayangnya, dia belum bisa menemukan satu menu yang membuatnya tertarik.
"Ayo kita lihat bahan di dapur!" ajak Aishe pergi ke arah dapur.
Dapur itu masih dalam keadaan sama seperti semula. Kompor, oven, perlengkapan memasak, semua masih tertata seperti sedia kala, tidak ada yang berubah. Melihat dapur, dua sudut Aishe pun terangkat. Mengingat momen makan malam pertama mereka, juga pernyataan cinta yang unik.
Tempat ini, memang banyak menyimpan kenangan.
Aishe membuka lemari pendingin, melihat bahan-bahan yang kemarin dibawa oleh Eraz. Setelah melihat isinya, barulah ia menemukan ide untuk membuat beberapa menu sarapan.
"Anda ingin membuat apa, Nyonya?" tanya Guzel melihat Aishe mengeluarkan beberapa bahan.
"Nanti kamu juga tau," ucap Aishe.
Guzel tidak berani bertanya apapun setelahnya. Ia hanya melihat Aishe sibuk memasak, sesekali membantunya menyiapkan bahan atau mengambil beberapa bumbu.
Sampai satu jam berlalu, beberapa hidangan sudah tersaji begitu saja di atas meja. Keterampilan memasak Aishe bahkan mendapatkan tepuk tangan dari Guzel.
"Nyonya, Anda pandai sekali memasak." Guzel terperangah melihat beberapa makanan sudah tersaji di atas meja.
"Tidak, aku tidak sepandai β¦." Kalimat Aishe tiba-tiba tertahan saat mengingat jika Bibi Nie sudah meninggal, dan yang tersisa hanya kenangannya.
__ADS_1
"Sepandai ibuku," lanjutnya mencoba mengalihkan pembicaraan. "Ayo duduk, kita makan sama-sama."
Dua sudut bibir Guzel terangkat, dia mungkin tahu, jika Aishe sedang membicarakan ibunya. Namun alih-alih larut dalam kenangan, Guzel lebih memilih untuk membiarkan kenangan itu mengalir dan mewarnai hari-harinya. Sama seperti Aishe, yang juga melakukan hal yang sama pada hidupnya.
Selesai sarapan, Guzel terlihat mencuci piring sedangkan Aishe mengemas beberapa lauk yang dia masak untuk sang suami. Dia berencana datang ke kantor dan memberikan bekalnya secara langsung.
Namun, suara bel pintu tiba-tiba terdengar nyaring, membuat keduanya menoleh ke satu sama lain.
"Mungkin itu Bibi Banu. Saya akan membukanya, Nyonya," ucap Guzel yang langsung membuat Aishe mengangguk.
Guzel berjalan ke arah pintu, dan Aishe kembali sibuk dengan bekal untuk sang suami, saat tiba-tiba pintu rumah itu terbuka.
Guzel terhenyak sesaat, melihat pintu itu terbuka, dan seorang wanita paruh baya berjalan masuk ke dalam dengan sedikit angkuh penuh wibawa.
Selain itu, dua pengawal, ada juga wanita tua yang dipanggil Bibi Banu. Serta seorang pria tua dan wanita muda seumuran dengan Guzel.
"Dimana dia?" tanya Mirey ketus.
"Di dapur, Nyonya Besar," jawab Guzel gugup.
Guzel sangat ingin melindungi Aishe, namun dia sendiri tidak punya nyali untuk berhadapan langsung dengan Mirey.
Wanita berambut pirang itu berjalan dengan high heels pendeknya ke arah dapur, melihat Aishe sedang sibuk, dia pun berdecak dan membuat menantunya menoleh.
__ADS_1
"Ibβ Nyonya," ucapnya lirih saat melihat mertuanya sedang bersedekap tangan sambil berdecak.
"Kau, kemari!" serunya sedikit lantang, lalu berjalan ke arah ruang keluarga dan duduk di sofa.
Aishe tidak dapat berkata-kata pada saat itu. Dia langsung melepas celemek, lalu mendatangi Mirey.
"Kenapa berdiri? Duduklah!" tegas Mirey menatap nanar sang menantu, seolah tak suka
Dua orang masih saling menatap, saat Guzel dengan cepat mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Ashan. Pria yang ternyata sedang berjalan ke Mansion Gulbar, pun langsung menghubungi Diego.
"Apa? Dia kesana?" Diego yang baru saja memimpin rapat langsung bangkit dari kursi rodanya.
Buru-buru ia mengambil jas dan kunci mobil, lalu berlari secepat mungkin menuju tempat parkir. Tindakannya ini, tentu saja membuat beberapa mata tercengang kaget, terutama Rehan yang kebetulan berpapasan dengannya.
Namun Diego tidak punya waktu untuk menjelaskan. Dia berusaha secepat mungkin untuk pulang, memastikan agar Mirey tidak berbuat macam-macam pada istrinya.
...βTBCβ...
Selamat untuk para pemenang ππ
Harap segera menghubungi Author lewat DM IG @Kaykha_kay
__ADS_1
Yang belum Follow, hayo ... segera Follow
Hari ini agak riweh, jadi belum bisa UP yang lain. Hari ini sampai disini dulu. Terima Kasih sudah membaca ππππ